Aroma keringat segar
berjumpa dengan otot yang stretched. Dibalut
baju kotor, beralaskan matras yoga yang tak lepas dari tas peralatan, beberapa jiwa
muda sibuk work-out. Fisik luar habis-habisan diperindah. Apakah dengan begitu kebahagiaan terasa dekat?
Alam mengajari bahwa bahagia dan damai itu ada di dalam
batin, bukan di sisi luar, bukan? Sudah berapa lama jiwa-jiwa mencari-cari sesuatu ? Sebagus apa jiwa telah menemukan sesuatu itu ?
Self-talk ini datang begitu saja, ketika mata mengamati gemuruhnya “Namaste Festival,” pada minggu 1 Desember 2013, di Sultan Hotel, Jakarta yang bertema healing, yoga dan
well-being.
Whithered plants
Sembari menjalani perayaan dan selebrasi fisik setiap hari, apakah jiwa mudah mencapai oneness dengan Tuhan? Mengapa tanaman jiwa nampak semakin suram ? Bagaimana jiwa-jiwa metropolis harus menyirami banyak kehidupan yang layu dari dalam, menyegarkan wajah yang keriput sambil menidurkan punggung yang kaku ? Belum lagi, jiwa-jiwa yang menangis mesti dibalut, cinta yang terluka mesti disembuhkan dan dendam pahit mesti disuruh pergi jauh. Dan itu bukan lewat terapi fisik atau via nasehat guru spiritual, tetapi jenis petualangan diri yang nekat untuk "goes deep inside" sendiri. Spirit di dalam yang mesti ditembus agar mau bicara. Kabar baiknya, diri sendiri telah menyediakan resep, terapi dan mantra yang siap pakai, siap menyembuhkan, jika ia diajak bekerjasama [wisdom collaboration]. Bahwa jiwa perlu dibebaskan untuk mengatakan hal-hal yang jujur tentang dirinya, sudah difahami oleh para guru spiritual dan orang bijak sejak lama. Diri kitalah yang perlu mendengarkan suara jiwa masing-masing. Indahnya, suara itu seolah menjadi Tuhan kecil yang menuntun.
Whithered plants
Sembari menjalani perayaan dan selebrasi fisik setiap hari, apakah jiwa mudah mencapai oneness dengan Tuhan? Mengapa tanaman jiwa nampak semakin suram ? Bagaimana jiwa-jiwa metropolis harus menyirami banyak kehidupan yang layu dari dalam, menyegarkan wajah yang keriput sambil menidurkan punggung yang kaku ? Belum lagi, jiwa-jiwa yang menangis mesti dibalut, cinta yang terluka mesti disembuhkan dan dendam pahit mesti disuruh pergi jauh. Dan itu bukan lewat terapi fisik atau via nasehat guru spiritual, tetapi jenis petualangan diri yang nekat untuk "goes deep inside" sendiri. Spirit di dalam yang mesti ditembus agar mau bicara. Kabar baiknya, diri sendiri telah menyediakan resep, terapi dan mantra yang siap pakai, siap menyembuhkan, jika ia diajak bekerjasama [wisdom collaboration]. Bahwa jiwa perlu dibebaskan untuk mengatakan hal-hal yang jujur tentang dirinya, sudah difahami oleh para guru spiritual dan orang bijak sejak lama. Diri kitalah yang perlu mendengarkan suara jiwa masing-masing. Indahnya, suara itu seolah menjadi Tuhan kecil yang menuntun.
Top 3 Life Obstacles
Pertama,
God speaks only
one and then listen [God’s scripture, our prophet, our meditation]. Tuhan cukup
sekali memberitahukan jalan-jalanNya yang benar, agar manusia hidup benar. Setelah itu Ia hanya duduk diam seolah bermeditasi.
Doa terjadi ketika manusia berbicara kepada Tuhan dan meditasi terjadi
sebaliknya. Meditasi kita yang rutin jelas
membangun jembatan komunikasi jarak dekat antara Tuhan dengan jiwa kita. Hanya
seringnya, meditasi kita belum cukup. Nafas in & out tanpa bumbu kesadaran
tinggi tentang hadirnya Tuhan di kehidupan. Meski kita telah duduk bersila dan hening,
tetap saja kehidupan di sekeliling terasa nan gaduh dan Tuhan menjauh.
Kedua,
Human listens one
and then speaks more. Mulut manusia
terlalu banyak bicara [melalui doa permohonan], jarang mendengarkan suara Tuhan. Our knowledge
tends to speak a lot. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Semakin
banyak pula membawa stress yang tak
peerlu masuk. Yogi, yogini dan
meditaser, secara rutin mesti refleksi,
mengapa asana yoga dan meditasi yang dilakukan
terasa ritual tak cukup membawa rasa yang menyegarkan. May be that is why most
life are messy, untidy, disorganized and imbalanced.
Ketiga,
Wisdom yang
seharusnya memberi rasa damai, terpinggirkan oleh gerakan materialisme. Itulah mengapa prinsip indah “peace in every step” Thich Nhat Hanh terasa
retorika, tak menggigit kalbu. Mengapa juga bacaan the power of love,
serasa hanya sensasi sesaat ? Kehidupan tetap dipenuhi rasa lain yang mudah khawatir, mudah takut dan kurang percaya diri ?
Berikut ini 3 praktek harian, yang semoga dapat membawa pulang keseimbangan alami dan ketenangan batin yang memudar. Semoga ini bukan jadi last bit of hope.
Berikut ini 3 praktek harian, yang semoga dapat membawa pulang keseimbangan alami dan ketenangan batin yang memudar. Semoga ini bukan jadi last bit of hope.
1. Daily Gratitude
Kesadaran bahwa setiap hari adalah hadiah dan keindahan, tetap wisdom terindah. Wisdom tends to listen, not to talk. Berdiam dan melambatlah ketika menghampiri Tuhan. "I am so thankful for absolutely everything. I’m really grateful for everything. I really do not complain for everything." Saya sungguh bersyukur untuk segalanya. Saya sungguh tidak mengeluh untuk segalanya. Daily gratitude menghindarkan diri tak terlalu banyak bicara, malahan melegakan jiwa yang hampa dan melepaskan beban yang menghimpit. Rasa syukur dimana-mana memang melegakan. S ukses gagal, jika disyukuri, menjadi sama saja. Tak terasa, jiwa kita tenang kembali, bahkan tanpa terapi fisik yang sulit. Ia mengalir seperti air.
Kesadaran bahwa setiap hari adalah hadiah dan keindahan, tetap wisdom terindah. Wisdom tends to listen, not to talk. Berdiam dan melambatlah ketika menghampiri Tuhan. "I am so thankful for absolutely everything. I’m really grateful for everything. I really do not complain for everything." Saya sungguh bersyukur untuk segalanya. Saya sungguh tidak mengeluh untuk segalanya. Daily gratitude menghindarkan diri tak terlalu banyak bicara, malahan melegakan jiwa yang hampa dan melepaskan beban yang menghimpit. Rasa syukur dimana-mana memang melegakan. S ukses gagal, jika disyukuri, menjadi sama saja. Tak terasa, jiwa kita tenang kembali, bahkan tanpa terapi fisik yang sulit. Ia mengalir seperti air.
2. Total surrender
Rasa khawatir adalah pembunuh efektif bagi ketenangan & kenyamanan. Sebaliknya, rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya “kepasrahan” secara alami, bahkan melimpah. "I really surrender to everything. I really do not worry for everything." Saya sungguh berserah untuk segalanya. Saya sungguh tidak khawatir dalam segala hal. Saya sungguh tak memiliki hak atas apapun. Jalani saja apa adanya. Total surrender “menghalau” kekhawatiran. Ia malah menggantikannya dengan ketenangan dan keteduhan. When bad things happen to good people, it is finally still good, but when good things happen to bad people, it remains bad. Being Good or being bad bergantung kepada kualitas rasa syukur dan penyerahan diri. Yogi, yogini dan meditaser yang mampu membungkam rasa takutnya sendiri, akan menuai ketenangan dan kenyamanannya yang lebih tinggi. Ia seperti langit biru yang datang ketika malam di atas rumah.
Rasa khawatir adalah pembunuh efektif bagi ketenangan & kenyamanan. Sebaliknya, rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya “kepasrahan” secara alami, bahkan melimpah. "I really surrender to everything. I really do not worry for everything." Saya sungguh berserah untuk segalanya. Saya sungguh tidak khawatir dalam segala hal. Saya sungguh tak memiliki hak atas apapun. Jalani saja apa adanya. Total surrender “menghalau” kekhawatiran. Ia malah menggantikannya dengan ketenangan dan keteduhan. When bad things happen to good people, it is finally still good, but when good things happen to bad people, it remains bad. Being Good or being bad bergantung kepada kualitas rasa syukur dan penyerahan diri. Yogi, yogini dan meditaser yang mampu membungkam rasa takutnya sendiri, akan menuai ketenangan dan kenyamanannya yang lebih tinggi. Ia seperti langit biru yang datang ketika malam di atas rumah.
3. Total Acceptance
Kepasrahan yang sepenuh-penuhnya membuka jalan bagi datangnya “penerimaan” akan segala sesuatu, baik maupun buruk. Semua adalah kadonya hidup. "I‘m really sincere for everything. I am really not selfish for everything." Saya sungguh ikhlas untuk menerima segala hal. Saya sungguh tidak egois untuk segalanya. Acceptance adalah tahapan tertinggi yang menghidupi jiwa dengan kedamaian yang kokoh dan permanen. Dengan acceptance, musibah, beban hidup dan masalah seberat apapun, akan dirasakan ringan dan biasa. Bukan hanya tanaman jiwa segar kembali, tetapi kekuatan untuk menang bangkit kembali. Ia seperti cahaya.
“Rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya kepasrahan. Kepasrahan yang penuh memberi kelapangan bagi datangnya penerimaan akan segala sesuatu. Penerimaan menghadiahi hidup dengan kebahagiaan alami.” Semoga jiwa-jiwa yang mencari menemukan, cinta yang hambar indah kembali, dendam yang pahit, pergi menjauh. Lalu hidup yang baik datang kembali. Ia jelas tak harus menjadi kebaikan bagi sufi, ulama, pendeta atau biksu saja.
Kepasrahan yang sepenuh-penuhnya membuka jalan bagi datangnya “penerimaan” akan segala sesuatu, baik maupun buruk. Semua adalah kadonya hidup. "I‘m really sincere for everything. I am really not selfish for everything." Saya sungguh ikhlas untuk menerima segala hal. Saya sungguh tidak egois untuk segalanya. Acceptance adalah tahapan tertinggi yang menghidupi jiwa dengan kedamaian yang kokoh dan permanen. Dengan acceptance, musibah, beban hidup dan masalah seberat apapun, akan dirasakan ringan dan biasa. Bukan hanya tanaman jiwa segar kembali, tetapi kekuatan untuk menang bangkit kembali. Ia seperti cahaya.
“Rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya kepasrahan. Kepasrahan yang penuh memberi kelapangan bagi datangnya penerimaan akan segala sesuatu. Penerimaan menghadiahi hidup dengan kebahagiaan alami.” Semoga jiwa-jiwa yang mencari menemukan, cinta yang hambar indah kembali, dendam yang pahit, pergi menjauh. Lalu hidup yang baik datang kembali. Ia jelas tak harus menjadi kebaikan bagi sufi, ulama, pendeta atau biksu saja.
“God grant me the
serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things
I can, and the wisdom to know the difference.” Reinhold Niebuhr [1892-1971]. Tuhan
berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang aku tak bisa ubah, keberanian
untuk mengubah hal-hal
yang aku bisa, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.
Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014
Harry purnama @ Mature Leadership Center [MLC], harry.uncommon@yahoo.co.id