Morning meditation around water

Sabtu, 21 Desember 2013

Be wise !



Aroma keringat segar berjumpa dengan otot yang stretched.  Dibalut baju kotor, beralaskan matras yoga yang tak lepas dari tas peralatan, beberapa jiwa muda sibuk work-out.  Fisik luar habis-habisan diperindah. Apakah dengan begitu kebahagiaan terasa dekat?    Alam mengajari  bahwa bahagia dan damai itu ada di dalam batin, bukan di sisi luar, bukan?  Sudah berapa lama  jiwa-jiwa  mencari-cari sesuatu ? Sebagus apa jiwa telah menemukan sesuatu itu ?  Self-talk ini datang begitu saja, ketika  mata mengamati  gemuruhnya “Namaste Festival,” pada minggu  1 Desember 2013, di Sultan Hotel,  Jakarta yang bertema healing, yoga dan well-being.

Whithered plants
Sembari  menjalani perayaan dan selebrasi fisik setiap hari,  apakah  jiwa  mudah mencapai oneness  dengan Tuhan? Mengapa tanaman jiwa nampak semakin suram ?  Bagaimana jiwa-jiwa  metropolis  harus menyirami banyak kehidupan yang layu dari dalam, menyegarkan wajah yang keriput sambil menidurkan punggung yang kaku ?  Belum lagi, jiwa-jiwa yang menangis mesti dibalut, cinta yang terluka mesti disembuhkan  dan  dendam pahit mesti disuruh pergi jauh.  Dan itu bukan lewat terapi  fisik atau via nasehat  guru spiritual, tetapi jenis petualangan diri yang nekat untuk "goes deep inside" sendiri.    Spirit di dalam  yang mesti ditembus agar mau bicara.  Kabar baiknya,  diri sendiri  telah menyediakan resep,  terapi dan mantra yang siap pakai, siap menyembuhkan, jika ia diajak bekerjasama [wisdom collaboration].  Bahwa jiwa  perlu dibebaskan untuk mengatakan hal-hal yang jujur tentang dirinya, sudah difahami oleh para guru spiritual dan orang bijak sejak lama.  Diri kitalah yang perlu  mendengarkan suara jiwa masing-masing.  Indahnya, suara itu seolah menjadi Tuhan kecil yang menuntun.     


Top 3 Life Obstacles

Pertama,
God speaks only one and then listen [God’s scripture, our prophet, our meditation]. Tuhan cukup sekali memberitahukan jalan-jalanNya yang benar, agar manusia hidup benar.  Setelah itu Ia hanya duduk diam seolah bermeditasi.  Doa terjadi ketika manusia berbicara kepada Tuhan dan meditasi terjadi sebaliknya. Meditasi kita yang rutin jelas membangun jembatan komunikasi jarak dekat  antara Tuhan dengan jiwa  kita. Hanya seringnya,  meditasi kita belum cukup.  Nafas in & out tanpa bumbu kesadaran tinggi tentang hadirnya Tuhan di kehidupan.   Meski kita telah duduk bersila dan hening, tetap saja kehidupan di sekeliling terasa nan gaduh dan Tuhan menjauh.   

Kedua,
Human listens one and then speaks more.  Mulut manusia terlalu banyak bicara [melalui doa permohonan], jarang mendengarkan suara Tuhan. Our knowledge tends to speak a lot. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Semakin banyak pula membawa  stress yang tak peerlu  masuk.  Yogi, yogini dan meditaser, secara rutin mesti  refleksi, mengapa  asana yoga dan meditasi yang dilakukan terasa ritual tak cukup membawa rasa yang menyegarkan.  May be that is  why  most life are messy, untidy, disorganized and imbalanced.

Ketiga, 
Wisdom yang seharusnya memberi rasa damai, terpinggirkan oleh gerakan materialisme.  Itulah mengapa prinsip indah  “peace in every step” Thich Nhat Hanh terasa retorika, tak menggigit kalbu.  Mengapa juga  bacaan the power  of  love,  serasa  hanya sensasi sesaat ?  Kehidupan tetap  dipenuhi  rasa lain yang mudah khawatir, mudah takut  dan kurang percaya diri ?
 
Berikut  ini  3 praktek harian,  yang semoga dapat membawa pulang keseimbangan alami dan ketenangan batin yang memudar. Semoga ini bukan jadi last bit of hope.

1. Daily Gratitude
Kesadaran bahwa setiap hari adalah hadiah dan keindahan, tetap wisdom terindah.   Wisdom tends to listen, not to talk.  Berdiam dan melambatlah ketika menghampiri Tuhan.  "I am so thankful  for  absolutely everything.  I’m really grateful for everything.  I really do not complain for  everything."  Saya sungguh bersyukur untuk segalanya. Saya sungguh tidak mengeluh untuk segalanya.  Daily gratitude menghindarkan diri tak terlalu banyak bicara, malahan melegakan jiwa yang hampa  dan  melepaskan beban yang menghimpit.  Rasa syukur  dimana-mana memang melegakan.  S ukses gagal, jika disyukuri,  menjadi  sama saja.   Tak terasa,  jiwa  kita tenang  kembali, bahkan tanpa terapi fisik yang sulit.  Ia  mengalir  seperti  air. 

2. Total surrender
Rasa khawatir adalah pembunuh efektif  bagi  ketenangan & kenyamanan.  Sebaliknya, rasa  syukur  yang meluap membuka jalan bagi datangnya “kepasrahan” secara alami, bahkan melimpah.  "I really surrender to  everything.  I really do not worry  for  everything."  Saya sungguh  berserah  untuk segalanya. Saya sungguh  tidak khawatir  dalam segala hal.  Saya sungguh  tak  memiliki hak atas apapun.   Jalani saja apa adanya.  Total  surrender  “menghalau” kekhawatiran.   Ia malah  menggantikannya  dengan  ketenangan dan keteduhan.  When bad things happen to good people,  it is finally still good, but when good  things happen to bad people, it remains bad.   Being Good or being bad bergantung kepada kualitas rasa syukur  dan penyerahan diri. Yogi, yogini dan meditaser yang mampu membungkam rasa takutnya sendiri,  akan  menuai ketenangan  dan kenyamanannya  yang lebih  tinggi.  Ia seperti langit biru yang datang ketika malam di atas rumah.   

3. Total Acceptance
Kepasrahan yang sepenuh-penuhnya membuka jalan bagi datangnya “penerimaan” akan segala sesuatu,  baik maupun buruk.  Semua  adalah kadonya hidup.  "I‘m really sincere for everything.  I am  really not  selfish for everything."  Saya sungguh ikhlas untuk menerima segala hal.  Saya sungguh tidak egois untuk  segalanya.  Acceptance adalah tahapan tertinggi  yang menghidupi jiwa dengan kedamaian yang kokoh dan permanen.  Dengan acceptance, musibah, beban hidup dan masalah seberat  apapun, akan dirasakan ringan dan biasa.   Bukan hanya  tanaman jiwa segar kembali, tetapi kekuatan untuk menang bangkit kembali.  Ia seperti cahaya.  

“Rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya kepasrahan.   Kepasrahan yang penuh   memberi  kelapangan bagi datangnya penerimaan akan segala sesuatu.  Penerimaan menghadiahi hidup dengan kebahagiaan alami.”  Semoga  jiwa-jiwa  yang mencari menemukan,  cinta yang hambar indah kembali, dendam yang pahit, pergi  menjauh.   Lalu hidup yang baik datang  kembali.   Ia jelas tak harus menjadi kebaikan bagi sufi, ulama, pendeta  atau biksu saja.

“God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.” Reinhold Niebuhr [1892-1971]. Tuhan berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang aku tak bisa ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku bisa, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.



Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014
Harry purnama @ Mature Leadership Center [MLC],  harry.uncommon@yahoo.co.id

Jumat, 29 November 2013

Work & life balance itu riil, bukan kebohongan



“Saya menemukan bahwa yang utama dari work & life balance [WLB]  adalah tentang keseimbangan di dalam pikiran dan jiwa, bukanlah keseimbangan fisik dan waktu”  

Certain  wisdom
Any balance, harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih tinggi, a certain wisdom,  bukan  sekedar "bagi-bagi waktu" antara urusan kerja dan keluarga atau kerja dan urusan spiritual atau antara  kerja dan urusan diri sendiri. Jika Anda menganut prinsip WLB sebagai prinsip bagi waktu seperti ini, tak akan pernah bisa "adil."  WLB adalah tentang manajemen diri dan wisdom diri, dan manajemen diri serta wisdom itu riil, bukan kebohongan. 

Jika Anda mendefinisikan  the balance sebagai kombinasi antara  "enjoyment of life"  dan  "achievement of work" itu mak-sense.  Jika Anda mengatakan WLB adalah  "giving life to work," supaya hidup itu tidak diperbudak oleh "hanya kerja," alias workaholic,   juga bisa.  Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of life and the universe,  itu oke. Jika agak sedikit matematis,  Anda yang dari HR, akan berfikir WLB adalah urusan  keseimbangan hak antara employee dan employer, itu fair.  Dan penganut  yang terakhir ini, sedang banyak di Amerika.  Sehingga disana,  hak cuti hamil, hak cuti sakit, hak cuti bepergian,  semua diatur melalui standing-instruction atau SE perusahaan, dst.


No time division
Jim Bird dari worklifebalance.com, berpendapat, manusia "tidak" mungkin bisa membagi waktu secara benar-benar equal, adil dan persis sama diantara banyak urusan dalam hidup dan kerja, maksudnya antara kesibukan di pekerjaan dan quadrant hidup lainnya.  Saya sependapat dengan Jim Bird dan dengan Anda.  Seorang  ibu rumah tangga yang bekerja,  "tak akan" pernah bisa mengatakan kepada diri sendirinya, " Aku akan menaruh semua urusan  pekerjaanku  di depan pintu rumah, ketika aku masuk rumah dan bertemu keluargaku. Dan sebaliknya, "aku akan menaruh semua  urusan keluarga di depan pintu kantor, ketika aku akan bekerja."  Itu tak mungkin,  bukan?  Ternyata, tanpa disadari oleh ibu tsb., ia  malah bermimpi tentang  nasabah tua yang marah-marah tadi siang di kantor, di dalam tidurnya.  Wisdomnya adalah,  terimalah anugerah mimpi itu.

Manusia berkecenderungan secara alami untuk membuat ketidak-seimbangan, menjadi seimbang kembali.   Keseimbangan itu alamiah saja. Siang - malam, hitam dan putih, kenyang dan lapar,  keluar dan masuk,  bekerja dan tidur,  bisnis dan sosial,  tua dan muda,  benar dan salah, utara dan selatan, adalah keseimbangan alam-semesta yang diatur secara natual oleh Tuhan, Kekuatan Maha Besar.  "Terimalah" apa adanya, model  keseimbangan seperti 2 muka koin itu  dan biarkanlah kekuatan alami itu berjalan apa adanya.   Maksudnya,  jangan  sampai Anda  "membunuh"  mimpi malam tentang nasabah marah-marah itu.  Atau Anda mencoba  membenturkan  kepala ke dinding karena tidak bisa konsentrasi kerja di kantor,  karena memikirkan anak sakit di rumah.   Contoh lain,  jika Anda mencoba menyemir rambut habis-habisan, itu mengganggu keseimbangan. Toh kita tak bisa menyemir  wajah kita  jadi muda kembali  atau merubah  umur jadi  muda lagi.  Jika rambut mulai 2 warna, terimalah.  Jika hidung agak pesek, terimalah. Karena jika Anda mulai menyuntik silikon ke wajah, itu merusakkan keseimbangan.  Jika kulit agak gelap, terimalah, jangan dioperasi. Jika rambut sangat keriting, terimalah, jangan direbonding. Percayalah, alam dan Tuhan akan membantu kita menikmati keseimbangan hidup.  Nasabah yang marah, ternyata karena ia sayang dan loyal dengan perusahaan kita dan ia ingin kita memberi layanan yang baik. Jika kita rendah hati dan mau melakukan perbaikan, maka layanan kita segera lebih baik. Positif bukan?  Jika rambut kita agak memutih, justru itu menandakan kematangan dan wisdom. Baik bukan?  Wisdomnya adalah, terimalah pergerakan irama alami kehidupan kita [life acceptance], tetapi  bukan menyerah.        

Balanced life quadrant
Paling tidak, saya menganut  5 quadrant [urusan] hidup yang harus kita urusi setiap saat, agar kehidupan kita seimbang, damai, tenang dan tidak stressful. Mereka adalah quadrant  "Faith, Finance, Family, Friends dan Fit" [5Fs].  Jim Bird mengatakan ada 4 quadrant,  Work, Family,  Friends dan Self.  Siapa saja bisa membagi quadrantnya masing-masing, sesuai selera dan wisdomnya.   Anda mungkin tipe pribadi yang suka njelimet dan presisi, Anda bisa membaginya menjadi 10 quadrant.  It is fair. Jika Anda tipe pribadi  simple-life, semua hal disederhanakan,  Anda silahkan membaginya menjadi  3 quadrant saja,  Faith, family dan finance.  It is so simple.   Kenyataan dan realitanya, 3 atau 10 quadrant,   kita tidak pernah bisa membagi waktu secara adil terhadap 3 atau 10 urusan itu, bukan?  Karena kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid.    Untuk itu,  saya sepakat dengan Jim, bahwa otak kita tak bisa dibagi-bagi dan dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu, kerja dan keluarga, kerja dan sosial, kerja dan ibadah, kerja dan hobi, kerja dan kebahagiaan, dst dst.  

Lalu keseimbangan kerja dan kehidupan itu sebaiknya seperti apa? Bagaimana memanagenya?  Saya lebih mengatakan, WLB adalah memberi perhatian proportional [seimbang] terhadap semua quadrant hidup kita,  dan itu bukan pembagian waktu yang adil.  Memberi "perhatian" adalah jangan sampai ada satu quadrant hidup  kita  yang "bolong,"  terlantar,  tak terurusi.  
Jika itu terjadi,  hidup kita tidak seimbang.  Degree atau tingkat, dimana satu quadrant terlantar  dibandingkan quadrant lainnya,  berbeda  satu orang dengan lainnya.   It is normal. 

How to manage it
Karena keseimbangan esensinya  adalah sebuah seni bukan eksakta matematika, maka managemen keseimbangan adalah upaya yang sederhana, simple dan mudah, tidak serumit matematika dan ilmu kimia.  Fokusnya dan kuncinya ada di kendali PIKIRAN Anda sendiri, saya sebut sebagai  dimensi perhatian, porsi atau sentuhan.  Keseimbangan adalah memperhatikan keseluruhan, sampai Anda sendiri merasa "semua hal  terkendali dengan baik,  happy, tenang, nyaman dan damai."   Ia adalah kombinasi antara kinerja alam, kinerja wisdom [hikmat] dan mind-set [pengaturan pikiran].  

Karena melibatkan kerja wisdom dan pikiran,  yang menentukan ukurannya adalah Anda sendiri.  Ya,  WLB adalah subyektif, unik dan specific, tapi dapat diukur.  Sebagai contoh,   jika quadrant  ibadah kita sedang "bolong" dalam waktu yang cukup lama, misalkan 5 tahun,  maka wisdom Anda akan mengatakan "something wrong must be corrected soon."      Jika ternyata Anda kelewat sibuk dengan pekerjaan,  maka  alarm WLB akan  berdering di otak Anda, "hey, berhenti bekerja dan ingatlah aku disini."   Jika Anda tetap membandel,  maka bukan lagi alarm keseimbangan yang datang mengingatkan Anda,  jiwa dan roh spiritual Anda sendiri  akan terasa "sakit."  Hidup spiritual  Anda akan terasa hampa, kering, kosong dan tak bermakna. Ini adalah  tandanya,  indikatornya, signalnya.   Ini  adalah hukum keseimbangan alami.   Keseimbanganlah yang  akan  bekerja sendiri,  otomatis,  menjaga  total hidup kita harmoni dan selaras.  

Sekali lagi, WLB,  bukanlah tentang membagi waktu, melainkan memberi perhatian, atensi, porsi, sentuhan  dan mengendalikan quadrant hidup kita.  Itu  2 hal yang berbeda, yang satu  tentang  atensi/kendali  [wisdom]  dan yang satunya  tentang  bagi-bagi waktu.   Setelah Anda "tersadar" bahwa jiwa spiritual Anda "kosong dan sakit,"  saat itulah Anda harus memberi perhatian khusus [atensi, energi sentuhan] terhadap kehidupan spiritual Anda [quadrant Faith, ibadah], agar kembali dalam kondisi harmonis dan selaras.   Indikatornya mudah diamati dan dirasakan, jiwa Anda  kini menjadi  tenang dan damai kembali,  apa saja yang Anda lakukan kini menjadi lebih bermakna dan berarti.  Itulah kerja quadrant Faith atau ibadah, keimanan Anda.  Teknisnya, ya benar,  Anda  tentu  akan  membutuhkan  "dimensi waktu"  [alokasi waktu] tertentu  untuk  menegakkan ibadah Anda. Waktu hanyalah media, sarana dan alat di dalam menjaga keseimbangan.  Karena bersifat subyektif, unik dan specific, maka level kecukupan pencerahan [charging spiritual] tsb, tentu berbeda-beda antar individu.  Pak Anwar membutuhkan waktu pemulihan iman 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 1 tahun. 

Life art
Contoh lainnya,  bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant Family].  Tetapi bagi  ibu Roy butuh 6-12 bulan untuk memulihkan kembali  hubungan yang  "terputus"  dengan anaknya yang sudah lama ia tinggalkan dengan baby sitter dan memanjakannya dengan uang berlimpah. Hukum keseimbangan akan bekerja mengirimkan "alarm WLB"  lebih lambat  kepada ibu Roy.   Ibu Roy, akan  melewati proses pemulihan sbb.:  menyesali  gaya hidupnya,  merenungi kesalahannya,  menangisi dosanya dan  mencari cara terbaik sebagai langkah iman.  Ia mulai pelan-pelan mendekati sang anak. Disini ia membutuhkan adaptasi waktu yang lebih lama ketimbang pak Roy.     
Bagi pak Roy,  WLB itu masalah  mudah saja  untuk diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung "terobati"  [dipulihkan].   At the end, setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang  "berdarah-darah" tsb,  hubungan dengan anaknya,  dipulihkan.  Ia tak belajar itu semua dari bangku sekolah.   Ia menemukannya sendiri, meramunya sendiri dan meraciknya sendiri.  It is an art of life.   Ia lalu menata-ulang pola hidupnya, hingga keseimbangan antara urusan  kerja dan  urusan keluarga menjadi baik.  WLB itu seni hidup, benar-benar tentang sebuah seni. Ia bisa dirasakan, dijiwai dan dipelajari dari alam semesta dan dipraktekkan.  

WLB atau keseimbangan adalah kerja alam, wisdom [hikmat] dan kinerja pikiran. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup [life art,  a basic life-skill],  bukan eksakta matematika, apalagi hanya soal bagi-bagi waktu."  WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] oleh siapa saja,  sesuai kedewasaan dan kematangannya.             

Jika seandaninya  Anda membutuhkan bantuan khusus, Anda bisa mulai membaca buku-buku atau mencari teman,  mengikuti komunitas yoga atau meditasi di kota Anda  atau bertanya kepada seseorang yang lebih senior atau kepada fasilitator/mentor.  

harry purnama, coach/mentor WLB
harry.uncommon@yahoo.co.id atau 0821.3147.7119

Selasa, 17 September 2013

Woman in black

Sorga manakah yang disebut "sorga itu, sorga ini?" oleh banyak penceramah, politician, pejabat, pemimpin, tukang agama, yang diomong-omongkan dan didengung-dengungkan lewat mimbar dan tikar plus loud-speaker? Buku "work & life balance" yang ia baca, tak sesuai kenyataan? Kitab suci yang ia renungkan, juga tak sama dengan fakta?  Sorga diajarkan kepada Dewi, katanya akan terlihat setelah kematian, tidak di dunia nyata saat ini?  

Sorga yang diomong-omongkankan itu, tak terbayang macam apa di benak Dewi, perempuan muda penderita aniaya fisik dan psikis karena suaminya.  Paradise nan firdaus nampaknya ada di ceritera wayang saja, tidak riil di dalam keseharian.  Wajahnya pucat, rambutnya rontok, kadang sariawan, anemia, tak sama sekali, menggambarkan sorga yang diomong-omongkan itu.

Di benaknya, sorga itu, sorga ini, hanya teori abstrak supra-natural. Entah ada dimanakah itu ? Tak terbayangkan, meski Dewi sudah memejamkan matanya berkali-kali dalam doanya setiap jam 1 malam. Tuhan terasa jauh. Sorga terasa jauh. Neraka terasa dekat setiap hari. 

 "Apakah ada wanita lain yang mengalami sorga yang diteorikan itu?" dibenaknya yang terdalam.  "Jangan-jangan agama hanya diteorikan belaka. Apakah Tuhan menciptakan agama dan sorga ? Kenapa hidupku terasa kosong, hampa, limbung, tak berarti begini..oh....Allahku .....?"  self talk yang ia lakukan setiap malam itu.  "Oh...Allah, Oh... Tuhan, mengapa Engkau diam.... tak pernah menjawab doa-doaku...Wahai, sorga yang terasa jauh,  aku hidup bagai mati di neraka setiap hari..! Datanglah dan tengoklah aku, hambamu yang berjuang demi anak-anakku, tapi suami hamba malah memukuli hamba setiap hari..Aku tak tahan..Aku bagai masuk di lembah kematian..Tolong..tolonglah hambaMu...Oh Tuhanku" salah satu seruan doa Dewi dalam sembahyang sepinya di tengah malam sambil berlinang air mata. Ketika itu suami dan 2 anaknya tidur pulas.

Dewi, "woman in black," ibu rumah tangga 30th yang tak pernah bahagia. Menikah dengan suami sakit jiwa.  Suami sinting edan tenan. Ingin saja ia enyahkan itu suami binatang, tapi ia tak sanggup. Tapi, apa dikata, pemimpin keluargnya, imam kepala,  sakit jiwa, tak waras dan gendeng.

Dewi, "woman in black," salah satu korban KDRT fisik dan psikis yang brutal dan kejam di ibu kota Jakarta ini. Jika ia tahu dan berani mempidanakan suaminya, si pemimpin sakit itu bisa kena 5 tahun penjara dan denda Rp 15 juta. Tapi, Dewi sama dengan wanita kebanyakan lainnya, tak tahu apa-apa tentang UU Penghapusan KDRT no 23/ 2004 yang diurusi oleh menteri pemberdayaan perempuan. Ia lemah dan powerless.

Dewi, pekerja jujur dan work-harder, punya rumah, impian wajar dan pekerjaan tetap di bank Jakarta, dengan posisi staf administrasi kredit. Sosoknya adalah perempuan biasa khas wanita Indonesia dengan kerudung ibadahnya yang berwarna  hitam di kepalanya. Rambutnya hitam lebat disemir agak coklat, bola matanya coklat hitam, karena ada turunan India-Arab. Kulit Dewi sawo matang, wajahnya khas seorang ibu muda, yang senang membalut tubuhnya dengan pakaian berciri khas warna hitam karena duka batinnya. Ia, suami dan anaknya tinggal di Jakarta Selatan kawasan sekitar Tebet dekat Saharjo. Kantornya di kawasan Sudirman dekat Senayan. 

Ia penakut dan penurut. Ia tak sama sekali mirip Frida Kahlo, pelukis legenda dari Mexico yang  bisex, binal, pemberani dan cerdas, pernah keguguran beberapa kali, yang berani melawan ketidak-adilan disana, meski akhirnya ia mati karena virus polio tahun 1954. Frida adalah sosok seniman berkarakter yang berani berkata "tidak" kepada lingkungannya, apalagi kepada para penyiksa super biadab.

Di kantornya, ia dihargai oleh atasannya sebagai pekerja terbaik di departemennya. Dibanjiri motivasi yang baik dari atasannya itulah, ia sering bekerja larut malam di kantor dan tak merasa itu sebagai beban maupun dosa seorang wanita dan ibu rumah tangga. Ia telah menemukan passionnya.  Dewi, sudah 5 tahun ini memang tak pernah dimutasi atau dipromosikan, tetapi ia tetap senang bekerja. Teman-temannyalah yang menjadi satu-satunya penghibur hatinya di kala duka.

Mata sembab, leher merah bekas cekikan dan tangan bengkaknya selalu ia tutupi dengan kaca mata dan baju gelapnya. Ia tak pernah mengalami "surprise" kebahagiaan sepanjang hidupnya. Ia sebaliknya, tersiksa sepanjang masa.

Sayangnya pula, Dewi tak mengalami nasib serupa dengan kolega seperti barista di outlet Starbucks di Amerika, bernama Bernadette, single mom dengan 9 anaknya, yang "beruntung" mendapat bantuan, pembelaan moril dan kepedulian luar biasa dari rekan-rekan kerjanya. Berkat perjuangan teman-temannya, sampai-sampai Oprah Winfrey datang menjenguknya karena nasibnya yang menyedihkan. Oprah nelangsa melihatnya lalu menganugerahi Bernadette, satu rumah besar full perabot untuk menghidupi ke 9 anaknya. Kisah Bernadette dituliskan di "Starbucks Experience," prinsip ke 3 "surprise and delight," yang ditulis Joseph A. Mitchelli, tahun 2006.


Dewi, tak seberani Slim [Jennifer Lopez] dalam "Enough, Everyone has a limit" yang melatih dirinya dengan skill self-defence berat untuk melawan suaminya, Mitch di Los Angeles tahun 2002. Slim mengalahkan suaminya dengan telak, menjatuhkannya dan melalui serangan brutal terakhir dari Mitch, dia terjatuh sendiri dari lantai 2 apartmentnya dan mati.  Polisi menganggap kejadian ini sebagai usaha bela-diri dari istri yang di-KDRT.

Dewi, khas Indonesia, lemah gemulai bagai putri Jawa, tak memiliki karakter dan otot besar seperti Slim, yang khas wanita Amerika, pemberani, penentang dan berprinsip kuat. Keterbatasan membelenggu keberanian dan tekadnya merubah nasib sialnya.

Di rumah, ia menjalani hidupnya bagai neraka hitam. Setiap saat Dewi tertekan berat oleh suaminya yang "super" posesif,  pencemburu kelas berat,  tak berakal sehat, tanda lemah syafwat.  Pilihannya menikah dengan suaminya ia jalani secara sadar karena telah berpacaran selama 3 tahun. Tak ada benih KDRT sebelumnya atau makian kasar dari mulut suaminya ketika masih berpacaran. Si pencuri bersembunyi dalam asmara. Segala yang buruk muncul setelah pernikahan dimulai. Situasi semakin memburuk, karena Dewi semakin sibuk dalam pekerjaannya dan pulang hingga jam 20.00 malam dari kantornya. Ia menangis sendirian di teras rumahnya, ketika beberapa kali, ia dikunci di luar, tak boleh masuk rumah oleh sang suami hingga subuh. Kalau hanya ditampar, dijambak dan dihajar badannya, ditendang, sudah makanannya harian, apalagi kata-kata kotor dosis 3x sehari: "dasar pelacur, selalu pulang malam cari om-om..diluar..!!"

Beberapa kali ia keguguran karena perutnya ditendang suaminya. Ia diam, tapi memendam kepahitan, menderita dan terluka di sisi dalam. Nasi sudah menjadi bubur. Dewi belum mau cerai. Ratusan kali ia curhat ke Ugi sahabat perempuannya di kantor, pergi ke psikolog dan menghadap sang mertua, tapi hasilnya tetap saja nol. Suaminya tetap jahat dan tak mau mengerti. Karena tak tahan, ia sudah 2 tahun pisah kamar dengan suaminya, Heru. Tetangga kiri-kanan sudah kasak-kusuk ingin melaporkan kasus yang menimpanya ke pak RT/RW, agar Dewi dapat hidup normal.

Jika depresi meledak, langit-langit kamar terasa gelap-pengap, darahnya naik ke kepala, matanya mengabur, nafasnya tertahan, lalu Dewi berteriak-teriak di kamarnya dan anak-anaknya menangis ketakutan dan ikut histeris bersamanya. Akhir deritanya, ia terduduk di lantai sambil memeluk bantal sampai tertidur di lantai kamarnya begitu saja bersama anaknya. Heru kemudian mengangkat tubuh Dewi ke ranjang Dewi dan menutup kamarnya. Anak-anak Dewi ia angkat lalu dibawanya ke kamar Heru dan dibiarkan tertidur hingga pagi.

Keesokan paginya, Dewi dan anak-anaknya bangun setengah pusing kepala dan harus segera memulai aktifitas rutinnya dengan mata setengah sembab. Sang anak yang paling gede, Gita 5 tahun pergi ke TK dekat rumah diantar Heru dan adiknya 3 tahun, tinggal di rumah bersama pembantu. Dewi bergegas bekerja mengejar kereta express AC menuju stasiun kota. Rutinitas derita macam ini sudah dijalaninya sejak ia menikah 6 tahun lalu dengan Heru yang kejam. Tetap saja, mertua Dewi tak bisa berbuat apa-apa.

Heru si sakit jiwa, 32 tahun, ganteng cakep, badannya tinggi besar, rambutnya keriting, berkumis tipis setengah malu, bekerja sebagai staf penjualan pabrik sparepart otomotif di kota pinggiran Jakarta. Teman-temannya di kantornya tak ada yang tahu perangai buruk Heru di rumah. Di kantor ia memakai "topengnya" rapat-rapat agar kelakuan gelapnya pada Dewi, tak diketahui atasannya dan rekannya. Ia aman-aman saja disana, . Pembohongan sekantor telah berlangsung lama. Ia nampak alim-alim saja, sangat santun malahan sedikit minder. Tipe cowok srigala sakit jiwa seperti ini sangat banyak di sekitar kita, bukan? Berhati-hatilah karena bulunya mirip domba. Ia nampak pemalu dengan wajah tanpa dosa, algojo tanpa ampun ala preman pasar.  

Karena tak tahan lagi, suatu hari, Dewi diantar oleh Ugi, sahabatnya,  pergi melaporkan kelakuan Heru ke kantor polisi,  dengan kasus BAP KDRT kronis.  Ugi juga mengalami hal serupa di rumah oleh kebengisan suaminya. Mereka senasib. Ugi jugalah yang telah mendorong Dewi mengadukan ini ke polisi seperti yang Ugi telah lakukan terhadap suaminya. Kasus Ugi membaik, suaminya tak lagi melakukan KDRT setelah suaminya dipanggil ke kantor polisi beberapa kali dan kasusnya masuk koran lokal.

Benar saja, kasus Dewi merebak di koran lokal di kotanya. Heru dipermalukan karena dipanggil paksa di kantornya oleh polisi dan menjadi tontonan massal. Heru memendam marah yang tak tertahankan bercampur dengan ambruknya harga diri sebagai pemimpin rumah tangga. Sejak itu, Heru tak lagi KDRT  meski masih suka memaki Dewi dengan kata-kata jahanamnya yang menjijikkan.

Dua bulan kemudian, terdengar Heru meledak lagi,  sakit jiwanya kambuh dan si srigala menerkam lalu menyekik Dewi hingga mati lemas di dapur rumah mereka.

Kini, Dewi telah tiada.
Dewi hanya melihat satu warna, hitam, dalam seluruh hidupnya.
Sebelum ajal menjelang, ia sempat ingat pesan dari penasehat spiritualnya, "berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.."

Bulan berganti tahun, selepas dari penjara, Heru tua, 65 tahun, tak mau kawin lagi. Ia hidup menduda hingga menua, sakit berat, lalu ia mati karena kanker hati dalam kesendirian.

Kisah pilu rumah tangga Dewi-Heru adalah gambaran tentang hampanya tanggung jawab [responsibility, Al Wakiil] dari seorang pemimpin di level yang paling rendah, yaitu keluarga. Suami biadab, sorga nestapa, memilukan,  perjalanan Dewi gelap gulita.


Masih banyak perempuan-perempuan di kota besar yang terpaksa menjalani hidup duka seperti Dewi dan Ugi. Hidup mereka bagai di kuali panas dan sulit bernafas.

Untunglah, masih ada sorga yang menanti Dewi.  Temannya,Ugi,  suatu malam bermimpi melihat fantasi dan imajinasi Dewi berjalan digendong seorang Malaikat dan tak ada air mata sama sekali di pipi Dewi.

"Dewi, Allah sangat menyayangimu dan mangasihimu selama-lamanya," ungkapan doa Ugi di suatu senja untuk Dewi. Ugi terus berdoa dan sungguh yakin agar Heru mendapat balasan yang adil,

Bagi Dewi, pada mulanya adalah derita, ditengahnya adalah derita dan akhirnya bahagia. Jenis sorga yang dijalani Dewi terkenang hingga hari ini oleh kedua anaknya. Legenda hitam mamanya, "woman in black,"Mereka kini sudah berumah tangga.  Mama mereka,  Dewi, adalah wanita sorga, yang tak sempat ia rasakan, dan tak sempat pula melihat kedua anaknya menikah dan punya cucu, begitu juga Heru.
 

Sabtu, 12 Januari 2013

Pengantar The balance [WLB]

"Work & life balance is a join effort of  the mind, the universe and the wisdom"  kesimpulan ini pendek tetapi sedikit dalam.

Big picture
Any balance, kita kenal sebagai  "keseimbangan"  nampaknya dimulai dari karya pikiran. Tetapi Anda juga bisa beranggapan bahwa the balance [keseimbangan] adalah hadiah dari alam semesta.  Di sebelah sana mengatakan, the balance adalah karya dari kebijaksanaan manusia. Menurut saya, semuanya benar. Ada 3 faktor utama yang bekerja sehingga keseimbangan dapat terjadi. Misalnya aspek keadilan [justice] dan persamaan hak [equality] adalah karya dari (1) pikiran, (2) alam semesta dan (3) wisdom secara bersama-sama.  Gambaran besarnya, the balance dalam hal ini "work & life balance" [disingkat saja WLB] bukanlah semata-mata sekitar membagi waktu antara urusan kerja dan urusan non-kerja. Waktu dan ruang hanyalah sarana yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai keseimbangannya. Tanpa keduanya, the balance tak mungkin terjadi, bukan?


Dalam fenomena alami, ruang dan waktu,  keseimbangan terjadi seperti 2 mata coin. Sebagai contoh, ada siang dan ada malam, ada gelap dan ada terang, ada kenyang dan ada lapar,  ada keluar dan ada masuk,  ada  bisnis dan ada sosial,  ada tua dan muda,  ada benar dan salah, ada utara dan ada selatan, dst. 


Certain  wisdom
The balance [keseimbangan kerja dan hidup atau selanjutnya disingkat WLB],  sebaiknya dilihat dengan  cara pandang  yang agak tinggi, karena ia bukan  sekedar "membagi waktu" yang adil.   Jim Bird dari company : worklifebalance.com, berhipotesa, manusia tidak mungkin bisa membagi waktu secara adil diantara banyak urusan dalam hidupnya. 
Seorang  ibu rumah tangga yang bekerja,  "tak akan pernah" bisa berjanji kepada suami dan anak-anaknya begini, " Aku akan menaruh urusan  pekerjaanku  di depan pintu rumahku, ketika aku akan masuk rumah. Atau,  aku akan menaruh urusan keluargaku di depan pintu kantorku, ketika aku akan bekerja. "  Itu agaknya tak mungkin,  bukan? Otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi seperti kotak-kotak atau ruang-ruang. 


5 life quadrant
Paling tidak, saya menganut  ada 5 life quadrant [urusan hidup] yang menyusun hidup kita. Mereka adalah  quadrant  : "Faith, Finance, Family, Friends dan Fit" [disingkat 5Fs].  Jim Bird  percaya kepada 4 quadrant hidup, yaitu:  Work, Family,  Friends dan Self.  Siapa saja bisa membagi quadrant hidupnya masing-masing, sesuai selera dan wisdomnya.   Jika Anda tipe pribadi yang njelimet, suka kerumitan dan suka presisi, Anda akan membaginya menjadi 10 quadrant.  It is fair.  Jika Anda tipe pribadi yang simple-life, mungkin cukup dengan  3 quadrant saja:  Faith, family dan finance.  It is so simple.  Realitanya, 3 atau 5 atau 10 jenis urusan,   kita sendiri  tak pernah bisa membagi waktu kita secara seadil-adilnya  terhadap 3 atau 5 atau 10 quadrant itu, bukan? Jika hidup adalah 24 jam, untuk menggenapi semua urusan itu, kita tak bisa membaginya sama rata dalam waktu, bukan?  Untuk 3 quadrant,  misalnya:  urusan faith [beribadah] 8 jam, urusan family [keluarga] 8 jam dan urusan finance [karir] 8 jam.  Karena kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid.    Untuk itu,  saya sepakat dengan Jim, bahwa otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi dan dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu.  Quadrant atau urusan itu ada untuk menjadi guideline saja.

Lalu menjaga keseimbangan kerja dan hidup [WLB] itu sebaiknya bagaimana?  WLB adalah memberi perhatian proportional kepada semua quadrant hidup.  Perhatian adalah memberi waktu, porsi atau sentuhan kepada semua urusan, agar tak ada satu urusan yang "bolong" atau terlantar.  Proporsional berarti  degree atau level perhatian yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.  It is fair. 

How to manage it
Karena keseimbangan esensinya  adalah sebuah seni bukan ilmu eksakta atau matematika, maka manajemen keseimbangan adalah upaya yang sederhana dan tidak perlu rumit.  Kuncinya ada di kendali pikiran.  Jika Anda mendefinisikan  the balance sebagai kombinasi antara  "enjoyment of life"  dan  "achievement of  work,"  maka Anda tinggal mengendalikan urusan kesenangan hidup dengan  pencapaian dalam karir.   Jika Anda mengatakan WLB adalah  "giving life to work,"  maka Anda akan fokus kepada  memberi kesenangan hidup dalam pekerjaan Anda, agar  bekerja  tak diperbudak oleh "nafsu bekerja" atau workaholic.   Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of life and the universe,  maka fokus Anda adalah bagaimana memaknai keterhubungan semua kehidupan dengan alam semesta yang lebih tinggi dan keberadaan Tuhan.  Jika Anda sedikit matematis,   Anda berfikir bahwa WLB adalah keseimbangan antara hak employee dan employer,  maka Anda akan memperjuangkan   hak cuti hamil, hak cuti sakit, hak cuti bepergian, agar masuk dalam standing-instruction atau SE perusahaan Anda, dst.       

WLB adalah subyektif, unik dan specific, tetapi dapat diukur.  Sebagai contoh,   jika quadrant faith  [ibadah] kita sedang "bolong [terlantar tak terurus],"  alarm wisdom kita memberi signal bahwa roh spiritual kita berlabel sedang  "sakit."  Hidup spiritual  kita kurang lebih terasa bagai hampa, kering, kosong dan tak bermakna.    Ini  adalah   hukum keseimbangan.    Setelah kita "tersadar" oleh signal itu,  saat itulah perhatian, atensi dan sentuhan bekerja berbarengan untuk memulihkan kehidupan batin kita dengan menjalankan ibadah yang benar, misalnya.   Sampai pada level, dimana kondisi harmonis dan selaras terjadi kembali.   Indikatornya mudah dirasakan, jiwa menjadi  tenang, nyaman dan damai kembali.   Apa saja yang kita lakukan kini menjadi lebih bermakna dan berarti.    Karena bersifat subyektif, unik dan specifik, maka level kecukupan untuk pencerahan spiritual menjadi  berbeda-beda antar individu.  Pak Anwar membutuhkan waktu untuk pemulihan iman selama 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 3 bulan saja. 

Life art
Contoh lainnya,  bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant family].  Tetapi sangat lama bagi  ibu Roy, istrinya, ia  butuh 12 bulan untuk memulihkan kembali  hubungannya yang  "terputus"  dengan anaknya.  Ia selama ini telah  mempercayakan anaknya kepada seorang baby sitter dan memanjakan anaknya dengan uang, tetapi minus kasih sayang.   Ibu Roy, akan  melewati proses pemulihan kurang lebih, sbb.:  menyesali, merenungi kesalahannya, menangisi dosanya lalu  mencari cara terbaik untuk mendekati anaknya.     Bagi pak Roy,  WLB itu masalah  mudah untuk diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung "terobati."  At the end,  setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang  "berdarah-darah"  dan "penuh air mata,"  akhirnya  ia  dapat  menemukan jalannya sendiri, memang tidak secepat suaminya.  It is an art of life.  

WLB  adalah kerja alam, wisdom dan pikiran bersama-sama. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup,  bukan eksakta.   WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] sesuai kedewasaan dan kematangan seseorang.