"Work & life balance is a join effort of the mind, the universe and the wisdom" kesimpulan ini pendek tetapi sedikit dalam.
Big picture
Any
balance, kita kenal sebagai "keseimbangan" nampaknya dimulai dari karya pikiran. Tetapi Anda juga bisa beranggapan bahwa the balance [keseimbangan] adalah hadiah dari alam semesta. Di sebelah sana mengatakan, the balance adalah karya dari kebijaksanaan manusia. Menurut saya, semuanya benar. Ada 3 faktor utama yang bekerja sehingga keseimbangan dapat terjadi. Misalnya aspek keadilan [justice] dan persamaan hak [equality] adalah karya dari (1) pikiran, (2) alam semesta dan (3) wisdom secara bersama-sama. Gambaran besarnya, the balance dalam hal ini "work & life balance" [disingkat saja WLB] bukanlah semata-mata sekitar membagi waktu antara urusan kerja dan urusan non-kerja. Waktu dan ruang hanyalah sarana yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai keseimbangannya. Tanpa keduanya, the balance tak mungkin terjadi, bukan?
Dalam fenomena alami, ruang dan waktu, keseimbangan terjadi seperti 2 mata coin. Sebagai contoh, ada siang dan ada malam, ada gelap dan ada terang,
ada kenyang dan ada lapar, ada keluar dan ada masuk, ada bisnis dan
ada sosial, ada tua dan muda, ada benar dan salah, ada utara dan ada selatan, dst.
Certain wisdom
The balance [keseimbangan kerja dan hidup atau selanjutnya disingkat WLB], sebaiknya dilihat dengan cara pandang yang agak tinggi, karena ia bukan sekedar "membagi waktu" yang adil. Jim Bird dari
company : worklifebalance.com, berhipotesa, manusia tidak mungkin bisa membagi
waktu secara adil diantara banyak
urusan dalam hidupnya.
Seorang ibu rumah tangga yang bekerja, "tak akan pernah" bisa berjanji kepada suami dan anak-anaknya begini, " Aku akan menaruh urusan pekerjaanku di depan pintu rumahku, ketika aku akan masuk rumah. Atau, aku akan menaruh urusan keluargaku di depan pintu kantorku, ketika aku akan bekerja. " Itu agaknya tak mungkin, bukan? Otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi seperti kotak-kotak atau ruang-ruang.
Seorang ibu rumah tangga yang bekerja, "tak akan pernah" bisa berjanji kepada suami dan anak-anaknya begini, " Aku akan menaruh urusan pekerjaanku di depan pintu rumahku, ketika aku akan masuk rumah. Atau, aku akan menaruh urusan keluargaku di depan pintu kantorku, ketika aku akan bekerja. " Itu agaknya tak mungkin, bukan? Otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi seperti kotak-kotak atau ruang-ruang.
5 life quadrant
Paling
tidak, saya menganut ada 5 life quadrant [urusan hidup] yang menyusun hidup kita. Mereka adalah quadrant : "Faith, Finance, Family, Friends dan
Fit" [disingkat 5Fs]. Jim Bird percaya kepada 4 quadrant hidup, yaitu: Work, Family, Friends
dan Self. Siapa saja bisa membagi quadrant hidupnya masing-masing, sesuai
selera dan wisdomnya. Jika Anda tipe pribadi yang njelimet, suka kerumitan dan
suka presisi, Anda akan membaginya menjadi
10 quadrant. It is fair. Jika Anda tipe pribadi yang simple-life, mungkin cukup dengan 3 quadrant saja: Faith,
family dan finance. It is so simple. Realitanya, 3 atau 5 atau 10 jenis urusan, kita sendiri tak pernah bisa membagi
waktu kita secara seadil-adilnya terhadap 3 atau 5 atau 10 quadrant itu, bukan? Jika hidup adalah 24 jam, untuk menggenapi semua urusan itu, kita tak bisa membaginya sama rata dalam waktu, bukan? Untuk 3 quadrant, misalnya: urusan faith [beribadah] 8 jam, urusan family [keluarga] 8 jam dan urusan finance [karir] 8 jam. Karena
kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid. Untuk itu, saya
sepakat dengan Jim, bahwa otak kita dan waktu kita tak bisa dibagi-bagi dan
dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu. Quadrant atau urusan itu ada untuk menjadi guideline saja.
Lalu menjaga keseimbangan kerja dan hidup [WLB] itu sebaiknya bagaimana? WLB adalah memberi perhatian proportional kepada
semua quadrant hidup. Perhatian adalah memberi waktu, porsi atau
sentuhan kepada semua urusan, agar tak ada satu urusan yang "bolong" atau terlantar. Proporsional berarti degree atau level perhatian yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. It is fair.
How to manage it
Karena keseimbangan esensinya adalah sebuah seni bukan ilmu eksakta atau matematika, maka manajemen
keseimbangan adalah upaya yang sederhana dan tidak
perlu rumit. Kuncinya ada di kendali pikiran. Jika Anda
mendefinisikan the balance sebagai kombinasi antara "enjoyment of
life" dan "achievement of work," maka Anda tinggal mengendalikan urusan kesenangan hidup dengan pencapaian dalam karir. Jika Anda mengatakan WLB
adalah "giving life to work," maka Anda akan fokus kepada memberi kesenangan hidup dalam pekerjaan Anda, agar bekerja tak diperbudak oleh "nafsu bekerja" atau workaholic. Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of
life and the universe, maka fokus Anda adalah bagaimana memaknai keterhubungan semua kehidupan dengan alam semesta yang lebih tinggi dan keberadaan Tuhan. Jika Anda sedikit matematis, Anda berfikir bahwa WLB adalah keseimbangan antara hak
employee dan employer, maka Anda akan memperjuangkan hak cuti hamil, hak
cuti sakit, hak cuti bepergian, agar masuk dalam
standing-instruction atau SE perusahaan Anda, dst.
WLB adalah subyektif, unik dan specific, tetapi dapat
diukur. Sebagai contoh, jika
quadrant faith [ibadah] kita sedang "bolong [terlantar tak terurus]," alarm wisdom kita memberi signal bahwa roh spiritual kita berlabel sedang "sakit."
Hidup spiritual kita kurang lebih terasa bagai hampa, kering, kosong dan tak
bermakna.
Ini adalah hukum
keseimbangan. Setelah kita "tersadar" oleh signal itu, saat itulah perhatian, atensi dan sentuhan bekerja berbarengan untuk memulihkan kehidupan batin kita dengan menjalankan ibadah yang benar, misalnya. Sampai pada level, dimana kondisi harmonis dan
selaras terjadi kembali. Indikatornya mudah dirasakan, jiwa menjadi tenang, nyaman dan damai kembali. Apa saja yang kita lakukan kini
menjadi lebih bermakna dan berarti. Karena
bersifat subyektif, unik dan specifik, maka level kecukupan untuk
pencerahan spiritual menjadi berbeda-beda antar
individu. Pak Anwar membutuhkan waktu untuk pemulihan
iman selama 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 3 bulan saja.
Life art
Contoh
lainnya, bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan
kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant family]. Tetapi sangat lama
bagi ibu Roy, istrinya, ia butuh 12 bulan untuk memulihkan kembali hubungannya yang
"terputus" dengan anaknya. Ia selama ini telah mempercayakan anaknya kepada seorang baby
sitter dan memanjakan anaknya dengan uang, tetapi minus
kasih sayang. Ibu Roy, akan melewati proses pemulihan kurang lebih, sbb.:
menyesali, merenungi kesalahannya, menangisi dosanya lalu mencari cara terbaik untuk mendekati anaknya. Bagi pak Roy, WLB itu masalah mudah untuk
diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung "terobati." At
the end, setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang
"berdarah-darah" dan "penuh air mata," akhirnya ia dapat
menemukan
jalannya sendiri, memang tidak secepat suaminya. It is an art of
life.
WLB adalah kerja alam, wisdom dan pikiran bersama-sama. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup, bukan eksakta. WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] sesuai kedewasaan dan kematangan seseorang.




