![]() |
| "Orang mengantri untuk sukses di level pertama" |
SUKSES DI LEVEL PERTAMA
Bagi kebanyakan orang, sukses sering diartikan sekitaran bundaran: punya ini, punya itu, bisa ini, bisa itu, meraih ini, mencapai itu, melakukan sesuatu yang hebat-hebat yang orang lain tidak atau belum bisa lakukan, mencapai sasaran karir, target sales atau dreams. Semuanya itu tidak salah. Ia disebut sebagai achievement atau sukses di level pertama.
Contoh dari mindset sukses level pertama ini adalah orang berlomba-lomba ingin sukses, terkenal dan kaya. "Jika saya bisa meraih omzet 1 M sebulan, saya sukses," "saya merasa sukses, jika berhasil menjuarai maraton 42 K," "ketika saya berhasil mendapatkan si cantik idaman hati," "jika saya dipromosikan jadi direktur tahun ini," "jika saya bisa pergi ke luar negeri gratis," atau "jika anak saya berhasil mencapai ranking pertama di sekolah." dst.
Contoh lain, negeri Cina adalah negeri dimana semua mata sedang memandanginya. Cina sedang bekerja lebih lama, lebih banyak, lebih cepat dan lebih murah. Cadangan devisanya mencapai 2.6 triliun US dollar. Pertama, untuk rakyatnya, kedua untuk warga dunia. Kontribusi positif Cina tsb berhasil menarik Komite Ekonomi Nasional [KEN] yang diketuai Chairul Tanjung untuk datang belajar spirit transformasi Cina. Chairul belajar "Yang pertama, bangsa kita harus jadi bangsa yang bekerja keras. Maaf saya katakan, bangsa kita ini agak malas karena gemah ripah loh jinawi. Kita harus ubah mindset-nya menjadi bangsa yang bekerja keras," katanya. Ia juga katakan, "Jangan cepat berpuas diri. Angka pertumbuhan ekonomi 6,4 persen tahun ini itu tinggi, tapi tak cukup tinggi untuk menyejahterakan bangsa. Oleh karenanya, kita harus lebih bekerja keras, lebih ulet, lebih tekun, inovatif, lebih kreatif agar pertumbuhan bisa lebih dari 7-8 persen," tandasnya.
Mindset sukses level pertama, melahirkan slogan modern "saya BISA", "kita BISA" "kamu BISA," "saya lebih dari pemenang." Sukses didekatkan dengan winning atau pencapaian. Mindset sukses level pertama ini, tidaklah salah, meski banyak sekali orang-orang di sekitar kita, yang sedang berlari-lari menuju dan membentuk dirinya ke arah ini.
SUKSES DI LEVEL KEDUA
Tak harus menjadi sufi atau sama seperti Dalai Lama untuk mengalami kebahagiaan hidup. Hidup yang bermakna dan membahagiakan orang lain, bisa kita alami di rumah kita, di pekerjaan kita, di persahabatan kita hari ini. Hanya, nampaknya, level sukses ini lebih tinggi dari pada level pertama. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari keadaan kita hari ini, dari apa yang kita kerjakan, dari apa yang kita pikirkan dan dari apa yang kita katakan.
Tahap ini adalah perjalanan kita menuju sukses ke dua [second journey, second happiness]. Elemen hakikinya,adalah segala yang dicapai hari ini haruslah memberi "manfaat" sebanyak-banyaknya bagi orang lain yang kita layani, yang kita abdi dan yang kita doakan, tanpa pembatas ras, suku, agama, pendidikan. Entah ia sebagai staf membukukan kredit di bank, penyelia produksi di pabrik mobil, atau guest relation officer di hotel bintang 4, orang di level ini akan mengawali pekerjaannya dengan pertanyaan: "Apa kontribusiku bagi sesama melalui pekerjaanku ini..?" Sukses di level kedua ini, biasanya dinilai oleh orang lain, bukan dirinya sendiri.
Kesadaran baru ini menuntun jalan-jalan manusia sukses ke level sukses yang lebih tinggi, yaitu masuk pada dialog personal yang dalam. Orang bijak menyebutnya sebagai "inner-journey" atau "meaningful self talk."
"Aku akan sumbangkan 30-50% dari uangku untuk orang miskin di Afrika & Asia dan anak jalanan di Amerika," Bill Gates dan Warren Buffet.."Aku akan dedikasikan seluruh hidupku untuk pendidikan dan kesejahteraan para tuna netra di negara berkembang," Helen Keller.
"Aku akan buat ayam goreng terenak di dunia," kontribusi Colonel Sanders.
"Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan melawan kekerasan dengan kelembuatn," Gandhi.
"Aku akan tinggalkan universitas mentereng ini dan bekerja langsung turun lapangan bersama ibu-ibu buta huruf yang miskin di negeriku" Muhammad Yunus Grameen Bank, Bangladesh.
"Kami akan buat mobil-mobil terbaik, tahan banting, irit dan murah," Sakichi Toyoda yang lahir 1867 dengan Toyotanya.
"Apa yang dapat aku sumbangkan lebih baik lagi bagi dunia?" Einstein.
"Life is not just about the leg, but the heart" Lance Armstrong.
"Saya tak akan menyerah melawan agresi Belanda." Jenderal Sudirman ketika di Jogyakarta tahun 1948 dst.
Sukses level kedua, melahirkan jargon modern, "buatlah manfaat bagi sebanyak mungkin orang," atau "ketika kita meninggalkan dunia, dunia menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih damai."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berbagi bagi keseimbangan hidup kita. Terima kasih salam work & life balance