Puji Syukur kepada Tuhan, Yoga garden, jl Bungur 6, Depok Lama, di rumah pak Adolf Posumah, telah dibuka untuk pertama kali, pada jam 10.15 hari rabu tanggal 17 Aug 2011, dihadiri oleh: mas Alie, mas Andre [instruktur], pak Adolf Posumah, pak Martin Lamongi, pak Enggano Anwar, mas Irwan, Ady Subagya, Eric Posumah, Yudi, Sam Hok, mas Andi Soetjipto dan Harry "uncommon" [instruktur], total 12 orang.
Yoga garden, konsep yoga relaksasi di halaman rumah/taman rumah [outdoor] terdiri dari 30% filosofi work & life balance dan 70% gerakan asana [pernafasan, senam, massage dan meditasi]. Saat ini yoga garden dilakukan secara private, pls contact: 0821.3147.7119 for appointment/exercise at your place [Harry Depok]
Keseimbangan adalah sumber kedamaian dan ketenangan hidup, ia diatas keberhasilan. Lima [5] bidang hidup: faith, family, finance, friends dan fit minimal harus dikelola seimbang setiap hari. Tuhan mempercayakannya penuh kepada manusia [Refleksi diri harry purnama]
Rabu, 17 Agustus 2011
Sabtu, 13 Agustus 2011
yoga garden
Yoga garden
Yoga di Yoga garden adalah olah raga, bukan ritual agama tertentu. Di dalamnya ada senam, pernafasan dan massage relaksasi, meditasi dan wisdom sharing secara informal, casual dan kekeluargaan.
Yoga garden adalah konsep baru beryoga relaksasi secara outdoor di halaman rumah atau kebun rumah yang dekat dengan alam, di atas rumput atau lantai batu seperti di taman, untuk keseimbangan hidup, ketenangan pikiran, kesehatan badan dan ketentraman jiwa. Baik untuk laki dan wanita dewasa, segala umur, yang ingin escape dari kepenatan kota dan olah raga fisik yang terlampau berat, menginginkan gaya hidup sederhana dan tinggal di sekitar Depok/Lenteng Agung/Ragunan/Cimanggis/Cinere/Sawangan/Cibinong/Bogor. Lokasi latihan saat ini dilakukan secara private, Instruktur: Harry Depok. Hub. 0821.3147.7119 for details.
Yoga di Yoga garden adalah olah raga, bukan ritual agama tertentu. Di dalamnya ada senam, pernafasan dan massage relaksasi, meditasi dan wisdom sharing secara informal, casual dan kekeluargaan.
Yoga garden adalah konsep baru beryoga relaksasi secara outdoor di halaman rumah atau kebun rumah yang dekat dengan alam, di atas rumput atau lantai batu seperti di taman, untuk keseimbangan hidup, ketenangan pikiran, kesehatan badan dan ketentraman jiwa. Baik untuk laki dan wanita dewasa, segala umur, yang ingin escape dari kepenatan kota dan olah raga fisik yang terlampau berat, menginginkan gaya hidup sederhana dan tinggal di sekitar Depok/Lenteng Agung/Ragunan/Cimanggis/Cinere/Sawangan/Cibinong/Bogor. Lokasi latihan saat ini dilakukan secara private, Instruktur: Harry Depok. Hub. 0821.3147.7119 for details.
Minggu, 19 Juni 2011
OPINI TENTANG SUKSES
![]() |
| "Orang mengantri untuk sukses di level pertama" |
SUKSES DI LEVEL PERTAMA
Bagi kebanyakan orang, sukses sering diartikan sekitaran bundaran: punya ini, punya itu, bisa ini, bisa itu, meraih ini, mencapai itu, melakukan sesuatu yang hebat-hebat yang orang lain tidak atau belum bisa lakukan, mencapai sasaran karir, target sales atau dreams. Semuanya itu tidak salah. Ia disebut sebagai achievement atau sukses di level pertama.
Contoh dari mindset sukses level pertama ini adalah orang berlomba-lomba ingin sukses, terkenal dan kaya. "Jika saya bisa meraih omzet 1 M sebulan, saya sukses," "saya merasa sukses, jika berhasil menjuarai maraton 42 K," "ketika saya berhasil mendapatkan si cantik idaman hati," "jika saya dipromosikan jadi direktur tahun ini," "jika saya bisa pergi ke luar negeri gratis," atau "jika anak saya berhasil mencapai ranking pertama di sekolah." dst.
Contoh lain, negeri Cina adalah negeri dimana semua mata sedang memandanginya. Cina sedang bekerja lebih lama, lebih banyak, lebih cepat dan lebih murah. Cadangan devisanya mencapai 2.6 triliun US dollar. Pertama, untuk rakyatnya, kedua untuk warga dunia. Kontribusi positif Cina tsb berhasil menarik Komite Ekonomi Nasional [KEN] yang diketuai Chairul Tanjung untuk datang belajar spirit transformasi Cina. Chairul belajar "Yang pertama, bangsa kita harus jadi bangsa yang bekerja keras. Maaf saya katakan, bangsa kita ini agak malas karena gemah ripah loh jinawi. Kita harus ubah mindset-nya menjadi bangsa yang bekerja keras," katanya. Ia juga katakan, "Jangan cepat berpuas diri. Angka pertumbuhan ekonomi 6,4 persen tahun ini itu tinggi, tapi tak cukup tinggi untuk menyejahterakan bangsa. Oleh karenanya, kita harus lebih bekerja keras, lebih ulet, lebih tekun, inovatif, lebih kreatif agar pertumbuhan bisa lebih dari 7-8 persen," tandasnya.
Mindset sukses level pertama, melahirkan slogan modern "saya BISA", "kita BISA" "kamu BISA," "saya lebih dari pemenang." Sukses didekatkan dengan winning atau pencapaian. Mindset sukses level pertama ini, tidaklah salah, meski banyak sekali orang-orang di sekitar kita, yang sedang berlari-lari menuju dan membentuk dirinya ke arah ini.
SUKSES DI LEVEL KEDUA
Tak harus menjadi sufi atau sama seperti Dalai Lama untuk mengalami kebahagiaan hidup. Hidup yang bermakna dan membahagiakan orang lain, bisa kita alami di rumah kita, di pekerjaan kita, di persahabatan kita hari ini. Hanya, nampaknya, level sukses ini lebih tinggi dari pada level pertama. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari keadaan kita hari ini, dari apa yang kita kerjakan, dari apa yang kita pikirkan dan dari apa yang kita katakan.
Tahap ini adalah perjalanan kita menuju sukses ke dua [second journey, second happiness]. Elemen hakikinya,adalah segala yang dicapai hari ini haruslah memberi "manfaat" sebanyak-banyaknya bagi orang lain yang kita layani, yang kita abdi dan yang kita doakan, tanpa pembatas ras, suku, agama, pendidikan. Entah ia sebagai staf membukukan kredit di bank, penyelia produksi di pabrik mobil, atau guest relation officer di hotel bintang 4, orang di level ini akan mengawali pekerjaannya dengan pertanyaan: "Apa kontribusiku bagi sesama melalui pekerjaanku ini..?" Sukses di level kedua ini, biasanya dinilai oleh orang lain, bukan dirinya sendiri.
Kesadaran baru ini menuntun jalan-jalan manusia sukses ke level sukses yang lebih tinggi, yaitu masuk pada dialog personal yang dalam. Orang bijak menyebutnya sebagai "inner-journey" atau "meaningful self talk."
"Aku akan sumbangkan 30-50% dari uangku untuk orang miskin di Afrika & Asia dan anak jalanan di Amerika," Bill Gates dan Warren Buffet.."Aku akan dedikasikan seluruh hidupku untuk pendidikan dan kesejahteraan para tuna netra di negara berkembang," Helen Keller.
"Aku akan buat ayam goreng terenak di dunia," kontribusi Colonel Sanders.
"Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan melawan kekerasan dengan kelembuatn," Gandhi.
"Aku akan tinggalkan universitas mentereng ini dan bekerja langsung turun lapangan bersama ibu-ibu buta huruf yang miskin di negeriku" Muhammad Yunus Grameen Bank, Bangladesh.
"Kami akan buat mobil-mobil terbaik, tahan banting, irit dan murah," Sakichi Toyoda yang lahir 1867 dengan Toyotanya.
"Apa yang dapat aku sumbangkan lebih baik lagi bagi dunia?" Einstein.
"Life is not just about the leg, but the heart" Lance Armstrong.
"Saya tak akan menyerah melawan agresi Belanda." Jenderal Sudirman ketika di Jogyakarta tahun 1948 dst.
Sukses level kedua, melahirkan jargon modern, "buatlah manfaat bagi sebanyak mungkin orang," atau "ketika kita meninggalkan dunia, dunia menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih damai."
4 Prinsip Work & Life Balance
4 Prinsip Work & Life Balance
Tuhan menyediakan keseimbangan alami diantara manusia, alam semesta dan diriNya [law of life balance]. Semua ketidakseimbangan, diciptakan oleh manusia sendiri. Manusialah yang bertanggung jawab atas ketidakharmonisannya sendiri. Manusia menciptakan dikotominya sendiri, sukses - tidak sukses, bahagia-tidak bahagia, baik - tidak baik, enak - tidak enak. Tuhan tidak menciptakan dikotomi itu. Tuhan ingin semua manusia sukses, bahagia, baik dan enak. Manusia telah lebih banyak bekerja dengan pikirannya sendiri, melupakan peran hati dan jiwanya. Siapa yang telah merusakkan keseimbangan?
Berikut ini 4 Langkah Fundamental mengembalikan keseimbangan Anda pada tempatnya semula:
1. Menemukan panggilan hidup:
Stress & frustrasi muncul, akibat dari tidak jelasnya panggilan hidup yang benar.Hidup hanya diukur dengan uang dan materi, padahal tidak ada kebahagiaan yang sesungguhnya di dalamnya. Refleksi: lakukan self-talk dan temukan kembali true inner call yang benar mengapa dan kemana Anda hidup? Kemudian, ubahlah cara pandang dan cara hidup Anda. Buatkan skala prioritas yang benar berdasarkan panggilan yang benar, sejati, genuine. Tinggalkan gaya hidup yang tidak sesuai lagi dengan panggilan Anda, maka Anda akan menemukan keseimbangannya kembali. Setelah Anda menemukan "higher purpose" Anda, maka bagai rajawali, Anda akan terbang tinggi, tetapi tidak jatuh. Anda akan lebih tahan terhadap godaan, ujian dan hambatan.
2. Semua hari sama pentingnya:
Keseimbangan bukan soal waktu, tetapi di dalam pikiran dan jiwa Anda. Jika Anda masih berpola Senin-jumat vs sabtu-minggu, selama itu pula Anda tidak akan bisa membuat sabtu-minggu sama adilnya dengan senin-jumat. Semua hari adalah sama nikmatnya. Tidak ada lagi mindset bahwa hari sabtu-minggu adalah waktu yang paling berkualitas dan bebas dari pada hari senin-jumat. Anda harus membuat senin-minggu adalah sebuah kesatuan totalitas waktu yang berkualitas, baik untuk karir, keluarga, ibadah dan sosial, termasuk hobi. Buanglah zona waktu yang Anda buat sendiri. Itu tidak ada. Buatlah dan nikmatilah hari senin-jumat sama nikmatnya dengan hari sabtu-minggu, maka Anda akan menemukan keseimbangannya kembali. Anda akan lebih merasa adil dan seimbang dalam banyak hal. Hidup Anda akan bagaikan langit biru yang tiada sekat-sekatnya, hanya ada awan-awan dan cahaya.
3. Mengelola semua dalam satu:
Stress timbul saat Anda memisah-misahkan ke lima bidang hidup manusia Anda. Sekat-sekat itu a.l. dikotomi antara kerja dan keluarga, antara kerja dan sosial, antara kerja dan ibadah dst. Dengan mindset seperti ini, 24 jam waktu Anda tak akan pernah cukup. Tinggalkan dikotomi yang nampaknya benar, padahal keliru. Semua hal yang Anda lakukan adalah totalitas dari semua segi hidup Anda. Hidup Anda tidak bisa dipecah-pecah kerja dan ibadah, kerja dan keluarga. Lakukanlah semua ke 5 segi hidup Anda [Faith, Finance, Family, Friends, Fit] pada saat yang sama, di hari yang sama. Kerja adalah untuk keluarga dan untuk sosial, dan itu adalah ibadah Anda yang sejati. Ketika Anda bekerja dengan membantu rekan kerja dengan sebaik-baiknya, Anda sedang beribadah. Ketika Anda bekerja, lalu berbicara dengan anak Anda di rumah, itu juga ibadah. Ketika Anda bekerja, lalu Anda bersedekah di kantor dan mengikuti aksi donor darah, itu adalah ibadah. Ketika Anda bekerja, lalu saat jam istirahat Anda melakukan hobi kesukaan Anda, itu juga ibadah, selain menyenangkan hati dan stress release bagi Anda. Hidup Anda akan berubah seperti sungai ibadah yang mengalir, tidak ada bebatuan yang mampu menahannya lagi. Teruslah mengalir seperti sungai, bebas dan leluasa, tanpa penjara dan benteng-benteng.
4. Menjalani hidup yang sederhana:
Kekecewaan dan kekuatiran biasanya muncul, karena Anda menaruh harapan dan impian terlalu tinggi. Jika Anda masih ingin mempertahankan irama hidup meninggi seperti itu, Anda harus tahan terhadap goncangannya. Itu pilihan Anda. Jika Anda merasa sudah tidak tahan lagi dengan tekanannya dan hambatannya, seolah kepala Anda mau pecah, turunkan irama hidup Anda. Itu pilihan Anda. Anda diberi hikmat, wisdom, untuk mengatur irama hidup Anda sendiri. Indahnya adalah, semakin sederhana kita menjalani hidup, ternyata ada banyak kenikmatan, ketenangan batin dan ketenteraman hati, yang tidak kita temukan di dalam hidup yang serba "complicated," hidup yang penuh kepura-puraan, hidup yang dibuat-buat, hidup yang dipersulit. Sederhanakanlah hidup Anda, maka Anda akan menemukan segala kedamaiannya. Jika Anda berhasil menemukan kedamaian dalam hidup Anda, maka Anda akan lebih kuat menanjaki bukit yang lebih tinggi lagi.
www.mature-leadership.com
Tuhan menyediakan keseimbangan alami diantara manusia, alam semesta dan diriNya [law of life balance]. Semua ketidakseimbangan, diciptakan oleh manusia sendiri. Manusialah yang bertanggung jawab atas ketidakharmonisannya sendiri. Manusia menciptakan dikotominya sendiri, sukses - tidak sukses, bahagia-tidak bahagia, baik - tidak baik, enak - tidak enak. Tuhan tidak menciptakan dikotomi itu. Tuhan ingin semua manusia sukses, bahagia, baik dan enak. Manusia telah lebih banyak bekerja dengan pikirannya sendiri, melupakan peran hati dan jiwanya. Siapa yang telah merusakkan keseimbangan?
Berikut ini 4 Langkah Fundamental mengembalikan keseimbangan Anda pada tempatnya semula:
1. Menemukan panggilan hidup:
Stress & frustrasi muncul, akibat dari tidak jelasnya panggilan hidup yang benar.Hidup hanya diukur dengan uang dan materi, padahal tidak ada kebahagiaan yang sesungguhnya di dalamnya. Refleksi: lakukan self-talk dan temukan kembali true inner call yang benar mengapa dan kemana Anda hidup? Kemudian, ubahlah cara pandang dan cara hidup Anda. Buatkan skala prioritas yang benar berdasarkan panggilan yang benar, sejati, genuine. Tinggalkan gaya hidup yang tidak sesuai lagi dengan panggilan Anda, maka Anda akan menemukan keseimbangannya kembali. Setelah Anda menemukan "higher purpose" Anda, maka bagai rajawali, Anda akan terbang tinggi, tetapi tidak jatuh. Anda akan lebih tahan terhadap godaan, ujian dan hambatan.
2. Semua hari sama pentingnya:
Keseimbangan bukan soal waktu, tetapi di dalam pikiran dan jiwa Anda. Jika Anda masih berpola Senin-jumat vs sabtu-minggu, selama itu pula Anda tidak akan bisa membuat sabtu-minggu sama adilnya dengan senin-jumat. Semua hari adalah sama nikmatnya. Tidak ada lagi mindset bahwa hari sabtu-minggu adalah waktu yang paling berkualitas dan bebas dari pada hari senin-jumat. Anda harus membuat senin-minggu adalah sebuah kesatuan totalitas waktu yang berkualitas, baik untuk karir, keluarga, ibadah dan sosial, termasuk hobi. Buanglah zona waktu yang Anda buat sendiri. Itu tidak ada. Buatlah dan nikmatilah hari senin-jumat sama nikmatnya dengan hari sabtu-minggu, maka Anda akan menemukan keseimbangannya kembali. Anda akan lebih merasa adil dan seimbang dalam banyak hal. Hidup Anda akan bagaikan langit biru yang tiada sekat-sekatnya, hanya ada awan-awan dan cahaya.
3. Mengelola semua dalam satu:
Stress timbul saat Anda memisah-misahkan ke lima bidang hidup manusia Anda. Sekat-sekat itu a.l. dikotomi antara kerja dan keluarga, antara kerja dan sosial, antara kerja dan ibadah dst. Dengan mindset seperti ini, 24 jam waktu Anda tak akan pernah cukup. Tinggalkan dikotomi yang nampaknya benar, padahal keliru. Semua hal yang Anda lakukan adalah totalitas dari semua segi hidup Anda. Hidup Anda tidak bisa dipecah-pecah kerja dan ibadah, kerja dan keluarga. Lakukanlah semua ke 5 segi hidup Anda [Faith, Finance, Family, Friends, Fit] pada saat yang sama, di hari yang sama. Kerja adalah untuk keluarga dan untuk sosial, dan itu adalah ibadah Anda yang sejati. Ketika Anda bekerja dengan membantu rekan kerja dengan sebaik-baiknya, Anda sedang beribadah. Ketika Anda bekerja, lalu berbicara dengan anak Anda di rumah, itu juga ibadah. Ketika Anda bekerja, lalu Anda bersedekah di kantor dan mengikuti aksi donor darah, itu adalah ibadah. Ketika Anda bekerja, lalu saat jam istirahat Anda melakukan hobi kesukaan Anda, itu juga ibadah, selain menyenangkan hati dan stress release bagi Anda. Hidup Anda akan berubah seperti sungai ibadah yang mengalir, tidak ada bebatuan yang mampu menahannya lagi. Teruslah mengalir seperti sungai, bebas dan leluasa, tanpa penjara dan benteng-benteng.
4. Menjalani hidup yang sederhana:
Kekecewaan dan kekuatiran biasanya muncul, karena Anda menaruh harapan dan impian terlalu tinggi. Jika Anda masih ingin mempertahankan irama hidup meninggi seperti itu, Anda harus tahan terhadap goncangannya. Itu pilihan Anda. Jika Anda merasa sudah tidak tahan lagi dengan tekanannya dan hambatannya, seolah kepala Anda mau pecah, turunkan irama hidup Anda. Itu pilihan Anda. Anda diberi hikmat, wisdom, untuk mengatur irama hidup Anda sendiri. Indahnya adalah, semakin sederhana kita menjalani hidup, ternyata ada banyak kenikmatan, ketenangan batin dan ketenteraman hati, yang tidak kita temukan di dalam hidup yang serba "complicated," hidup yang penuh kepura-puraan, hidup yang dibuat-buat, hidup yang dipersulit. Sederhanakanlah hidup Anda, maka Anda akan menemukan segala kedamaiannya. Jika Anda berhasil menemukan kedamaian dalam hidup Anda, maka Anda akan lebih kuat menanjaki bukit yang lebih tinggi lagi.

Sabtu, 18 Juni 2011
Sorga dekat dan jauh
“ Ketika mana Tuhan terasa jauh? Saya mendapati, bukan saat doa-doa tak terjawab, namun ketika dunia dan manusia kacau balau hidupnya, saat itulah manusia merasa sendiri dan kosong. Tanda-tanda Tuhan hadir kembali, berlimpahnya kasih sayang, terjaganya keteraturan, terpeliharanya keseimbangan dan semuanya itu menuju rasa damai dan perasaan tenang“ [Refleksi diri Harry "uncommon" Purnama]
Di belahan bumi mana yang orang tak berlari-lari mencari-cari 2 pusat kekuasaan dan kenikmatan, Sorga atau surga atau jannah dan uang? Sorga dirajai oleh Tuhan Yang Maha Agung, uang dirajai oleh iblis yang maha jahat. Kedua kerajaan ini akhirnya membentuk peradaban 2 etape hidup manusia. Etape pertama, hidup hanya untuk mencari sang uang. Segala hal dihalalkan demi uang, muncullah istilah UUD, ujung-ujungnya duit. Di sini orang mengorbankan kesehatan dan harga diri untuk mencari uang. Terbentuklah etape ini menjadi hunian nyaman orang-orang muda dibawah 50 tahun. Mereka digambarkan dengan glamour berlimpahnya harta benda, jabatan dan wanita. Kata mereka:"Sorga, itu mah urusan nanti kalau sudah tua.." Diskusi yang berkembang diantara mereka ujungnya adalah "Sudahlah gak usah sok suci loe, sikat aja, masih ada waktu untuk bertobat kok, entar aja kalau mau mati..!"
Di etape kedua, hidup berubah, ujung-ujungnya Sorga [UUS]. Orang mulai mengorbankan uang dan hartanya demi mencari kesehatan dan harga dirinya kembali. Etape ini kemudian terbentuk sendiri secara alami, yang penghuninya adalah orang tua diatas 50 tahun, termasuk kelompok manula. Itulah mengapa orang bijak selalu digambarksn sebagai lelaki tua berjenggot membawa tongkat. Mereka pikir, Sorga itu dekat dengan masa tua, jauh dari masa muda. Persoalan timbul, ketika sudah tua, yang diharapkan melakukan perbuatan Sorga, masih membawa-bawa kebiasaan lamanya, menghamba kepada sang uang. Lalu muncullah pemeo "tua-tua keladi, makin tua makin menjadi." Apakah benar, Sorga itu dekat di masa tua saja?
Siang itu, dua orang teman setengah baya, berdiskusi sangat serius dan sangat lama, 3 jam lebih. Mereka sama-sama sepakat untuk mencari Sorga dengan tetap menjadi duda yang tidak mau dan juga tidak kepingin menikah lagi. Alasan yang mereka diskusikan, pertama, tak mau terus-menerus melukai sang istri yang telah tiada. Dahulu di masa muda. mereka telah cukup menyakiti istri-istri mereka, saat masih serumah setempat tidur. Mereka takut kebagian neraka. Kapan dan ketika apa neraka dekat dengan manusia? "Ketika Tuhan terasa jauh, seperti nyanyian Ebit G Ade," kata seorang teman. Bagaimana kita tahu Tuhan itu jauh? Teman yang satu menimpali: "tandanya, doa kita rasanya hampa, hidup terasa kok mandeg, kekerasan dan kejahatan meningkat dimana-mana, pelanggaran aturan menjadi hal biasa dan dibenarkan dan terpenting, ketika uang menjadi raja baru bagi manusia."
Kedua teman lalu berfikir, sekaranglah waktunya melakukan penebusan kesalahan masa lalu dengan menjaga kelakuan dan pikiran secara ketat mirip sufi atau resi atau begawan agar mendekati Tuhan. Saking berhati-hatinya, sampai salah satu teman bergumul sendiri cukup lama, hatinya bergejolak, pikirannya tidak bisa tenang, apakah keputusannya tidak re-marriage itu benar? Ia sudah konsultasi dengan seorang Romo top yang sudah sangat teruji, telah menjalani hidup tak beristri dan tak melakukan sekecil apapun kegiatan seksual, termasuk masturbasi. Romo dengan bijak menjawabnya: "Pilihan di jalan ini sangatlah berat bagi manusia awam, saya telah melalui proses pergumulan yang sangat panjang secara pribadi untuk akhirnya berani menanggung keputusan yang tidak populer ini. Tapi, Tuhan itu Maha Agung buat saudara. Pilihan ada di tangan saudara." Teman itu kebingungan dengan arah jawaban sang Romo yang melayang seperti itu, apakah benar atau tidak untuk terus membujang paska istri tiada? Sampai hari ini, itu tetap jadi pergumulan doanya.
Hidup adalah pilihan dan perjuangan. Setelah memilihnya harus memperjuangkannya. Tak ada yang mudah, apalagi tentang hal kedagingan ini. Menikah memang karunia, tak menikah juga karunia. Tetap tak menikah, juga karunia. Sama halnya dengan kehidupan adalah mukjizat, begitu juga kematian dan sorga juga keajaiban. Beberapa teman percaya bahwa neraka itu tak ada, yang ada hanyalah manusia berdosa hanya berhenti di liang kubur, selesai titik. Yang berbudi baik, mereka terus berjalan ke kehidupan kedua, menuju Sorga. Apakah ke dua teman tadi mendekati Sorga, saya sungguh tak tahu.
Ternyata sejauh ini keduanya berhasil untuk tidak menikah lagi. Itu memang teramat sulit bagi lelaki yang kini keduanya masih berambisi mengumpulkan uang melalui bisnis mereka masing-masing. Yang satu pebisnis dan yang satunya juga entrepreneur. Tambah sulit dan mendebarkan, karena mereka sadar betul bahwa satu hal yang sesungguhnya paling dicintai oleh manusia, jika jujur, itu adalah uang, bukan pasangan, bukan anak, bukan pula keluarga apalagi Tuhan yang tak nampak. Paradoks Sorga dan neraka siang itu hadir di benak teman-teman itu yang sedang berdiskusi tentang wisdom menduda.
Saya tak bisa merasakan apa yang mereka rasakan kehidupan sepi sebagai duda, karena belum mengalaminya. Namun, apa yang keluar dari refleksi ini adalah mereka sama-sama berkeinginan memasuki etafe hidup tahap dua, menyendiri dan menyepi, layaknya manusia pensiunan, tak punya ambisi dunia. Menyendiri dan memisahkan diri dari ikatan dunia dan hiruk pikuk bisnis, apalagi salah satu teman sudah berulangkali ditipu oleh rekan bisnisnya. Arah baru yang ditempuh adalah ketertiban, keseimbangan dan keteraturan.
Diskusi pun terus berlanjut di ruang tengah menghadap kolam ikan dan taman. Mereka menyimpulkan satu hal dan saya sepakat adalah "kebahagiaan hanya haknya orang biasa yang paling sederhana. Bukan selebriti politisi, bukan para bos dan cukong atau bandar orang kaya, apalagi orang yang tengah hidup dalam kehidupan yang pura-pura benar atau complicated life.." Teman tadi berujar :"hidup yang paling nikmat adalah hidup yang di pinggiran, bukan ditengah-tengah." Ayat-ayat tua membisikkan suara teduhnya di telinga kami, "Lebih sulit seekor unta masuk ke lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Sorga." Hmm betapa jauhnya Sorga itu? Apakah benar hanya sedikit yang bisa masuk Sorga?
Kedua, mereka sama-sama takut jika ditanya oleh istrinya kelak ketika bertemu di Sorga, "Lho papa bawa istri baru? Kita bertiga ya disini? Katanya sehidup dan semati..pa..!!" Mereka tak siap dengan alasan apa lagi. Apalagi mereka berdua sukses karena peranan sang pendamping setia. Istri, meski bagi banyak suami, kadang menyebalkan karena banyak permintaan dan keinginannya, tapi tetap saja ketiadaannya secara fisik, membuat suami stress di kala kesepian tidur malam sendiri. Kesepian dan kesendirian tetap saja sulit diatasi ketika sedang seorang diri di kamar. Foto istri dan bajunya serta sepatunya masih sulit diturunkan atau dikoperkan dari tempatnya. Kenangan itu masih membayangi sosok suami-suami yang sendiri. "Biarkan foto itu disana, wong indah, itu khan jadi obat kangen saya.." ujar satu teman yang sudah lebih 15 tahun menduda.
Berangkat dari keyakinan bahwa Sorga adalah anugerah, mereka tetap tak bisa yakin bahwa cinta mereka di Sorga kelak terbagi ke dua istri. Bagaimana mempertanggung jawabkan kelakuan itu kepada Tuhan dan MalaikatNya? Apakah Tuhan bisa menerima suami yang memboyong para istri ke SorgaNya? Apakah disana ada keluarga? Itu pertanyaan masih belum terjawab tuntas. Sama peliknya dengan pertanyaan, jika Tuhan benar Maha Adil lagi Maha Penyayang, mengapa juga ada neraka sepanjang masa? Mengapa Tuhan menyiksa manusia selama-lamanya?
Namun, siang itu diskusi menjadi ringan, karena salah satu teman melontarkan pepatah kuno: "bukan hanya Sorga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi Sorga juga ada di dalam doa-doa ibu dan Sorga dekat dengan kesederhanaan." Karena di dalam pengabdian anak kepada ibunya, kasih sayang suami kepada istrinya [ibu], kuasa doa ibu untuk kesuksesan anak-anaknya dan di dalam kesederhanaan itu, Tuhan sesungguhnya yang dibesarkan, bukan sang manusia.
Teman tadi lantas ingat ayat-ayat tua nan bijak : "dimana hartamu berada, disitulah hatimu berada, dimana hatimu berada disitu Sorgamu berada." Lalu Sorga Mulia itu menjadi dekat dengan manusia yang memposisikan hatinya bukan kepada harta benda, melainkan menjauhi dunia dan segala isinya ini. Dikotomi pilihan menjadi hanya dua, mendekatkan hati kepada harta dan uang atau mendekatkan hati kepada Tuhan. Ada benarnya, mengapa di dalam kesederhanaan bahkan kemiskinan sekalipun, lalu diyakini ada banyak gambaran Sorga disitu. Sorga teramat dekat dengan kesederhanaan, pemisahan diri dari kemelekatan dunia.
Apakah jalan ke Sorga itu sempit? Tak heran, para begawan atau sufi memilih jalan sempit dan sepi dengan mengosongkan dirinya, agar benar-benar dekat kepada sang Maha Besar. Semakin mulia seseorang, ternyata semakin merendahlah ia. Orang besar sering masih diukur dengan kepemilikan. Beruntunglah dan berbahagialah orang yang merasa dirinya miskin dan tak punya apa-apa. Hanya dengan keadaan kosong, hampa, zero itulah Sorga berada dekat sekali. Patahlah khayalan dan keyakinan, bahwa orang hanya melihat Sorga jauh di atas langit dan di awan-awan. Sorga ternyata, ada di bumi ini, ia dekat dengan kesederhanaan dan kehampaan. Beberapa ayat-ayat itu mengatakan : "Sorga ada di dalam hati kita, tidak jauh-jauh. Setiap orang berhak akan Sorga." Jika demikian, berapa banyak orang yang bisa merasakan Sorga? Apakah kita masih perlu menyombongkan diri lagi dengan kepemilikan kita yang kita kuasai hari ini? Kedua teman tadi mengakhiri diskusinya dengan nyanyian wisdom yang ujungnya, Sorga itu tak jauh, ia ada di hati dan di pikiran. Pemeo ini menjadi benar :"mari ciptakan sorga di pikiran."
Silahkan Anda teruskan sendiri-sendiri.
============================================================
Sajak : Ibuku
Ibuku, guruku di kehidupan dunia
Ibuku, suaramu menghiasi Sorga
Ibuku, kutemukan Sorga dalam doamu
lukisanmu di pikiranku
rumahmu di jiwaku
kegembiraanmu di hatiku
impianmu di kepalaku
kebaikanmu di tanganku
keuletanmu di kakiku
kehormatanmu di rambutku
kejujuranmu di keningku
kehidupanmu di jantungku
kasih sayangmu di mataku
nafasmu di paru-paruku
meski kini telah sepi
engkau tetap meninggalkan kenanganmu di airmataku
engkau tetap memberikan lambaianmu di kesunyianku
berjalanlah terus Ibuku
beribu Bidadari Sorga sepertimu menunggumu
sampai dosa tak ada lagi di perjalananmu
meski kini hanya nisanmu disini
============================================================

Langganan:
Komentar (Atom)


