Morning meditation around water

Senin, 24 November 2014

Work/life balance : Aku sungguh bersyukur

Life-check
Buku kehidupan kita punya dua warna, warna bahagia atau warna menderita? Rumah kita juga sama. Kendaraan yang kita tumpangi juga sama, sehat atau sedang mogok? Kita masih diberi kemewahan untuk dapat melakukan general check-up /“life-check” kesehatan luar & dalam diri kita, atas rumah yang kita tinggali dan atas kendaraan yang kita naiki. Self engine check-up begitu mudah, ambil saat diam diri sejenak, lalu mulailah bertanya pada diri sendiri, cukup dengan self-talk. Hari-hari ini, apakah kita cenderung terhanyut, terhilang atau terlena dalam keseluruhan kehidupan, lost in connectedness, not knowing any where then not going any where?  Apakah kita sulit mengenali dimana kendaraan hidup kita berada saat ini “in terms of our life journey?” Apakah suhu tubuh kita meningkat karena rasa cemas, gelisah, khawatir, tegang dan amarah yang jauh lebih banyak dari pada rasa tenang, nyaman hidup dan damai?  Apakah rumah hidup kita atau rumah kita secara fisik, nampak rapi tertata atau sedang kotor berantakan? Sudahkah kita melakukan segala sesuatu dengan makna atau sekedar lewat atau sekadar sampai? Yakinkah kita bahwa wisdom kita, selain agama dan psikologi, sesungguhnya ia dapat menolong kita menemukan jalan untuk kembali? Apakah kita bisa tidur enak dan makan dengan nikmat saat ini? Life-check adalah jalan membuka diri untuk datangnya hal-hal baik dan benar untuk kita menambahi bab-bab cantik dalam buku kehidupan kita. Life-check benar-benar harus kita lakukan untuk diri kita, bukan untuk orang lain. Karena memeriksa kehidupan orang lain selain dianggap iseng tak punya kerjaan, juga tak etis masuk pagar orang. Mari kita fokus membersihkan rumah kita sendiri dengan sapu yang bersih.


Mindfulness
Jika kita masih merasa “on the right track,” bersyukurlah. Jika lost sedikit atau lost banyak, bersyukurlah, paling tidak kita masih dapat mereview kembali kebiasaan kita. Apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya? Jika sudah bersyukurlah. Jika belum, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be mindful” dalam keseharian. Tepatnya mesin hidup kita sedang menderu-deru dalam hutan ketergesaan dan keterburuan meski untuk hal-hal yang rutin dan sepele. Mandi terburu-buru. Makan dan minum buru-buru. Bicara buru-buru. Di jalan buru-buru/balapan. Kerja buru-buru. Akibatnya malam tidak bisa buru-buru tidur. Kita mungkin sedang “unconnected” dengan apa yang kita lakukan. Kita sangat mungkin tidak menikmatinya. Pedal pikiran kita hanya tertuju kepada sang hasil [scoreboard di dinding, target atasan, kejar tayang, rekening deposito, menambah logam mulia, membeli mobil lagi, menambah apartemen lagi, membangun pabrik baru atau menunggu pinjaman bank dst]. Itulah mengapa barangkali ketenangan, kenyamanan dan kedamaian telah menjauh dari dash-board hidup kita? Kita sedang membutuhkan “mindfulness” di saat ini. Karena jika kita “kehilangan” saat ini, sesungguhnya kita sedang get lost. By cultivating the new wisdom to feel what we are doing moment by moment, minute by minute, second by second at present moment, we could be back at present moment fully. Bersyukurlah, dengan mindfulness, tanpa kita harus pergi ke vila tiap minggu atau minta resep dokter , kita sangat mungkin mendapatkan kembali keindahan, kesegaran & kesembuhan hidup saat ini juga.


Gratefulness
Kedua, apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” tsb dengan penuh rasa syukur yang tulus kepada Tuhan? Apakah ungkapan syukur itu kita lontarkan sebatas ritual belaka? Jika ya, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be grateful lively.” Bisa jadi meski sudah memiliki sangat banyak, kita sedang “kehilangan” apa artinya cukup. Kita sedang tidak mensyukuri apa yang sudah banyak. Argometer di kepala kita hanya fokus kepada tangga berikutnya. Hidung lebih mancung, kulit lebih putih, rambut lebih lurus dan hitam,  penampilan lebih muda, badan lebih langsing, pikiran lebih fresh, kerja lebih semangat, gaji lebih besar,  pabrik lebih banyak, perusahaan lebih banyak, rumah lebih besar & lebih mewah. mobil lebih banyak & lebih up to date, halaman lebih luas, penjaga rumah lebih banyak, anjing piaraan lebih banyak, tabungan lebih besar dan pencapaian lebih baik, anak lebih manis dst. Mengejar tangga berikutnya sama sekali tidaklah keliru/salah. Tuhan sangat menghendaki kita hidup makmur dan berkecukupan sehingga bisa membantu orang lain. Tinggal kita mampu menjaga keseimbangannya atau tidak?


Live a good life
Bersyukurlah, jika itu rapor kita hari ini, mari kita re-start computer kita. Kita terpanggil untuk secara sadar & sistematis untuk menyeimbangkan kehidupan. Ambillah 2 langkah kecil sederhana [little wisdom].

Yang pertama,  “be mindful” [sadar penuh]. Ia adalah sumber ketenangan pikiran. Lakukan “1″ hal saja “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya. Wisdom, membantu kita menyadari paradoks bahwa kualitas lebih baik dari kuantitas. Seimbangkan juga dengan multi-tasking yang adalah seni menata-ulang keseluruhan.  Justru melakukan 1 hal kecil dengan nikmat, sebenarnya keseluruhan gambar hidup sedang ditata-ulang tanpa kita mampu menyadarinya.
Mandi tak lagi terburu-buru. Makan dan minum menjadi santai. Bicara menjadi lebih relaks dan lebih dimengerti. Di jalan tidak lagi buru-buru/balapan. Kerja jadi lebih teliti dan nikmat. Akibatnya malam benar-benar terasa malam. Lalu ia berhasil mengantarkan tubuh & pikiran untuk tidur lebih lelap, tanpa menelan obat penenang. Latihan “be mindful” yang berulang-ulang, membuat keseluruhan hidup berjalan lebih melambat & lebih perlahan. Segala yang lambat & perlahan biasanya disertai rasa tenang, lebih kalem dan penyabar terhadap segala sesuatu. Melalui itu, kita  sedang membangun jembatan ke saat ini ["reconnected"] dengan apa yang kita sedang lakukan moment by moment. Tanpa disadari lagi, “present moment” benar-benar telah menjadi milik hidup kita hari ini.
Ada lagi praktek “mindfulness” yang lain, seperti jalan melambat, nafas melambat dan teratur, latihan fokus/konsentrasi melalui meditasi mindfulness, yoga dengan pose tertentu dst, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang lebih tinggi.


Yang kedua, “be grateful” [syukur penuh]. Ia adalah sumber kedamaian hati, kelegaan dan kenyamanan batin.   Soal syukur ini, kita semua bukan pemula, hanya pembelajar. Lakukan “1″ hal tadi tetap dengan “be mindful” [sadar penuh], namun kini tambahkan 1 soft-gel herbal yang bernama syukur penuh. Mandi lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Makan dan minum lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Bicarapun lebih nikmat karena hadirnya syukur. Bicara menjadi hanya seperlunya dan lebih terasa maknanya. Di jalan selain tidak lagi buru-buru/balapan, juga lebih nikmat karena disertai syukur baik macet maupun lancar. Kerja lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Akibatnya tidur malam lebih nikmat /berkualitas. Rumah hidup kita kini berwarna lebih cerah karena hadirnya warna syukur dari mulai genteng, atap, pintu, jendela dan lantainya. Nafas jadi lebih ringan & lega. Denyut jantung lebih teratur. Tensi lebih normal. Stress yang menekan lalu pergi dan membuat pikiran plong. Langkah terasa enteng. Semua beban terasa ringan. Solusi lalu datang tanpa kita meminta dan mengejarnya. Hidup benar-benar bahagia dan damai. Jika semua hal dilakukan karena sudah bahagia dan damai, maka hasilnya akan berbeda pula, bukan? Ada teman yang bilang, inilah ajaibnya bersyukur, bersyukur bikin kaya, bersyukur bukan berarti hanya pasrah dan berhenti berusaha justru jadi lebih berusaha.
Ada pula latihan “gratitude” lainnya seperti, membuat jurnal/kartu give thanks harian, menulis surat kepada seseorang kepadanya kita bersyukur/berterima kasih, menulis buku syukur, fokus hanya kepada berkat bukan kepada masalah/kesulitan, mengucapkan syukur terima kasih 100x sehari, bersyukur di bawah matahari, latihan sentuhan/massage, dst. namun itu memerlukan komitmen extra.


Repeat practice
Berhenti mengeluh tidak lagi cukup. Kata-kata yang indah dan quotation yang manis tidaklah cukup. Berjanji akan berubah juga tidak cukup. Menandatangani pakta integritas hanya permulaan. Sumpah jabatan hanya halaman pertama dari ujian. Apa yang membuatnya cukup, adalah karena wisdom upgrade ini meski kecil, jika “dilakukan” secara konsisten setiap saat, ia akan menghasilkan better “peace of mind.”
Belajarlah untuk mensyukuri apa saja tentang hari ini. Belajarlah untuk mensyukuri semua yang terjadi minggu ini. Lalu belajarlah untuk mensyukuri apa saja yang mampu diingat pada bulan ini [recall back]. Sehingga kita akan mampu belajar untuk mensyukuri semua yang terjadi pada tahun berjalan. Akhirnya rasa syukur telah naik kelas menjadi pelajaran “tahu diri” seumur hidup.
Jika better “peace of mind” ditingkatkan kadarnya secara terus-menerus [menanjak] melalui latihan demi latihan itu, maka ia akan menetap/mengakar menjadi kebiasaan baru. Karena memang kebiasaan kita selalu bisa diubah. Kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan memang untuk diasah dan ditumbuhkan. Lihatlah, rasa syukur telah menjadi diri kita.
Terlebih lagi, jika hasil kerja perubahan itu dihargai oleh diri sendiri dan lingkungan, maka bersyukurlah ia akan berlipat ganda dampaknya terhadap pencapaian hidup [prestasi, passion dan kepuasan]. Hasil “repeat practice” ini adalah level ketenangan, kenyamanan dan kedamaian menjadi jauh lebih besar dari pada semua kesedihan, kegelisahan dan kekhawatiran kita.  Lalu dimana pressure & stress berada? Mereka tetaplah ada “di depan” rumah kita. Jagalah jangan sampai mereka “masuk” kembali. Tandanya adalah, ketika masalah datang, kita mampu bersyukur atasnya. Itu tanda rumah kita masih bersih.


Rest in a lot
Upgrade wisdom secara sadar ini, dapatlah kita sebut sebagai “rest in a lot”  atau “peace in a lot.”  Kini kita mampu duduk dalam keheningan, berdiri dalam kesederhanaan dan rebah dalam kerendahan. Kita membuat work/life balance menjadi riil, bukan lagi wacana/keinginan atau sekadar otak-atik membagi/mengatur waktu belaka. Work/life balance sesungguhnya harus terjadi pertama-tama di pikiran, di perasaan dan di jiwa, baru kemudian mengatur kegiatan demi kegiatan sesuai skala prioritas.

Beberapa benefit yang dapat segera kita observe dari wisdom upgrade tsb. adalah:
1. Kebahagiaan meningkat [positive emotions, life satisfaction, vitality, optimism and lower levels of depression and stress].
2. Lebih sosial  [more empathic, generous and helpful]. Interaksi dan engagement kita dengan orang lain lebih baik,
3. Spiritualitas membaik [a better belief in the interconnectedness of all life and commitment and responsibility to others].
4. Materialisme termanaged [less importance on material goods, less likely to judge own and others success in terms of possessions accumulated; less envious of wealthy persons, and are more likely to share possessions with others].
[Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, "Counting blessings vs burdens, an experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life," 2003].

Tak terasa,  kita telah memberikan  “hadiah besar”  buat diri kita sendiri  yaitu   menjadi  lebih dewasa, lebih matang  dan  lebih bijak, karena kita  mampu  menemukan  siapa  diri  kita dalam   keterhubungan dengan keseluruhan, yaitu Tuhan sang pemilik keseluruhan.
1416897090823194670
work/life balance di Indonesia

Selasa, 14 Januari 2014

5 Latihan kesadaran bersyukur

"Uang termurah untuk membeli kebahagiaan adalah bersyukur."

"Segala sesuatu yang tak disyukuri akan menjadi beban."

Dr Robert Emmons, psikolog peneliti tentang gratitude dan happiness, dari University of California, Davis, menemukan bahwa bersyukur meningkatkan level kebahagiaan sebanyak 25%. Jika ditambah dengan cinta akan Tuhan dan ciptaannya, saya mengatakan, kebahagian manusia meningkat 100%.  Yang desperate hidupnya, akan bangkit kembali.  Yang kacau rumah tangganya, akan dikembalikan utuh.   Yang  runtuh  karirnya, akan dipulihkan. Yang sudah bagus, naik ke next level.  Jika dunia ini warnanya adalah bersyukur, maka peperangan, terorisme, korupsi, perebutan kekuasaan dan kriminalitas akan turun drastis, bukan?  Lalu manusia menjadi benar-benar manusia, perilakunya benar-benar human, dan Tuhan tak lagi disamai.

Agar dunia semakin sadar, semakin indah dan semakin bahagia, mari bersama mempraktekkan salah satu dari 5 latihan kesadaran bersyukur berikut ini. Ini adalah latihan penuh kesadaran [self-awereness exercise, transforming the mind, cultivating new habit].  Ambil satu atau dua latihan sebagai kebiasaan yang paling nyaman, at least untuk 1 bulan pertama, tanpa henti. Jika terhenti di tengah, mulai lanjutkan lagi, tak perlu mengulang dari awal.   Karena happiness is a journey, selain tak bisa instant dan dadakan, ia harus dirasakan secara personal, juga tak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. 

Yang terpenting dari perjalanan ini,  bukan banyaknya, bukan gembar-gembornya, namun rutinitasnya, penuh maknanya dan penghayatannya.  Ia harus dilatih dan dibentuk.   Karena self-awareness leads to self-mastery, maka hasilnya hidup akan terasa lebih nyaman, lebih tenang dan lebih enjoy.  Lalu hati yang gembira benar-benar menjadi obat, bukan teori dan janji.  Enak bukan ? Apa tandanya nyaman? Ketika makan, tidur dan nge-seks [jika berhak], semuanya terasa enak, betah dan kepengen lagi. Apa tandanya tenang? Hidup tak tergesa-gesa, tak mengejar setoran, tak panik, tak gugup dan tak banyak kesalahan / error. Apa tandanya enjoy? Hidup tak merasa takut, tak khawatir, relaks dan percaya diri.    

1.   Jadikan bersyukur sebagai ibadah.
Don't waste your precious energy on complaining. Don't be afraid that your life will end, but worry that it will never begin. Try to be oneness with God through gratitude.  Banyak hal yang harus disyukuri. Pertama, masih bisa terbangun dari tidur, berterima kasihlah. Kedua, bisa turun dari tempat tidur, say thank you, God.  Ketiga, keluar dari kamar tidur, masih bisa buang air kecil, air besar, lalu masih bisa ngopi atau ngeteh, berterima kasihlah.  Keempat, lihat rumah berantakan, tugas kantor menumpuk, teman menjengkelkan, bersyukurlah masih punya rumah, masih punya kerjaan dan masih punya teman. Sadari dan berterima-kasihlah atas kehidupan ini seperti bernafas. Bersyukurlah seperti berdoa. Ucapkan syukur, seperti beramal,  seolah besok mau mati.  Lakukan ibadah syukur sebagai bagian dari iman, keyakinan dan agama.  Bersyukur, berterima kasihlah,  jadikan itu prioritas nomor 1, maaf ternyata, bukan cari uang atau cari jodoh.  Appreciate a force bigger than yourself.  Sadari  dengan kesadaran penuh, bahwa berterima kasih  itu a great habit and attitude towards the Divine.  Jika itu menjadi kebiasaan yang nomor 1, maka skenario hidup akan berubah. Cinta dengan pasti akan menggantikan harta dan takhta. Sehingga lebih banyak ruang untuk hadirnya keindahan dan kedamaian dalam hidup, bukan?  Jika Anda merasa nyaman dengan latihan dari hal-hal yang kecil ini, lakukanlah hari ini.   Orang yang menatap Anda akan mengatakan : "Orang ini selain banyak uang, penuh cinta...!"


2.   Jadikan bersyukur untuk berbagi kebaikan.
Say "thank you" more often. Say "thank you" for more and for less. Acting grateful is being grateful.  Smile and laugh more.  Hidup Anda tak steril dari bantuan orang lain, demikian juga sebaliknya [interconnection]. Anda bisa seperti sekarang ini, adalah berkat orang tua, keluarga, sahabat, rekan kerja dan klien, bukan? [their contribution].  Sadari dan ingatlah kebaikan mereka satu-persatu. Masukkan dalam agenda, dairy atau jurnal syukur harian. Minimum catat 1 blessing setiap hari. Buatkan karya seni atas agenda, dairy atau jurnal tsb, misalnya : weekly thank-you frame, thank-you clipping, thank-you poster,  thank-you photo, thank-you notes,  yang tujuannya setiap waktu "terlihat" oleh mata, sebagai reminder. Best, jika Anda siap menulis "thank-you" letter kepada mentor, coach, orang tua, pasangan, kekasih, atasan, rekan kerja atau klien Anda.  Mereka bahagia telah menjadi "bagian penting" dari sukses Anda hari ini. Syukur Anda dan kebaikan Anda harus terbaca oleh mereka. Orang-orang yang telah berjasa itu akan mengatakan : "Orang ini selain sukses, ia tahu berterima kasih...!"


3.   Jadikan bersyukur sebagai terang.
When bad things happen to good people, it is still good. Giving, nobody is receiving [gratitude].  Giving, everybody is receiving [business]. Cahaya tak pernah kembali sia-sia. Namun, ketika ia menerangi kegelapan, ia tak mengharapkan imbalannya. Tutuplah mata Anda selama 5 menit dengan sapu tangan, lalu lakukan rutinitas pekerjaan Anda. Apa yang Anda dapati, ketika setelah itu, mata Anda dibuka kembali? Lega? Ubahlah dan lihatlah hal-hal negatif, keburukan dan kegagalan Anda, sekarang dengan new mindset, bahwa itu semua mendidik, mempertajam strategi dan menguatkan Anda, lalu syukurilah kebaikannya. Segala sesuatu terjadi untuk kebaikan Anda, bukan menjatuhkan atau membangkrutkan Anda.  Jika Anda sudah terbiasa merubah hal-hal negatif, kesulitan dan kegagalan menjadi hal-hal positif dan bermanfaat, maka ketika Anda berjumpa dengan hal-hal positif yang baik, maka syukur Anda akan melimpah. Hidup Anda semakin terang, tak ada satu ruangpun yang gelap atau negatif. Sukses dan gagal menjadi sama saja, semuanya punya manfaat, kegunaan dan arti. Sadari,  tak ada yang buruk atau jelek. Bahkan yang jahatpun, nampak sudah diampuni dan dimaafkan.  Tak ada dendam. Bahkan yang menyakiti Andapun, nampak sudah bertobat dan berbuat sebaliknya. Berlatihlah dan jadilah kuat untuk menghadapi masalah, kesulitan dan musibah. Jadikan mereka semua teman untuk bertumbuh. Jika latihan Anda ini semakin sering dan intensif, maka Anda semakin kuat, naik tingkat dan ringan dalam menemui masalah, mengatasi masalah dan mengalahkan masalah.  Hidup kini terasa damai, bukan? Kesulitan akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini kuat, tak ada matinya...!"        


4.    Lakukan syukur sebagai gerak fisik.
When you stretch, you know you are still alive. Hold your hand pulse as you sit. Pay attention to your breath in and out, it means that you are still alive. Bersyukur bisa dan asyik melalui gerak fisik, wujud tubuh kita.
Lakukan stretching selama 5 menit, mulai dengan kepala, leher, tangan, pinggang, dan kaki. Gerakkan perlahan-lahan, bukan sembarangan atau tergesa-gesa.   Gerakan sesuai hobi, kebiasaan dan kesukaan, mengikuti dan berlawanan arah jarum jam. Bebas saja. Yang terpenting, kali ini  ketika Anda melakukan stretching, rasakan dan jiwailah. Sensasi, resonansi dan vibrasi apa yang kini terasa?  Sungguh nikmat, ringan, lega dan lepas semua kepenatan. Bebas ! Bersyukurlah, itu satu-satunya balas budi Anda atas nikmat ini. Pejamkan mata untuk putaran ke dua. Dan sadarilah, rasakanlah, kini semakin nikmat dan semakin nikmat, semakin lepas semua beban. Enteng dan ringan.
Sekarang peganglah nadi di tangan Anda, pejamkan mata, rasakan detaknya dan berterima kasihlah kepada si Pembuat detaknya. Kira-kira ini juga 5 menit. Bermeditasilah jika Anda mau.
Sekarang duduklah relaks, tegakkan tubuh, atau bersandar di kursi dengan santai. Pejamkan mata, tariklah dan buanglah nafas seperti biasa, tak perlu dibuat-buat, atau dihitung. Rasakan perlahan, nafas masuk dan nafas keluar, semuanya tenang dan relaks. Sadari, nikmatilah dan rasakanlah.  Bersyukurlah, Anda masih hidup dan bernafas normal. Hidup kini terasa damai, bukan? Alam semesta akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini tahu menghargai tubuh dan dirinya,  ia semakin kokoh saja...!" 


5. Lakukan syukur dengan keheningan.
Make time to practice meditation, yoga and prayer. They provide us with daily fuel for our busy lives. Get rid of anything that isn't useful, beautiful, and joyful.  Share gratitude and say thank you when you are in holy silence. Practice mindfulness to appreciate each present moment. Have a now or never frame of mind. Duduklah dan pejamkan mata atau jika Anda sedang sakit, berbaringlah santai, berdiam dirilah sejenak, untuk 5 menit.  Letakkan ke dua tangan Anda di paha Anda ketika duduk bersila atau di sebelah tubuh Anda ketika berbaring.  Berkonsentrasilah dan fokuskan pikiran Anda atas segala kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang baik. God is so good.  Sadarilah bahwa Anda hidup karena pertolongan demi pertolongan Tuhan.  Dan kini rasakan sensasinya bahwa diri Anda mengecil, tak berarti, Tuhanlah yang membesar. Latihan keheningan sejenak ini telah menolong banyak orang untuk berhasil  memperoleh kembali energi hidup dan antusiasme yang hebat dalam meneruskan kehidupan dan berempati atas penderitaan orang. Mereka-mereka ini menemukan kembali makna hidup.  Mereka rela berjuang demi orang lain, bahkan rela menempuh jalan asketisme karena praktek syukurnya atas kehidupan ini.  Lalu kehidupan ini akan mengatakan kepada Anda :  " Orang ini benar-benar tak terpengaruh oleh hingar-bingar dan hiruk-pikuknya kehidupan, ia malah mengambil waktu untuk hening sejenak, jiwanya memang telah matang dan dewasa...!"   Dan "dunia yang semakin ngawur dan edan" di sekelilingnya akan memujinya : "... Meski dunia semakin edan, semakin jahil, semakin jahat, tapi ia tetap tahu siapa dirinya yang sebenarnya... Ia tak ikut-ikutan edan, tak jahil dan tak ikut jahat untuk bisa hidup... Ia sungguh punya karakter yang jujur dan memukau... Ia layak jadi pemimpin...!"

Tak terasa kita sama-sama naik ke higher awareness dan higher purpose in life. Enjoy !  
     
  
    




      

Sabtu, 11 Januari 2014

Bersyukur itu membebaskan


Bersyukur adalah kekayaan yang terlupakan, meski ia mengandung kekuatan batin, kematangan jiwa, vitalitas, enthusiasme, emosi positif, kepuasan hidup, optimisme, empati, spiritualitas dan mengurangi ikatan kepada materi [Dr Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, Research project on Gratitude and Thankfulness, 2003]. Ke 2 psikolog scientist ini, telah banyak meneliti tentang gratitude dan bukunya serta artikelnya telah banyak di-quote oleh berbagi tulisan di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka banyak meneliti perilaku dari perspective biologi evolusi dan insting, mulai dari isu psikologi personal, psikologi emosi, psikologi agama, balas dendam, bersyukur, pengampunan dan penolakan.  

"Orang yang tahu bersyukur adalah orang yang bernyanyi,  sambil  menggenggam bunga yang sedang mekar di tangannya. Oh betapa indahnya, orang-orang yang bersyukur.  Tuhan tidak menjauh ! Tak ada orang yang bersyukur, tapi  batinnya menjerit dan jiwanya menderita."

Bersyukur itu mirip bernyanyi.  Ia memancarkan puisi, syair dan keindahan. Siapa saja bisa bernyanyi, meski fales... Percayalah, yang terdengar tetaplah keindahan. Tetaplah bernyanyi, jauh lebih baik ketimbang omong kosong, karena ia lebih fales !

Saking bagusnya penyanyi melantunkan lagunya, sampai-sampai pendengar tak ambil pusing lagi dengan latar belakang masalah keluarganya atau pribadinya.  Yang di latar belakang tertutupi oleh totalitas keindahannya. Karena tak ada yang bisa mengalahkan keindahan. Semakin lagunya dijiwai, semakin membekas di hati pendengarnya, semakin lupa akan segalanya. Semakin sering bersyukur, nyanyian jiwa kita semakin merdu, semakin banyak yang rindu ingin mendengarkannya. Begitu juga sebaliknya.

Bersyukur itu mirip kembang, bunga yang mekar. Sedangkan damai itu mirip kupu-kupu. Semakin dikejar, ia terbang menjauh. Jika tak dikejar, ia hinggap di kehidupan. Semakin rajin kita bersyukur, kembang kita semakin mekar mengharum, kupu-kupu betah tinggal bersamanya. Begitu juga sebaliknya.


3 Dimensi bersyukur yang membahagiakan

1.  Bersyukur itu membebaskan.

"Saking melimpahnya rasa syukur kita, sampai Tuhan tak menemukan lagi dosa-dosa kita." 

Apakah ada orang-orang yang sungguh bersyukur seperti di film? Jika kita menemui orang-orang yang bahagia seperti itu di sekitar, kita akan mendapati ungkapan syukur yang melimpah dari gerak tubuhnya. Mudah menandainya !  Wajahnya bersih. Auranya teduh dan damai. Kata-katanya tenang dan menyejukkan.  Gerakannya melambat. tak pernah ia tergesa-gesa. Ia tampil sangat positif, tak bisa ditandingi.  Ia tak pernah nampak murung, apalagi sedih dan pilu.  Yang dilakukannya semuanya jadi kesenangan.  Yang berada di dekatnya, nyaman.  Yang bekerja bersamanya betah.  Yang ditinggalkannya, kebajikan. Yang dikenang dari orang-orang ini, adalah kebajikan.  Sehingga Tuhan sampai  lupa mencatat kekurangannya. Karena orang-orang ini selalu memandangi kelebihan dan kebaikan lebih dari kekurangan dan keburukan. Jika kita fokus pada kelebihan dan kebaikan setiap saat, kitapun jadi lupa ada yang namanya kekurangan  dan keburukan.   Ia menutupi dosa-dosa dan kelemahan diri. Ia nyata, bukan kebohongan ilusi nan fiktif.  Temukan mereka ada di sekitar kita.

Apakah agama membebaskan?  Bukan agamanya, tapi iman dan tindakannya.  Semakin banyak yang kita yakini, tidak otomatis membebaskan, justru terkadang menjadi ikatan baru. Berhati-hatilah.    Tindakan bersyukur itulah yang  membebaskan.  Semakin banyak iman dan tindakan bersyukurnya,  semakin lebar pula jendela rumahnya.  Jiwanya lapang, tidak sempit dan terkotak-kotak. Pandangannya melebar, tidak menyempit.  Keinginannya akan dunia mengecil dengan sendirinya.    Semakin banyak udara pagi yang bebas masuk dan keluar.  Ia semakin  terlepas dari ikatannya.  Ia menjauhi yang jahat dan keburukan, yang selama ini mengikatnya.  Apa saja itu?  Ketidak-jujuran, kebohongan, kemunafikan, kedustaan, kesombongan dan arogansi diri. Orang yang penuh syukur, sebaliknya,  akan memilih yang jujur dan yang baik.  Ia pergi bebas sebagai burung lepas yang merdeka.   Tapi, kemerdekaannya itu tak akan melebihi kejujuran dan kebaikan. Sehingga ia tak bisa sombong dan angkuh diri.   

Bersyukur itu kesadaran tertinggi yang bisa diraih manusia, setelah itu tak ada lagi. Pasrah total dan penerimaan total akan segala sesuatu, hanya  akibat yang wajar dari melimpahnya rasa syukur.   Bersyukur adalah  proses spiritual universal, apapun kepercayaannya. Ia menjadi tag-line yang gamblang dan netral ketika di bawa ke ranah korporasi ataupun individu. Tak ada yang mampu menolak atau melarang sesuatu yang universal.   Inilah dimensi  spiritual dari  bersyukur.      


 
2.  Bersyukur itu mendamaikan.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia bisa merasakan cinta bagi semuanya."

" Satu-satunya keajaiban di dunia ini yang bisa menyatukan umat manusia adalah rasa syukur dan rasa damai. Itulah formula sukses luar biasa alaminya,  yang disediakan alam semesta ini. Manusia tinggal memetiknya."

Tubuh dari bersyukur adalah tindakannya, sedangkan baju luarnya adalah kata-kata indah, seperti, "I love you so much, I am so grateful  for what I have,  I am so thankful  for absolutely  everything,  God is so good to me, Praise the Lord.....dst."   Bersyukur itu hidup yang nyata.  Ia dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang yang mengerti hidup.  Hidup yang berarti  adalah  hidup yang dipenuhi  ungkapan rasa syukur, berterima kasih kepada Tuhan, setiap saat [be thankful at all times to God]. Orang yang bersyukur dengan mudah mengubah setan keluhan  menjadi kebahagiaan dan rancangan hidup yang positif, kekurangan  menjadi kelebihan, perbedaan  menjadi persamaan, ketimpangan  menjadi keadilan, dst.


Apakah bersyukur bisa dilakukan oleh orang yang tak beragama?  Dengan paradigma ini, absolutely it can, nothing wrong, nothing impossible.  Karena,  bersyukur adalah tindakan iman universal yang abadi, timeless dari generasi ke generasi, dari rumah ke rumah, dan dari pribadi ke pribadi.  

Apakah rasa syukur adalah sumber pikiran positif? Yes, that's 100 % right.  Rasa syukur itu memerdekakan dan membebaskan pikiran negatif, kebiasaan buruk, ketakutan dan ikatan masa lalu.  Jika dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh, ia mendamaikan dirinya dengan  manusia lain, dengan alam semesta dan dengan Pemilik kehidupan.  Karena ia tahu siapa dirinya, tahu berterima kasih dan tahu mengabdi kepada Si Pemberi diri.  Tak ada alasan lagi, bagi Tuhan untuk "memenjarakan"  pikiran negatif untuk dirinya.
Tuhan teramat senang, menghadiahi dirinya dengan kado Tahun Baru setiap hari. Setiap hari selalu baru dengan rasa syukur dan rasa bahagia.  Ia memikirkan hal-hal yang positif, harapan dan masa depan yang tak terbatas.  Keberhasilan sama saja dengan kegagalan dan kegagalan sama saja dengan keberhasilan. Semua menjadi sama, menjadi nampak baik-baik saja.  Karena segala ciptaanNya indah adanya. Oleh karena itu, ia tak memenjarakan dendam dan sakit hati atau nafsu saling mengalahkan.  Yang ia rasakan hanya rasa damai yang melimpah ruah, meluap dari jiwa yang indah.  Ia memiliki jendela kedamaian yang lebar. Jendela lebar itu bukan penjara.

Apakah rasa syukur yang melimpah itu dapat mengalahkan ego? Yes, it is true again.   Saking lebarnya, ia melampaui keterbatasan dan perbedaan-perbedaan. Saking cara pandangnya menjadi demikian luasnya, sekarang  ia bisa menerima mereka yang berbeda dengan dirinya.   Ia mengalahkan peperangan, keserakahan diri, ego dan  perbedaan agama.  Ia membuka mata selebar-lebarnya terhadap kasih sayang.  Yang ia sebarkan hanya cinta dan kasih sayang.  Bernyanyi  dan berkembangnya bunga,  semuanya ke arah keluar [inside-out direction].   Itulah mengapa orang yang bersyukur,  tak lagi memikirkan dirinya sendiri, melainkan orientasinya untuk orang lain [people-centered, team-work centered, company goal centered, public-common centered].  Orang yang banyak memikirkan orang lain, adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi ini.   "You are not alone, I am here with you."   Begitu pula sebaliknya.  Oleh karenanya, orang yang paling menderita dan sial hidupnya adalah yang hanya memikirkan dirinya sendiri.     Inilah dimensi  cinta  dari  bersyukur.  Bersyukur itu benar-benar mendamaikan. So happy, isn't it ?


3.  Bersyukur itu melepaskan, tapi bukan untung.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia terasa ringan dan melayang."

"Bersyukur adalah proses mental yang bernama kesadaran, bukan pikiran. Karena pikiran cenderung menganalisa dan membanding-bandingkan."

Apakah bersyukur itu proses vertical atau horizontal?   Ia mewakili kata kerja, sadar, menyadari, terima kasih, mengungkapkan, menyentuh dan menerima.  Ia hanya mau  menyentuh  hatinya Tuhan secara lurus ke atas.  Ia urusannya  manusia  dengan Tuhannya, tak ada hubungannya dengan orang lain.   Urusan dengan orang lain atau berurusan dengan orang lain adalah proses horizontal.    Ia tak membandingkan dirinya sendiri dengan kemalangan, kesialan dan kegagalan orang lain.  Karena bersyukur yang seperti ini, tidak genuine, tidak sejati.  Contoh:  Selagi nyetir BMW barunya, "Waduh bersyukur, saya tak lagi seperti pengemis di lampu merah yang minta-minta dan gembel itu, padahal dulu saya bagian dari itu.... Wah bersyukur, rumah saya tak kebanjiran, lihat tuh yang di Kelapa Gading, Pluit dan Jatinegara, saban tahun langganan..! Duh, bersyukur banget, anak cewek gue gak hamil kecelakaan, kayak anak tetangga gue...amit-amit.. nyusahin orang tua, bikin malu sekampung...huhuhuhu..!!   Tapi,  hasil dari  ungkapan syukur yang genuine,  akan berdampak horizontal, yaitu manfaat, makna dan arti positif  bagi sekeliling dan bagi dunia. Contoh yang demikian, banyak kita alami di sekitar kita, bukan? 

Apa bahaya dari  membanding-bandingkan secara horizontal? Ia  akan  selalu saja terus-terusan  merasa kurang, tak pernah merasa cukup.   Not-enough mindset, bukan abundance mindset.   Ia akan sulit bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, karena selalu merasa kurang dibandingkan dengan orang lain.  "Kenapa sih kok begini-begini aja terus hidup gue, gak kayak tetangga gue itu...berubah melangit ?  Kenapa ia bisa punya Fortuner putih, aku hanya Avanza hitam...?"  "Kenapa istrinya bisa 2, sedangkan aku hanya 1 itu-itu aja..?"   "Kenapa ia bisa jadi pejabat, sedangkan aku hanya staf biasa..?"  "Kenapa ia selalu beruntung, sedangkan aku selalu sial dan kalah...?"   "Cucian deh loe," kata ABG Jakarta.
Ia selalu memikirkan apa yang tak ia miliki, lupa dengan apa yang telah ditangan.   Karena ia mengejar kesuksesan orang lain yang lebih tinggi.  Inilah bahayanya dari membanding-bandingkan, lupa mensyukuri. Selain itu ia akan menumpukkan iri-dengki, ketidak-ikhlasan dan mental kekurangan dalam batinnya. Lama-kelamaan, berkarat dan lebih sulit dibersihkan lagi.    

Mengapa bersyukur juga bukan untung?  Karena untung [dan bukan untung] juga  proses membandingkan. "Untung hanya motor yang hilang, bukan mobil, untung hanya mobil yang terbakar, bukan nyawa, untung hanya 1 anak yang DO, bukan semuanya, untung hanya Rp 5 juta yang ketipu, bukan Rp 100 juta,  untung hanya dihukum 4 tahun, bukan 10 tahun...! dst "   Inilah bersyukur ritual, sesaat, tidak mendalam, tidak membekas, apalagi melepaskan.

Bersyukur yang benar ialah berterima kasih, Alhamdulillah, Puji Tuhan, Thanks God, jika motor hilang, mobil terbakar, 1 anak DO, tertipu Rp 5 juta, dihukum 4 tahun, dst. Ia mampu melepaskan yang dialami saat ini, tanpa perlu membandingkan dengan kerugian yang lebih besar.  Penghiburan seperti ini kamuflase sesaat.    

Bersyukur yang sejati seperti apa?  Bersyukur  adalah  kesadaran mengingat segala pemeliharaan Tuhan dari sejak kita lahir hingga hari ini. Stop di hari ini, bukan esok hari, karena esok hari, belum milik kita. Saking banyaknya,  jiwa sampai  tak  mampu  lagi  menghitung semua nikmat dan kebaikan Ilahi, bukan? Karena kesadaran  itu  "melampaui"  pikiran [akal, logika] matematika.  Kebaikan Ilahi itu tak terbatas dan tak terselami, hanya kesadaran yang dapat menjangkaunya. Luar biasanya Tuhan, amazing grace!


Begitu hati mau menyadari, mau menerima dan mau berterima kasih saja kepada Yang Diatas, proses ajaib segera terjadi.  Rasakan saja, tak usah dipaksakan!  Emosi jiwa segera disegarkan, diperbaharui, distabilkan dan disapa lembut oleh ketenangan dan kedamaian batin.  Beban berat, tekanan pekerjaan, stress mental, ketakutan masa depan, kekhawatiran akan gagal, akan susah, kepenatan hidup, himpitan ekonomi, semuanya itu terasa dilepaskan, plong, lega dan tenang begitu saja.  Entah siapa yang bekerja?
Batin dan jiwa terasa ringan dan segar.  Fantastic peaceful life.   Ia benar-benar melepaskan.  Ia mencerahkan, membukakan, menerangi batin.  Yang tertutup rapat bertahun-tahun, tiba-tiba segera terlepas, terpental dan tak kembali lagi.   Dan ajaibnya,  apa yang jiwa lihat berikutnya adalah kaca-kaca bening Sorga yang indah.  Bening sebening kaca yang kawin dengan embun jernih, sulit diucapkan.  Batin seolah beristirahat, telah lepas dan telah menemui keteduhan yang dalam.  Dalam, dalam, dalam, tenang, tenang, tenang, sejuk, sejuk, sejuk !  Biarkan ia tertidur lunglai.   Inilah dimensi  kesadaran  dari  bersyukur.   

Setelah bangun, raga yang keriput dan kaku, menjadi lebih cantik, lebih cerah, lebih segar alami dan lebih percaya diri. Tubuh yang cantik keluar dari jiwa yang sehat dan bahagia. 

Nantikan 5 Latihan kesadarn bersyukur yang membuka jendela bahagia yang lebih lebar. Gbu

Sabtu, 21 Desember 2013

Be wise !



Aroma keringat segar berjumpa dengan otot yang stretched.  Dibalut baju kotor, beralaskan matras yoga yang tak lepas dari tas peralatan, beberapa jiwa muda sibuk work-out.  Fisik luar habis-habisan diperindah. Apakah dengan begitu kebahagiaan terasa dekat?    Alam mengajari  bahwa bahagia dan damai itu ada di dalam batin, bukan di sisi luar, bukan?  Sudah berapa lama  jiwa-jiwa  mencari-cari sesuatu ? Sebagus apa jiwa telah menemukan sesuatu itu ?  Self-talk ini datang begitu saja, ketika  mata mengamati  gemuruhnya “Namaste Festival,” pada minggu  1 Desember 2013, di Sultan Hotel,  Jakarta yang bertema healing, yoga dan well-being.

Whithered plants
Sembari  menjalani perayaan dan selebrasi fisik setiap hari,  apakah  jiwa  mudah mencapai oneness  dengan Tuhan? Mengapa tanaman jiwa nampak semakin suram ?  Bagaimana jiwa-jiwa  metropolis  harus menyirami banyak kehidupan yang layu dari dalam, menyegarkan wajah yang keriput sambil menidurkan punggung yang kaku ?  Belum lagi, jiwa-jiwa yang menangis mesti dibalut, cinta yang terluka mesti disembuhkan  dan  dendam pahit mesti disuruh pergi jauh.  Dan itu bukan lewat terapi  fisik atau via nasehat  guru spiritual, tetapi jenis petualangan diri yang nekat untuk "goes deep inside" sendiri.    Spirit di dalam  yang mesti ditembus agar mau bicara.  Kabar baiknya,  diri sendiri  telah menyediakan resep,  terapi dan mantra yang siap pakai, siap menyembuhkan, jika ia diajak bekerjasama [wisdom collaboration].  Bahwa jiwa  perlu dibebaskan untuk mengatakan hal-hal yang jujur tentang dirinya, sudah difahami oleh para guru spiritual dan orang bijak sejak lama.  Diri kitalah yang perlu  mendengarkan suara jiwa masing-masing.  Indahnya, suara itu seolah menjadi Tuhan kecil yang menuntun.     


Top 3 Life Obstacles

Pertama,
God speaks only one and then listen [God’s scripture, our prophet, our meditation]. Tuhan cukup sekali memberitahukan jalan-jalanNya yang benar, agar manusia hidup benar.  Setelah itu Ia hanya duduk diam seolah bermeditasi.  Doa terjadi ketika manusia berbicara kepada Tuhan dan meditasi terjadi sebaliknya. Meditasi kita yang rutin jelas membangun jembatan komunikasi jarak dekat  antara Tuhan dengan jiwa  kita. Hanya seringnya,  meditasi kita belum cukup.  Nafas in & out tanpa bumbu kesadaran tinggi tentang hadirnya Tuhan di kehidupan.   Meski kita telah duduk bersila dan hening, tetap saja kehidupan di sekeliling terasa nan gaduh dan Tuhan menjauh.   

Kedua,
Human listens one and then speaks more.  Mulut manusia terlalu banyak bicara [melalui doa permohonan], jarang mendengarkan suara Tuhan. Our knowledge tends to speak a lot. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Semakin banyak pula membawa  stress yang tak peerlu  masuk.  Yogi, yogini dan meditaser, secara rutin mesti  refleksi, mengapa  asana yoga dan meditasi yang dilakukan terasa ritual tak cukup membawa rasa yang menyegarkan.  May be that is  why  most life are messy, untidy, disorganized and imbalanced.

Ketiga, 
Wisdom yang seharusnya memberi rasa damai, terpinggirkan oleh gerakan materialisme.  Itulah mengapa prinsip indah  “peace in every step” Thich Nhat Hanh terasa retorika, tak menggigit kalbu.  Mengapa juga  bacaan the power  of  love,  serasa  hanya sensasi sesaat ?  Kehidupan tetap  dipenuhi  rasa lain yang mudah khawatir, mudah takut  dan kurang percaya diri ?
 
Berikut  ini  3 praktek harian,  yang semoga dapat membawa pulang keseimbangan alami dan ketenangan batin yang memudar. Semoga ini bukan jadi last bit of hope.

1. Daily Gratitude
Kesadaran bahwa setiap hari adalah hadiah dan keindahan, tetap wisdom terindah.   Wisdom tends to listen, not to talk.  Berdiam dan melambatlah ketika menghampiri Tuhan.  "I am so thankful  for  absolutely everything.  I’m really grateful for everything.  I really do not complain for  everything."  Saya sungguh bersyukur untuk segalanya. Saya sungguh tidak mengeluh untuk segalanya.  Daily gratitude menghindarkan diri tak terlalu banyak bicara, malahan melegakan jiwa yang hampa  dan  melepaskan beban yang menghimpit.  Rasa syukur  dimana-mana memang melegakan.  S ukses gagal, jika disyukuri,  menjadi  sama saja.   Tak terasa,  jiwa  kita tenang  kembali, bahkan tanpa terapi fisik yang sulit.  Ia  mengalir  seperti  air. 

2. Total surrender
Rasa khawatir adalah pembunuh efektif  bagi  ketenangan & kenyamanan.  Sebaliknya, rasa  syukur  yang meluap membuka jalan bagi datangnya “kepasrahan” secara alami, bahkan melimpah.  "I really surrender to  everything.  I really do not worry  for  everything."  Saya sungguh  berserah  untuk segalanya. Saya sungguh  tidak khawatir  dalam segala hal.  Saya sungguh  tak  memiliki hak atas apapun.   Jalani saja apa adanya.  Total  surrender  “menghalau” kekhawatiran.   Ia malah  menggantikannya  dengan  ketenangan dan keteduhan.  When bad things happen to good people,  it is finally still good, but when good  things happen to bad people, it remains bad.   Being Good or being bad bergantung kepada kualitas rasa syukur  dan penyerahan diri. Yogi, yogini dan meditaser yang mampu membungkam rasa takutnya sendiri,  akan  menuai ketenangan  dan kenyamanannya  yang lebih  tinggi.  Ia seperti langit biru yang datang ketika malam di atas rumah.   

3. Total Acceptance
Kepasrahan yang sepenuh-penuhnya membuka jalan bagi datangnya “penerimaan” akan segala sesuatu,  baik maupun buruk.  Semua  adalah kadonya hidup.  "I‘m really sincere for everything.  I am  really not  selfish for everything."  Saya sungguh ikhlas untuk menerima segala hal.  Saya sungguh tidak egois untuk  segalanya.  Acceptance adalah tahapan tertinggi  yang menghidupi jiwa dengan kedamaian yang kokoh dan permanen.  Dengan acceptance, musibah, beban hidup dan masalah seberat  apapun, akan dirasakan ringan dan biasa.   Bukan hanya  tanaman jiwa segar kembali, tetapi kekuatan untuk menang bangkit kembali.  Ia seperti cahaya.  

“Rasa syukur yang meluap membuka jalan bagi datangnya kepasrahan.   Kepasrahan yang penuh   memberi  kelapangan bagi datangnya penerimaan akan segala sesuatu.  Penerimaan menghadiahi hidup dengan kebahagiaan alami.”  Semoga  jiwa-jiwa  yang mencari menemukan,  cinta yang hambar indah kembali, dendam yang pahit, pergi  menjauh.   Lalu hidup yang baik datang  kembali.   Ia jelas tak harus menjadi kebaikan bagi sufi, ulama, pendeta  atau biksu saja.

“God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.” Reinhold Niebuhr [1892-1971]. Tuhan berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang aku tak bisa ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku bisa, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.



Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014
Harry purnama @ Mature Leadership Center [MLC],  harry.uncommon@yahoo.co.id

Jumat, 29 November 2013

Work & life balance itu riil, bukan kebohongan



“Saya menemukan bahwa yang utama dari work & life balance [WLB]  adalah tentang keseimbangan di dalam pikiran dan jiwa, bukanlah keseimbangan fisik dan waktu”  

Certain  wisdom
Any balance, harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih tinggi, a certain wisdom,  bukan  sekedar "bagi-bagi waktu" antara urusan kerja dan keluarga atau kerja dan urusan spiritual atau antara  kerja dan urusan diri sendiri. Jika Anda menganut prinsip WLB sebagai prinsip bagi waktu seperti ini, tak akan pernah bisa "adil."  WLB adalah tentang manajemen diri dan wisdom diri, dan manajemen diri serta wisdom itu riil, bukan kebohongan. 

Jika Anda mendefinisikan  the balance sebagai kombinasi antara  "enjoyment of life"  dan  "achievement of work" itu mak-sense.  Jika Anda mengatakan WLB adalah  "giving life to work," supaya hidup itu tidak diperbudak oleh "hanya kerja," alias workaholic,   juga bisa.  Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of life and the universe,  itu oke. Jika agak sedikit matematis,  Anda yang dari HR, akan berfikir WLB adalah urusan  keseimbangan hak antara employee dan employer, itu fair.  Dan penganut  yang terakhir ini, sedang banyak di Amerika.  Sehingga disana,  hak cuti hamil, hak cuti sakit, hak cuti bepergian,  semua diatur melalui standing-instruction atau SE perusahaan, dst.


No time division
Jim Bird dari worklifebalance.com, berpendapat, manusia "tidak" mungkin bisa membagi waktu secara benar-benar equal, adil dan persis sama diantara banyak urusan dalam hidup dan kerja, maksudnya antara kesibukan di pekerjaan dan quadrant hidup lainnya.  Saya sependapat dengan Jim Bird dan dengan Anda.  Seorang  ibu rumah tangga yang bekerja,  "tak akan" pernah bisa mengatakan kepada diri sendirinya, " Aku akan menaruh semua urusan  pekerjaanku  di depan pintu rumah, ketika aku masuk rumah dan bertemu keluargaku. Dan sebaliknya, "aku akan menaruh semua  urusan keluarga di depan pintu kantor, ketika aku akan bekerja."  Itu tak mungkin,  bukan?  Ternyata, tanpa disadari oleh ibu tsb., ia  malah bermimpi tentang  nasabah tua yang marah-marah tadi siang di kantor, di dalam tidurnya.  Wisdomnya adalah,  terimalah anugerah mimpi itu.

Manusia berkecenderungan secara alami untuk membuat ketidak-seimbangan, menjadi seimbang kembali.   Keseimbangan itu alamiah saja. Siang - malam, hitam dan putih, kenyang dan lapar,  keluar dan masuk,  bekerja dan tidur,  bisnis dan sosial,  tua dan muda,  benar dan salah, utara dan selatan, adalah keseimbangan alam-semesta yang diatur secara natual oleh Tuhan, Kekuatan Maha Besar.  "Terimalah" apa adanya, model  keseimbangan seperti 2 muka koin itu  dan biarkanlah kekuatan alami itu berjalan apa adanya.   Maksudnya,  jangan  sampai Anda  "membunuh"  mimpi malam tentang nasabah marah-marah itu.  Atau Anda mencoba  membenturkan  kepala ke dinding karena tidak bisa konsentrasi kerja di kantor,  karena memikirkan anak sakit di rumah.   Contoh lain,  jika Anda mencoba menyemir rambut habis-habisan, itu mengganggu keseimbangan. Toh kita tak bisa menyemir  wajah kita  jadi muda kembali  atau merubah  umur jadi  muda lagi.  Jika rambut mulai 2 warna, terimalah.  Jika hidung agak pesek, terimalah. Karena jika Anda mulai menyuntik silikon ke wajah, itu merusakkan keseimbangan.  Jika kulit agak gelap, terimalah, jangan dioperasi. Jika rambut sangat keriting, terimalah, jangan direbonding. Percayalah, alam dan Tuhan akan membantu kita menikmati keseimbangan hidup.  Nasabah yang marah, ternyata karena ia sayang dan loyal dengan perusahaan kita dan ia ingin kita memberi layanan yang baik. Jika kita rendah hati dan mau melakukan perbaikan, maka layanan kita segera lebih baik. Positif bukan?  Jika rambut kita agak memutih, justru itu menandakan kematangan dan wisdom. Baik bukan?  Wisdomnya adalah, terimalah pergerakan irama alami kehidupan kita [life acceptance], tetapi  bukan menyerah.        

Balanced life quadrant
Paling tidak, saya menganut  5 quadrant [urusan] hidup yang harus kita urusi setiap saat, agar kehidupan kita seimbang, damai, tenang dan tidak stressful. Mereka adalah quadrant  "Faith, Finance, Family, Friends dan Fit" [5Fs].  Jim Bird mengatakan ada 4 quadrant,  Work, Family,  Friends dan Self.  Siapa saja bisa membagi quadrantnya masing-masing, sesuai selera dan wisdomnya.   Anda mungkin tipe pribadi yang suka njelimet dan presisi, Anda bisa membaginya menjadi 10 quadrant.  It is fair. Jika Anda tipe pribadi  simple-life, semua hal disederhanakan,  Anda silahkan membaginya menjadi  3 quadrant saja,  Faith, family dan finance.  It is so simple.   Kenyataan dan realitanya, 3 atau 10 quadrant,   kita tidak pernah bisa membagi waktu secara adil terhadap 3 atau 10 urusan itu, bukan?  Karena kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid.    Untuk itu,  saya sepakat dengan Jim, bahwa otak kita tak bisa dibagi-bagi dan dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu, kerja dan keluarga, kerja dan sosial, kerja dan ibadah, kerja dan hobi, kerja dan kebahagiaan, dst dst.  

Lalu keseimbangan kerja dan kehidupan itu sebaiknya seperti apa? Bagaimana memanagenya?  Saya lebih mengatakan, WLB adalah memberi perhatian proportional [seimbang] terhadap semua quadrant hidup kita,  dan itu bukan pembagian waktu yang adil.  Memberi "perhatian" adalah jangan sampai ada satu quadrant hidup  kita  yang "bolong,"  terlantar,  tak terurusi.  
Jika itu terjadi,  hidup kita tidak seimbang.  Degree atau tingkat, dimana satu quadrant terlantar  dibandingkan quadrant lainnya,  berbeda  satu orang dengan lainnya.   It is normal. 

How to manage it
Karena keseimbangan esensinya  adalah sebuah seni bukan eksakta matematika, maka managemen keseimbangan adalah upaya yang sederhana, simple dan mudah, tidak serumit matematika dan ilmu kimia.  Fokusnya dan kuncinya ada di kendali PIKIRAN Anda sendiri, saya sebut sebagai  dimensi perhatian, porsi atau sentuhan.  Keseimbangan adalah memperhatikan keseluruhan, sampai Anda sendiri merasa "semua hal  terkendali dengan baik,  happy, tenang, nyaman dan damai."   Ia adalah kombinasi antara kinerja alam, kinerja wisdom [hikmat] dan mind-set [pengaturan pikiran].  

Karena melibatkan kerja wisdom dan pikiran,  yang menentukan ukurannya adalah Anda sendiri.  Ya,  WLB adalah subyektif, unik dan specific, tapi dapat diukur.  Sebagai contoh,   jika quadrant  ibadah kita sedang "bolong" dalam waktu yang cukup lama, misalkan 5 tahun,  maka wisdom Anda akan mengatakan "something wrong must be corrected soon."      Jika ternyata Anda kelewat sibuk dengan pekerjaan,  maka  alarm WLB akan  berdering di otak Anda, "hey, berhenti bekerja dan ingatlah aku disini."   Jika Anda tetap membandel,  maka bukan lagi alarm keseimbangan yang datang mengingatkan Anda,  jiwa dan roh spiritual Anda sendiri  akan terasa "sakit."  Hidup spiritual  Anda akan terasa hampa, kering, kosong dan tak bermakna. Ini adalah  tandanya,  indikatornya, signalnya.   Ini  adalah hukum keseimbangan alami.   Keseimbanganlah yang  akan  bekerja sendiri,  otomatis,  menjaga  total hidup kita harmoni dan selaras.  

Sekali lagi, WLB,  bukanlah tentang membagi waktu, melainkan memberi perhatian, atensi, porsi, sentuhan  dan mengendalikan quadrant hidup kita.  Itu  2 hal yang berbeda, yang satu  tentang  atensi/kendali  [wisdom]  dan yang satunya  tentang  bagi-bagi waktu.   Setelah Anda "tersadar" bahwa jiwa spiritual Anda "kosong dan sakit,"  saat itulah Anda harus memberi perhatian khusus [atensi, energi sentuhan] terhadap kehidupan spiritual Anda [quadrant Faith, ibadah], agar kembali dalam kondisi harmonis dan selaras.   Indikatornya mudah diamati dan dirasakan, jiwa Anda  kini menjadi  tenang dan damai kembali,  apa saja yang Anda lakukan kini menjadi lebih bermakna dan berarti.  Itulah kerja quadrant Faith atau ibadah, keimanan Anda.  Teknisnya, ya benar,  Anda  tentu  akan  membutuhkan  "dimensi waktu"  [alokasi waktu] tertentu  untuk  menegakkan ibadah Anda. Waktu hanyalah media, sarana dan alat di dalam menjaga keseimbangan.  Karena bersifat subyektif, unik dan specific, maka level kecukupan pencerahan [charging spiritual] tsb, tentu berbeda-beda antar individu.  Pak Anwar membutuhkan waktu pemulihan iman 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 1 tahun. 

Life art
Contoh lainnya,  bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant Family].  Tetapi bagi  ibu Roy butuh 6-12 bulan untuk memulihkan kembali  hubungan yang  "terputus"  dengan anaknya yang sudah lama ia tinggalkan dengan baby sitter dan memanjakannya dengan uang berlimpah. Hukum keseimbangan akan bekerja mengirimkan "alarm WLB"  lebih lambat  kepada ibu Roy.   Ibu Roy, akan  melewati proses pemulihan sbb.:  menyesali  gaya hidupnya,  merenungi kesalahannya,  menangisi dosanya dan  mencari cara terbaik sebagai langkah iman.  Ia mulai pelan-pelan mendekati sang anak. Disini ia membutuhkan adaptasi waktu yang lebih lama ketimbang pak Roy.     
Bagi pak Roy,  WLB itu masalah  mudah saja  untuk diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung "terobati"  [dipulihkan].   At the end, setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang  "berdarah-darah" tsb,  hubungan dengan anaknya,  dipulihkan.  Ia tak belajar itu semua dari bangku sekolah.   Ia menemukannya sendiri, meramunya sendiri dan meraciknya sendiri.  It is an art of life.   Ia lalu menata-ulang pola hidupnya, hingga keseimbangan antara urusan  kerja dan  urusan keluarga menjadi baik.  WLB itu seni hidup, benar-benar tentang sebuah seni. Ia bisa dirasakan, dijiwai dan dipelajari dari alam semesta dan dipraktekkan.  

WLB atau keseimbangan adalah kerja alam, wisdom [hikmat] dan kinerja pikiran. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup [life art,  a basic life-skill],  bukan eksakta matematika, apalagi hanya soal bagi-bagi waktu."  WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] oleh siapa saja,  sesuai kedewasaan dan kematangannya.             

Jika seandaninya  Anda membutuhkan bantuan khusus, Anda bisa mulai membaca buku-buku atau mencari teman,  mengikuti komunitas yoga atau meditasi di kota Anda  atau bertanya kepada seseorang yang lebih senior atau kepada fasilitator/mentor.  

harry purnama, coach/mentor WLB
harry.uncommon@yahoo.co.id atau 0821.3147.7119