Morning meditation around water

Selasa, 17 September 2013

Woman in black

Sorga manakah yang disebut "sorga itu, sorga ini?" oleh banyak penceramah, politician, pejabat, pemimpin, tukang agama, yang diomong-omongkan dan didengung-dengungkan lewat mimbar dan tikar plus loud-speaker? Buku "work & life balance" yang ia baca, tak sesuai kenyataan? Kitab suci yang ia renungkan, juga tak sama dengan fakta?  Sorga diajarkan kepada Dewi, katanya akan terlihat setelah kematian, tidak di dunia nyata saat ini?  

Sorga yang diomong-omongkankan itu, tak terbayang macam apa di benak Dewi, perempuan muda penderita aniaya fisik dan psikis karena suaminya.  Paradise nan firdaus nampaknya ada di ceritera wayang saja, tidak riil di dalam keseharian.  Wajahnya pucat, rambutnya rontok, kadang sariawan, anemia, tak sama sekali, menggambarkan sorga yang diomong-omongkan itu.

Di benaknya, sorga itu, sorga ini, hanya teori abstrak supra-natural. Entah ada dimanakah itu ? Tak terbayangkan, meski Dewi sudah memejamkan matanya berkali-kali dalam doanya setiap jam 1 malam. Tuhan terasa jauh. Sorga terasa jauh. Neraka terasa dekat setiap hari. 

 "Apakah ada wanita lain yang mengalami sorga yang diteorikan itu?" dibenaknya yang terdalam.  "Jangan-jangan agama hanya diteorikan belaka. Apakah Tuhan menciptakan agama dan sorga ? Kenapa hidupku terasa kosong, hampa, limbung, tak berarti begini..oh....Allahku .....?"  self talk yang ia lakukan setiap malam itu.  "Oh...Allah, Oh... Tuhan, mengapa Engkau diam.... tak pernah menjawab doa-doaku...Wahai, sorga yang terasa jauh,  aku hidup bagai mati di neraka setiap hari..! Datanglah dan tengoklah aku, hambamu yang berjuang demi anak-anakku, tapi suami hamba malah memukuli hamba setiap hari..Aku tak tahan..Aku bagai masuk di lembah kematian..Tolong..tolonglah hambaMu...Oh Tuhanku" salah satu seruan doa Dewi dalam sembahyang sepinya di tengah malam sambil berlinang air mata. Ketika itu suami dan 2 anaknya tidur pulas.

Dewi, "woman in black," ibu rumah tangga 30th yang tak pernah bahagia. Menikah dengan suami sakit jiwa.  Suami sinting edan tenan. Ingin saja ia enyahkan itu suami binatang, tapi ia tak sanggup. Tapi, apa dikata, pemimpin keluargnya, imam kepala,  sakit jiwa, tak waras dan gendeng.

Dewi, "woman in black," salah satu korban KDRT fisik dan psikis yang brutal dan kejam di ibu kota Jakarta ini. Jika ia tahu dan berani mempidanakan suaminya, si pemimpin sakit itu bisa kena 5 tahun penjara dan denda Rp 15 juta. Tapi, Dewi sama dengan wanita kebanyakan lainnya, tak tahu apa-apa tentang UU Penghapusan KDRT no 23/ 2004 yang diurusi oleh menteri pemberdayaan perempuan. Ia lemah dan powerless.

Dewi, pekerja jujur dan work-harder, punya rumah, impian wajar dan pekerjaan tetap di bank Jakarta, dengan posisi staf administrasi kredit. Sosoknya adalah perempuan biasa khas wanita Indonesia dengan kerudung ibadahnya yang berwarna  hitam di kepalanya. Rambutnya hitam lebat disemir agak coklat, bola matanya coklat hitam, karena ada turunan India-Arab. Kulit Dewi sawo matang, wajahnya khas seorang ibu muda, yang senang membalut tubuhnya dengan pakaian berciri khas warna hitam karena duka batinnya. Ia, suami dan anaknya tinggal di Jakarta Selatan kawasan sekitar Tebet dekat Saharjo. Kantornya di kawasan Sudirman dekat Senayan. 

Ia penakut dan penurut. Ia tak sama sekali mirip Frida Kahlo, pelukis legenda dari Mexico yang  bisex, binal, pemberani dan cerdas, pernah keguguran beberapa kali, yang berani melawan ketidak-adilan disana, meski akhirnya ia mati karena virus polio tahun 1954. Frida adalah sosok seniman berkarakter yang berani berkata "tidak" kepada lingkungannya, apalagi kepada para penyiksa super biadab.

Di kantornya, ia dihargai oleh atasannya sebagai pekerja terbaik di departemennya. Dibanjiri motivasi yang baik dari atasannya itulah, ia sering bekerja larut malam di kantor dan tak merasa itu sebagai beban maupun dosa seorang wanita dan ibu rumah tangga. Ia telah menemukan passionnya.  Dewi, sudah 5 tahun ini memang tak pernah dimutasi atau dipromosikan, tetapi ia tetap senang bekerja. Teman-temannyalah yang menjadi satu-satunya penghibur hatinya di kala duka.

Mata sembab, leher merah bekas cekikan dan tangan bengkaknya selalu ia tutupi dengan kaca mata dan baju gelapnya. Ia tak pernah mengalami "surprise" kebahagiaan sepanjang hidupnya. Ia sebaliknya, tersiksa sepanjang masa.

Sayangnya pula, Dewi tak mengalami nasib serupa dengan kolega seperti barista di outlet Starbucks di Amerika, bernama Bernadette, single mom dengan 9 anaknya, yang "beruntung" mendapat bantuan, pembelaan moril dan kepedulian luar biasa dari rekan-rekan kerjanya. Berkat perjuangan teman-temannya, sampai-sampai Oprah Winfrey datang menjenguknya karena nasibnya yang menyedihkan. Oprah nelangsa melihatnya lalu menganugerahi Bernadette, satu rumah besar full perabot untuk menghidupi ke 9 anaknya. Kisah Bernadette dituliskan di "Starbucks Experience," prinsip ke 3 "surprise and delight," yang ditulis Joseph A. Mitchelli, tahun 2006.


Dewi, tak seberani Slim [Jennifer Lopez] dalam "Enough, Everyone has a limit" yang melatih dirinya dengan skill self-defence berat untuk melawan suaminya, Mitch di Los Angeles tahun 2002. Slim mengalahkan suaminya dengan telak, menjatuhkannya dan melalui serangan brutal terakhir dari Mitch, dia terjatuh sendiri dari lantai 2 apartmentnya dan mati.  Polisi menganggap kejadian ini sebagai usaha bela-diri dari istri yang di-KDRT.

Dewi, khas Indonesia, lemah gemulai bagai putri Jawa, tak memiliki karakter dan otot besar seperti Slim, yang khas wanita Amerika, pemberani, penentang dan berprinsip kuat. Keterbatasan membelenggu keberanian dan tekadnya merubah nasib sialnya.

Di rumah, ia menjalani hidupnya bagai neraka hitam. Setiap saat Dewi tertekan berat oleh suaminya yang "super" posesif,  pencemburu kelas berat,  tak berakal sehat, tanda lemah syafwat.  Pilihannya menikah dengan suaminya ia jalani secara sadar karena telah berpacaran selama 3 tahun. Tak ada benih KDRT sebelumnya atau makian kasar dari mulut suaminya ketika masih berpacaran. Si pencuri bersembunyi dalam asmara. Segala yang buruk muncul setelah pernikahan dimulai. Situasi semakin memburuk, karena Dewi semakin sibuk dalam pekerjaannya dan pulang hingga jam 20.00 malam dari kantornya. Ia menangis sendirian di teras rumahnya, ketika beberapa kali, ia dikunci di luar, tak boleh masuk rumah oleh sang suami hingga subuh. Kalau hanya ditampar, dijambak dan dihajar badannya, ditendang, sudah makanannya harian, apalagi kata-kata kotor dosis 3x sehari: "dasar pelacur, selalu pulang malam cari om-om..diluar..!!"

Beberapa kali ia keguguran karena perutnya ditendang suaminya. Ia diam, tapi memendam kepahitan, menderita dan terluka di sisi dalam. Nasi sudah menjadi bubur. Dewi belum mau cerai. Ratusan kali ia curhat ke Ugi sahabat perempuannya di kantor, pergi ke psikolog dan menghadap sang mertua, tapi hasilnya tetap saja nol. Suaminya tetap jahat dan tak mau mengerti. Karena tak tahan, ia sudah 2 tahun pisah kamar dengan suaminya, Heru. Tetangga kiri-kanan sudah kasak-kusuk ingin melaporkan kasus yang menimpanya ke pak RT/RW, agar Dewi dapat hidup normal.

Jika depresi meledak, langit-langit kamar terasa gelap-pengap, darahnya naik ke kepala, matanya mengabur, nafasnya tertahan, lalu Dewi berteriak-teriak di kamarnya dan anak-anaknya menangis ketakutan dan ikut histeris bersamanya. Akhir deritanya, ia terduduk di lantai sambil memeluk bantal sampai tertidur di lantai kamarnya begitu saja bersama anaknya. Heru kemudian mengangkat tubuh Dewi ke ranjang Dewi dan menutup kamarnya. Anak-anak Dewi ia angkat lalu dibawanya ke kamar Heru dan dibiarkan tertidur hingga pagi.

Keesokan paginya, Dewi dan anak-anaknya bangun setengah pusing kepala dan harus segera memulai aktifitas rutinnya dengan mata setengah sembab. Sang anak yang paling gede, Gita 5 tahun pergi ke TK dekat rumah diantar Heru dan adiknya 3 tahun, tinggal di rumah bersama pembantu. Dewi bergegas bekerja mengejar kereta express AC menuju stasiun kota. Rutinitas derita macam ini sudah dijalaninya sejak ia menikah 6 tahun lalu dengan Heru yang kejam. Tetap saja, mertua Dewi tak bisa berbuat apa-apa.

Heru si sakit jiwa, 32 tahun, ganteng cakep, badannya tinggi besar, rambutnya keriting, berkumis tipis setengah malu, bekerja sebagai staf penjualan pabrik sparepart otomotif di kota pinggiran Jakarta. Teman-temannya di kantornya tak ada yang tahu perangai buruk Heru di rumah. Di kantor ia memakai "topengnya" rapat-rapat agar kelakuan gelapnya pada Dewi, tak diketahui atasannya dan rekannya. Ia aman-aman saja disana, . Pembohongan sekantor telah berlangsung lama. Ia nampak alim-alim saja, sangat santun malahan sedikit minder. Tipe cowok srigala sakit jiwa seperti ini sangat banyak di sekitar kita, bukan? Berhati-hatilah karena bulunya mirip domba. Ia nampak pemalu dengan wajah tanpa dosa, algojo tanpa ampun ala preman pasar.  

Karena tak tahan lagi, suatu hari, Dewi diantar oleh Ugi, sahabatnya,  pergi melaporkan kelakuan Heru ke kantor polisi,  dengan kasus BAP KDRT kronis.  Ugi juga mengalami hal serupa di rumah oleh kebengisan suaminya. Mereka senasib. Ugi jugalah yang telah mendorong Dewi mengadukan ini ke polisi seperti yang Ugi telah lakukan terhadap suaminya. Kasus Ugi membaik, suaminya tak lagi melakukan KDRT setelah suaminya dipanggil ke kantor polisi beberapa kali dan kasusnya masuk koran lokal.

Benar saja, kasus Dewi merebak di koran lokal di kotanya. Heru dipermalukan karena dipanggil paksa di kantornya oleh polisi dan menjadi tontonan massal. Heru memendam marah yang tak tertahankan bercampur dengan ambruknya harga diri sebagai pemimpin rumah tangga. Sejak itu, Heru tak lagi KDRT  meski masih suka memaki Dewi dengan kata-kata jahanamnya yang menjijikkan.

Dua bulan kemudian, terdengar Heru meledak lagi,  sakit jiwanya kambuh dan si srigala menerkam lalu menyekik Dewi hingga mati lemas di dapur rumah mereka.

Kini, Dewi telah tiada.
Dewi hanya melihat satu warna, hitam, dalam seluruh hidupnya.
Sebelum ajal menjelang, ia sempat ingat pesan dari penasehat spiritualnya, "berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.."

Bulan berganti tahun, selepas dari penjara, Heru tua, 65 tahun, tak mau kawin lagi. Ia hidup menduda hingga menua, sakit berat, lalu ia mati karena kanker hati dalam kesendirian.

Kisah pilu rumah tangga Dewi-Heru adalah gambaran tentang hampanya tanggung jawab [responsibility, Al Wakiil] dari seorang pemimpin di level yang paling rendah, yaitu keluarga. Suami biadab, sorga nestapa, memilukan,  perjalanan Dewi gelap gulita.


Masih banyak perempuan-perempuan di kota besar yang terpaksa menjalani hidup duka seperti Dewi dan Ugi. Hidup mereka bagai di kuali panas dan sulit bernafas.

Untunglah, masih ada sorga yang menanti Dewi.  Temannya,Ugi,  suatu malam bermimpi melihat fantasi dan imajinasi Dewi berjalan digendong seorang Malaikat dan tak ada air mata sama sekali di pipi Dewi.

"Dewi, Allah sangat menyayangimu dan mangasihimu selama-lamanya," ungkapan doa Ugi di suatu senja untuk Dewi. Ugi terus berdoa dan sungguh yakin agar Heru mendapat balasan yang adil,

Bagi Dewi, pada mulanya adalah derita, ditengahnya adalah derita dan akhirnya bahagia. Jenis sorga yang dijalani Dewi terkenang hingga hari ini oleh kedua anaknya. Legenda hitam mamanya, "woman in black,"Mereka kini sudah berumah tangga.  Mama mereka,  Dewi, adalah wanita sorga, yang tak sempat ia rasakan, dan tak sempat pula melihat kedua anaknya menikah dan punya cucu, begitu juga Heru.