Morning meditation around water

Sabtu, 21 Desember 2013

Be wise !



Aroma keringat segar berjumpa dengan otot yang stretched.  Dibalut baju kotor, beralaskan matras yoga yang tak lepas dari tas peralatan, beberapa jiwa muda sibuk work-out.  Fisik luar habis-habisan diperindah. Apakah dengan begitu kebahagiaan terasa dekat?    Alam mengajari  bahwa bahagia dan damai itu ada di dalam batin, bukan di sisi luar, bukan?  Sudah berapa lama  jiwa-jiwa  mencari-cari sesuatu ? Sebagus apa jiwa telah menemukan sesuatu itu ?  Self-talk ini datang begitu saja, ketika  mata mengamati  gemuruhnya “Namaste Festival,” pada minggu  1 Desember 2013, di Sultan Hotel,  Jakarta yang bertema healing, yoga dan well-being.

Whithered plants
Sembari  menjalani perayaan dan selebrasi fisik setiap hari,  apakah  jiwa  mudah mencapai oneness  dengan Tuhan? Mengapa tanaman jiwa nampak semakin suram ?  Bagaimana jiwa-jiwa  metropolis  harus menyirami banyak kehidupan yang layu dari dalam, menyegarkan wajah yang keriput sambil menidurkan punggung yang kaku ?  Belum lagi, jiwa-jiwa yang menangis mesti dibalut, cinta yang terluka mesti disembuhkan  dan  dendam pahit mesti disuruh pergi jauh.  Dan itu bukan lewat terapi  fisik atau via nasehat  guru spiritual, tetapi jenis petualangan diri yang nekat untuk "goes deep inside" sendiri.    Spirit di dalam  yang mesti ditembus agar mau bicara.  Kabar baiknya,  diri sendiri  telah menyediakan resep,  terapi dan mantra yang siap pakai, siap menyembuhkan, jika ia diajak bekerjasama [wisdom collaboration].  Bahwa jiwa  perlu dibebaskan untuk mengatakan hal-hal yang jujur tentang dirinya, sudah difahami oleh para guru spiritual dan orang bijak sejak lama.  Diri kitalah yang perlu  mendengarkan suara jiwa masing-masing.  Indahnya, suara itu seolah menjadi Tuhan kecil yang menuntun.     


Top 3 Life Obstacles

Pertama,
God speaks only one and then listen [God’s scripture, our prophet, our meditation]. Tuhan cukup sekali memberitahukan jalan-jalanNya yang benar, agar manusia hidup benar.  Setelah itu Ia hanya duduk diam seolah bermeditasi.  Doa terjadi ketika manusia berbicara kepada Tuhan dan meditasi terjadi sebaliknya. Meditasi kita yang rutin jelas membangun jembatan komunikasi jarak dekat  antara Tuhan dengan jiwa  kita. Hanya seringnya,  meditasi kita belum cukup.  Nafas in & out tanpa bumbu kesadaran tinggi tentang hadirnya Tuhan di kehidupan.   Meski kita telah duduk bersila dan hening, tetap saja kehidupan di sekeliling terasa nan gaduh dan Tuhan menjauh.   

Kedua,
Human listens one and then speaks more.  Mulut manusia terlalu banyak bicara [melalui doa permohonan], jarang mendengarkan suara Tuhan. Our knowledge tends to speak a lot. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Semakin banyak pula membawa  stress yang tak peerlu  masuk.  Yogi, yogini dan meditaser, secara rutin mesti  refleksi, mengapa  asana yoga dan meditasi yang dilakukan terasa ritual tak cukup membawa rasa yang menyegarkan.  May be that is  why  most life are messy, untidy, disorganized and imbalanced.

Ketiga, 
Wisdom yang seharusnya memberi rasa damai, terpinggirkan oleh gerakan materialisme.  Itulah mengapa prinsip indah  “peace in every step” Thich Nhat Hanh terasa retorika, tak menggigit kalbu.  Mengapa juga  bacaan the power  of  love,  serasa  hanya sensasi sesaat ?  Kehidupan tetap  dipenuhi  rasa lain yang mudah khawatir, mudah takut  dan kurang percaya diri ?
 
Berikut  ini  3 praktek harian,  yang semoga dapat membawa pulang keseimbangan alami dan ketenangan batin yang memudar. Semoga ini bukan jadi last bit of hope.

1. Daily Gratitude
Kesadaran bahwa setiap hari adalah hadiah dan keindahan, tetap wisdom terindah.   Wisdom tends to listen, not to talk.  Berdiam dan melambatlah ketika menghampiri Tuhan.  "I am so thankful  for  absolutely everything.  I’m really grateful for everything.  I really do not complain for  everything."  Saya sungguh bersyukur untuk segalanya. Saya sungguh tidak mengeluh untuk segalanya.  Daily gratitude menghindarkan diri tak terlalu banyak bicara, malahan melegakan jiwa yang hampa  dan  melepaskan beban yang menghimpit.  Rasa syukur  dimana-mana memang melegakan.  S ukses gagal, jika disyukuri,  menjadi  sama saja.   Tak terasa,  jiwa  kita tenang  kembali, bahkan tanpa terapi fisik yang sulit.  Ia  mengalir  seperti  air. 

2. Total surrender
Rasa khawatir adalah pembunuh efektif  bagi  ketenangan & kenyamanan.  Sebaliknya, rasa  syukur  yang meluap membuka jalan bagi datangnya “kepasrahan” secara alami, bahkan melimpah.  "I really surrender to  everything.  I really do not worry  for  everything."  Saya sungguh  berserah  untuk segalanya. Saya sungguh  tidak khawatir  dalam segala hal.  Saya sungguh  tak  memiliki hak atas apapun.   Jalani saja apa adanya.  Total  surrender  “menghalau” kekhawatiran.   Ia malah  menggantikannya  dengan  ketenangan dan keteduhan.  When bad things happen to good people,  it is finally still good, but when good  things happen to bad people, it remains bad.   Being Good or being bad bergantung kepada kualitas rasa syukur  dan penyerahan diri. Yogi, yogini dan meditaser yang mampu membungkam rasa takutnya sendiri,  akan  menuai ketenangan  dan kenyamanannya  yang lebih  tinggi.  Ia seperti langit biru yang datang ketika malam di atas rumah.   

3. Total Acceptance
Kepasrahan yang sepenuh-penuhnya membuka jalan bagi datangnya “penerimaan” akan segala sesuatu,  baik maupun buruk.  Semua  adalah kadonya hidup.  "I‘m really sincere for everything.  I am  really not  selfish for everything."  Saya sungguh ikhlas untuk menerima segala hal.  Saya sungguh tidak egois untuk  segalanya.  Acceptance adalah tahapan tertinggi  yang menghidupi jiwa dengan kedamaian yang kokoh dan permanen.  Dengan acceptance, musibah, beban hidup dan masalah seberat  apapun, akan dirasakan ringan dan biasa.   Bukan hanya  tanaman jiwa segar kembali, tetapi kekuatan untuk menang bangkit kembali.  Ia seperti cahaya.  

“Rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya kepasrahan.   Kepasrahan yang penuh   memberi  kelapangan bagi datangnya penerimaan akan segala sesuatu.  Penerimaan menghadiahi hidup dengan kebahagiaan alami.”  Semoga  jiwa-jiwa  yang mencari menemukan,  cinta yang hambar indah kembali, dendam yang pahit, pergi  menjauh.   Lalu hidup yang baik datang  kembali.   Ia jelas tak harus menjadi kebaikan bagi sufi, ulama, pendeta  atau biksu saja.

“God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.” Reinhold Niebuhr [1892-1971]. Tuhan berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang aku tak bisa ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku bisa, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.



Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014
Harry purnama @ Mature Leadership Center [MLC],  harry.uncommon@yahoo.co.id