Morning meditation around water

Sabtu, 12 Januari 2013

Pengantar The balance [WLB]

"Work & life balance is a join effort of  the mind, the universe and the wisdom"  kesimpulan ini pendek tetapi sedikit dalam.

Big picture
Any balance, kita kenal sebagai  "keseimbangan"  nampaknya dimulai dari karya pikiran. Tetapi Anda juga bisa beranggapan bahwa the balance [keseimbangan] adalah hadiah dari alam semesta.  Di sebelah sana mengatakan, the balance adalah karya dari kebijaksanaan manusia. Menurut saya, semuanya benar. Ada 3 faktor utama yang bekerja sehingga keseimbangan dapat terjadi. Misalnya aspek keadilan [justice] dan persamaan hak [equality] adalah karya dari (1) pikiran, (2) alam semesta dan (3) wisdom secara bersama-sama.  Gambaran besarnya, the balance dalam hal ini "work & life balance" [disingkat saja WLB] bukanlah semata-mata sekitar membagi waktu antara urusan kerja dan urusan non-kerja. Waktu dan ruang hanyalah sarana yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai keseimbangannya. Tanpa keduanya, the balance tak mungkin terjadi, bukan?


Dalam fenomena alami, ruang dan waktu,  keseimbangan terjadi seperti 2 mata coin. Sebagai contoh, ada siang dan ada malam, ada gelap dan ada terang, ada kenyang dan ada lapar,  ada keluar dan ada masuk,  ada  bisnis dan ada sosial,  ada tua dan muda,  ada benar dan salah, ada utara dan ada selatan, dst. 


Certain  wisdom
The balance [keseimbangan kerja dan hidup atau selanjutnya disingkat WLB],  sebaiknya dilihat dengan  cara pandang  yang agak tinggi, karena ia bukan  sekedar "membagi waktu" yang adil.   Jim Bird dari company : worklifebalance.com, berhipotesa, manusia tidak mungkin bisa membagi waktu secara adil diantara banyak urusan dalam hidupnya. 
Seorang  ibu rumah tangga yang bekerja,  "tak akan pernah" bisa berjanji kepada suami dan anak-anaknya begini, " Aku akan menaruh urusan  pekerjaanku  di depan pintu rumahku, ketika aku akan masuk rumah. Atau,  aku akan menaruh urusan keluargaku di depan pintu kantorku, ketika aku akan bekerja. "  Itu agaknya tak mungkin,  bukan? Otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi seperti kotak-kotak atau ruang-ruang. 


5 life quadrant
Paling tidak, saya menganut  ada 5 life quadrant [urusan hidup] yang menyusun hidup kita. Mereka adalah  quadrant  : "Faith, Finance, Family, Friends dan Fit" [disingkat 5Fs].  Jim Bird  percaya kepada 4 quadrant hidup, yaitu:  Work, Family,  Friends dan Self.  Siapa saja bisa membagi quadrant hidupnya masing-masing, sesuai selera dan wisdomnya.   Jika Anda tipe pribadi yang njelimet, suka kerumitan dan suka presisi, Anda akan membaginya menjadi 10 quadrant.  It is fair.  Jika Anda tipe pribadi yang simple-life, mungkin cukup dengan  3 quadrant saja:  Faith, family dan finance.  It is so simple.  Realitanya, 3 atau 5 atau 10 jenis urusan,   kita sendiri  tak pernah bisa membagi waktu kita secara seadil-adilnya  terhadap 3 atau 5 atau 10 quadrant itu, bukan? Jika hidup adalah 24 jam, untuk menggenapi semua urusan itu, kita tak bisa membaginya sama rata dalam waktu, bukan?  Untuk 3 quadrant,  misalnya:  urusan faith [beribadah] 8 jam, urusan family [keluarga] 8 jam dan urusan finance [karir] 8 jam.  Karena kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid.    Untuk itu,  saya sepakat dengan Jim, bahwa otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi dan dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu.  Quadrant atau urusan itu ada untuk menjadi guideline saja.

Lalu menjaga keseimbangan kerja dan hidup [WLB] itu sebaiknya bagaimana?  WLB adalah memberi perhatian proportional kepada semua quadrant hidup.  Perhatian adalah memberi waktu, porsi atau sentuhan kepada semua urusan, agar tak ada satu urusan yang "bolong" atau terlantar.  Proporsional berarti  degree atau level perhatian yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.  It is fair. 

How to manage it
Karena keseimbangan esensinya  adalah sebuah seni bukan ilmu eksakta atau matematika, maka manajemen keseimbangan adalah upaya yang sederhana dan tidak perlu rumit.  Kuncinya ada di kendali pikiran.  Jika Anda mendefinisikan  the balance sebagai kombinasi antara  "enjoyment of life"  dan  "achievement of  work,"  maka Anda tinggal mengendalikan urusan kesenangan hidup dengan  pencapaian dalam karir.   Jika Anda mengatakan WLB adalah  "giving life to work,"  maka Anda akan fokus kepada  memberi kesenangan hidup dalam pekerjaan Anda, agar  bekerja  tak diperbudak oleh "nafsu bekerja" atau workaholic.   Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of life and the universe,  maka fokus Anda adalah bagaimana memaknai keterhubungan semua kehidupan dengan alam semesta yang lebih tinggi dan keberadaan Tuhan.  Jika Anda sedikit matematis,   Anda berfikir bahwa WLB adalah keseimbangan antara hak employee dan employer,  maka Anda akan memperjuangkan   hak cuti hamil, hak cuti sakit, hak cuti bepergian, agar masuk dalam standing-instruction atau SE perusahaan Anda, dst.       

WLB adalah subyektif, unik dan specific, tetapi dapat diukur.  Sebagai contoh,   jika quadrant faith  [ibadah] kita sedang "bolong [terlantar tak terurus],"  alarm wisdom kita memberi signal bahwa roh spiritual kita berlabel sedang  "sakit."  Hidup spiritual  kita kurang lebih terasa bagai hampa, kering, kosong dan tak bermakna.    Ini  adalah   hukum keseimbangan.    Setelah kita "tersadar" oleh signal itu,  saat itulah perhatian, atensi dan sentuhan bekerja berbarengan untuk memulihkan kehidupan batin kita dengan menjalankan ibadah yang benar, misalnya.   Sampai pada level, dimana kondisi harmonis dan selaras terjadi kembali.   Indikatornya mudah dirasakan, jiwa menjadi  tenang, nyaman dan damai kembali.   Apa saja yang kita lakukan kini menjadi lebih bermakna dan berarti.    Karena bersifat subyektif, unik dan specifik, maka level kecukupan untuk pencerahan spiritual menjadi  berbeda-beda antar individu.  Pak Anwar membutuhkan waktu untuk pemulihan iman selama 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 3 bulan saja. 

Life art
Contoh lainnya,  bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant family].  Tetapi sangat lama bagi  ibu Roy, istrinya, ia  butuh 12 bulan untuk memulihkan kembali  hubungannya yang  "terputus"  dengan anaknya.  Ia selama ini telah  mempercayakan anaknya kepada seorang baby sitter dan memanjakan anaknya dengan uang, tetapi minus kasih sayang.   Ibu Roy, akan  melewati proses pemulihan kurang lebih, sbb.:  menyesali, merenungi kesalahannya, menangisi dosanya lalu  mencari cara terbaik untuk mendekati anaknya.     Bagi pak Roy,  WLB itu masalah  mudah untuk diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung "terobati."  At the end,  setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang  "berdarah-darah"  dan "penuh air mata,"  akhirnya  ia  dapat  menemukan jalannya sendiri, memang tidak secepat suaminya.  It is an art of life.  

WLB  adalah kerja alam, wisdom dan pikiran bersama-sama. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup,  bukan eksakta.   WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] sesuai kedewasaan dan kematangan seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berbagi bagi keseimbangan hidup kita. Terima kasih salam work & life balance