Morning meditation around water

Sabtu, 11 Januari 2014

Bersyukur itu membebaskan


Bersyukur adalah kekayaan yang terlupakan, meski ia mengandung kekuatan batin, kematangan jiwa, vitalitas, enthusiasme, emosi positif, kepuasan hidup, optimisme, empati, spiritualitas dan mengurangi ikatan kepada materi [Dr Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, Research project on Gratitude and Thankfulness, 2003]. Ke 2 psikolog scientist ini, telah banyak meneliti tentang gratitude dan bukunya serta artikelnya telah banyak di-quote oleh berbagi tulisan di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka banyak meneliti perilaku dari perspective biologi evolusi dan insting, mulai dari isu psikologi personal, psikologi emosi, psikologi agama, balas dendam, bersyukur, pengampunan dan penolakan.  

"Orang yang tahu bersyukur adalah orang yang bernyanyi,  sambil  menggenggam bunga yang sedang mekar di tangannya. Oh betapa indahnya, orang-orang yang bersyukur.  Tuhan tidak menjauh ! Tak ada orang yang bersyukur, tapi  batinnya menjerit dan jiwanya menderita."

Bersyukur itu mirip bernyanyi.  Ia memancarkan puisi, syair dan keindahan. Siapa saja bisa bernyanyi, meski fales... Percayalah, yang terdengar tetaplah keindahan. Tetaplah bernyanyi, jauh lebih baik ketimbang omong kosong, karena ia lebih fales !

Saking bagusnya penyanyi melantunkan lagunya, sampai-sampai pendengar tak ambil pusing lagi dengan latar belakang masalah keluarganya atau pribadinya.  Yang di latar belakang tertutupi oleh totalitas keindahannya. Karena tak ada yang bisa mengalahkan keindahan. Semakin lagunya dijiwai, semakin membekas di hati pendengarnya, semakin lupa akan segalanya. Semakin sering bersyukur, nyanyian jiwa kita semakin merdu, semakin banyak yang rindu ingin mendengarkannya. Begitu juga sebaliknya.

Bersyukur itu mirip kembang, bunga yang mekar. Sedangkan damai itu mirip kupu-kupu. Semakin dikejar, ia terbang menjauh. Jika tak dikejar, ia hinggap di kehidupan. Semakin rajin kita bersyukur, kembang kita semakin mekar mengharum, kupu-kupu betah tinggal bersamanya. Begitu juga sebaliknya.


3 Dimensi bersyukur yang membahagiakan

1.  Bersyukur itu membebaskan.

"Saking melimpahnya rasa syukur kita, sampai Tuhan tak menemukan lagi dosa-dosa kita." 

Apakah ada orang-orang yang sungguh bersyukur seperti di film? Jika kita menemui orang-orang yang bahagia seperti itu di sekitar, kita akan mendapati ungkapan syukur yang melimpah dari gerak tubuhnya. Mudah menandainya !  Wajahnya bersih. Auranya teduh dan damai. Kata-katanya tenang dan menyejukkan.  Gerakannya melambat. tak pernah ia tergesa-gesa. Ia tampil sangat positif, tak bisa ditandingi.  Ia tak pernah nampak murung, apalagi sedih dan pilu.  Yang dilakukannya semuanya jadi kesenangan.  Yang berada di dekatnya, nyaman.  Yang bekerja bersamanya betah.  Yang ditinggalkannya, kebajikan. Yang dikenang dari orang-orang ini, adalah kebajikan.  Sehingga Tuhan sampai  lupa mencatat kekurangannya. Karena orang-orang ini selalu memandangi kelebihan dan kebaikan lebih dari kekurangan dan keburukan. Jika kita fokus pada kelebihan dan kebaikan setiap saat, kitapun jadi lupa ada yang namanya kekurangan  dan keburukan.   Ia menutupi dosa-dosa dan kelemahan diri. Ia nyata, bukan kebohongan ilusi nan fiktif.  Temukan mereka ada di sekitar kita.

Apakah agama membebaskan?  Bukan agamanya, tapi iman dan tindakannya.  Semakin banyak yang kita yakini, tidak otomatis membebaskan, justru terkadang menjadi ikatan baru. Berhati-hatilah.    Tindakan bersyukur itulah yang  membebaskan.  Semakin banyak iman dan tindakan bersyukurnya,  semakin lebar pula jendela rumahnya.  Jiwanya lapang, tidak sempit dan terkotak-kotak. Pandangannya melebar, tidak menyempit.  Keinginannya akan dunia mengecil dengan sendirinya.    Semakin banyak udara pagi yang bebas masuk dan keluar.  Ia semakin  terlepas dari ikatannya.  Ia menjauhi yang jahat dan keburukan, yang selama ini mengikatnya.  Apa saja itu?  Ketidak-jujuran, kebohongan, kemunafikan, kedustaan, kesombongan dan arogansi diri. Orang yang penuh syukur, sebaliknya,  akan memilih yang jujur dan yang baik.  Ia pergi bebas sebagai burung lepas yang merdeka.   Tapi, kemerdekaannya itu tak akan melebihi kejujuran dan kebaikan. Sehingga ia tak bisa sombong dan angkuh diri.   

Bersyukur itu kesadaran tertinggi yang bisa diraih manusia, setelah itu tak ada lagi. Pasrah total dan penerimaan total akan segala sesuatu, hanya  akibat yang wajar dari melimpahnya rasa syukur.   Bersyukur adalah  proses spiritual universal, apapun kepercayaannya. Ia menjadi tag-line yang gamblang dan netral ketika di bawa ke ranah korporasi ataupun individu. Tak ada yang mampu menolak atau melarang sesuatu yang universal.   Inilah dimensi  spiritual dari  bersyukur.      


 
2.  Bersyukur itu mendamaikan.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia bisa merasakan cinta bagi semuanya."

" Satu-satunya keajaiban di dunia ini yang bisa menyatukan umat manusia adalah rasa syukur dan rasa damai. Itulah formula sukses luar biasa alaminya,  yang disediakan alam semesta ini. Manusia tinggal memetiknya."

Tubuh dari bersyukur adalah tindakannya, sedangkan baju luarnya adalah kata-kata indah, seperti, "I love you so much, I am so grateful  for what I have,  I am so thankful  for absolutely  everything,  God is so good to me, Praise the Lord.....dst."   Bersyukur itu hidup yang nyata.  Ia dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang yang mengerti hidup.  Hidup yang berarti  adalah  hidup yang dipenuhi  ungkapan rasa syukur, berterima kasih kepada Tuhan, setiap saat [be thankful at all times to God]. Orang yang bersyukur dengan mudah mengubah setan keluhan  menjadi kebahagiaan dan rancangan hidup yang positif, kekurangan  menjadi kelebihan, perbedaan  menjadi persamaan, ketimpangan  menjadi keadilan, dst.


Apakah bersyukur bisa dilakukan oleh orang yang tak beragama?  Dengan paradigma ini, absolutely it can, nothing wrong, nothing impossible.  Karena,  bersyukur adalah tindakan iman universal yang abadi, timeless dari generasi ke generasi, dari rumah ke rumah, dan dari pribadi ke pribadi.  

Apakah rasa syukur adalah sumber pikiran positif? Yes, that's 100 % right.  Rasa syukur itu memerdekakan dan membebaskan pikiran negatif, kebiasaan buruk, ketakutan dan ikatan masa lalu.  Jika dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh, ia mendamaikan dirinya dengan  manusia lain, dengan alam semesta dan dengan Pemilik kehidupan.  Karena ia tahu siapa dirinya, tahu berterima kasih dan tahu mengabdi kepada Si Pemberi diri.  Tak ada alasan lagi, bagi Tuhan untuk "memenjarakan"  pikiran negatif untuk dirinya.
Tuhan teramat senang, menghadiahi dirinya dengan kado Tahun Baru setiap hari. Setiap hari selalu baru dengan rasa syukur dan rasa bahagia.  Ia memikirkan hal-hal yang positif, harapan dan masa depan yang tak terbatas.  Keberhasilan sama saja dengan kegagalan dan kegagalan sama saja dengan keberhasilan. Semua menjadi sama, menjadi nampak baik-baik saja.  Karena segala ciptaanNya indah adanya. Oleh karena itu, ia tak memenjarakan dendam dan sakit hati atau nafsu saling mengalahkan.  Yang ia rasakan hanya rasa damai yang melimpah ruah, meluap dari jiwa yang indah.  Ia memiliki jendela kedamaian yang lebar. Jendela lebar itu bukan penjara.

Apakah rasa syukur yang melimpah itu dapat mengalahkan ego? Yes, it is true again.   Saking lebarnya, ia melampaui keterbatasan dan perbedaan-perbedaan. Saking cara pandangnya menjadi demikian luasnya, sekarang  ia bisa menerima mereka yang berbeda dengan dirinya.   Ia mengalahkan peperangan, keserakahan diri, ego dan  perbedaan agama.  Ia membuka mata selebar-lebarnya terhadap kasih sayang.  Yang ia sebarkan hanya cinta dan kasih sayang.  Bernyanyi  dan berkembangnya bunga,  semuanya ke arah keluar [inside-out direction].   Itulah mengapa orang yang bersyukur,  tak lagi memikirkan dirinya sendiri, melainkan orientasinya untuk orang lain [people-centered, team-work centered, company goal centered, public-common centered].  Orang yang banyak memikirkan orang lain, adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi ini.   "You are not alone, I am here with you."   Begitu pula sebaliknya.  Oleh karenanya, orang yang paling menderita dan sial hidupnya adalah yang hanya memikirkan dirinya sendiri.     Inilah dimensi  cinta  dari  bersyukur.  Bersyukur itu benar-benar mendamaikan. So happy, isn't it ?


3.  Bersyukur itu melepaskan, tapi bukan untung.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia terasa ringan dan melayang."

"Bersyukur adalah proses mental yang bernama kesadaran, bukan pikiran. Karena pikiran cenderung menganalisa dan membanding-bandingkan."

Apakah bersyukur itu proses vertical atau horizontal?   Ia mewakili kata kerja, sadar, menyadari, terima kasih, mengungkapkan, menyentuh dan menerima.  Ia hanya mau  menyentuh  hatinya Tuhan secara lurus ke atas.  Ia urusannya  manusia  dengan Tuhannya, tak ada hubungannya dengan orang lain.   Urusan dengan orang lain atau berurusan dengan orang lain adalah proses horizontal.    Ia tak membandingkan dirinya sendiri dengan kemalangan, kesialan dan kegagalan orang lain.  Karena bersyukur yang seperti ini, tidak genuine, tidak sejati.  Contoh:  Selagi nyetir BMW barunya, "Waduh bersyukur, saya tak lagi seperti pengemis di lampu merah yang minta-minta dan gembel itu, padahal dulu saya bagian dari itu.... Wah bersyukur, rumah saya tak kebanjiran, lihat tuh yang di Kelapa Gading, Pluit dan Jatinegara, saban tahun langganan..! Duh, bersyukur banget, anak cewek gue gak hamil kecelakaan, kayak anak tetangga gue...amit-amit.. nyusahin orang tua, bikin malu sekampung...huhuhuhu..!!   Tapi,  hasil dari  ungkapan syukur yang genuine,  akan berdampak horizontal, yaitu manfaat, makna dan arti positif  bagi sekeliling dan bagi dunia. Contoh yang demikian, banyak kita alami di sekitar kita, bukan? 

Apa bahaya dari  membanding-bandingkan secara horizontal? Ia  akan  selalu saja terus-terusan  merasa kurang, tak pernah merasa cukup.   Not-enough mindset, bukan abundance mindset.   Ia akan sulit bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, karena selalu merasa kurang dibandingkan dengan orang lain.  "Kenapa sih kok begini-begini aja terus hidup gue, gak kayak tetangga gue itu...berubah melangit ?  Kenapa ia bisa punya Fortuner putih, aku hanya Avanza hitam...?"  "Kenapa istrinya bisa 2, sedangkan aku hanya 1 itu-itu aja..?"   "Kenapa ia bisa jadi pejabat, sedangkan aku hanya staf biasa..?"  "Kenapa ia selalu beruntung, sedangkan aku selalu sial dan kalah...?"   "Cucian deh loe," kata ABG Jakarta.
Ia selalu memikirkan apa yang tak ia miliki, lupa dengan apa yang telah ditangan.   Karena ia mengejar kesuksesan orang lain yang lebih tinggi.  Inilah bahayanya dari membanding-bandingkan, lupa mensyukuri. Selain itu ia akan menumpukkan iri-dengki, ketidak-ikhlasan dan mental kekurangan dalam batinnya. Lama-kelamaan, berkarat dan lebih sulit dibersihkan lagi.    

Mengapa bersyukur juga bukan untung?  Karena untung [dan bukan untung] juga  proses membandingkan. "Untung hanya motor yang hilang, bukan mobil, untung hanya mobil yang terbakar, bukan nyawa, untung hanya 1 anak yang DO, bukan semuanya, untung hanya Rp 5 juta yang ketipu, bukan Rp 100 juta,  untung hanya dihukum 4 tahun, bukan 10 tahun...! dst "   Inilah bersyukur ritual, sesaat, tidak mendalam, tidak membekas, apalagi melepaskan.

Bersyukur yang benar ialah berterima kasih, Alhamdulillah, Puji Tuhan, Thanks God, jika motor hilang, mobil terbakar, 1 anak DO, tertipu Rp 5 juta, dihukum 4 tahun, dst. Ia mampu melepaskan yang dialami saat ini, tanpa perlu membandingkan dengan kerugian yang lebih besar.  Penghiburan seperti ini kamuflase sesaat.    

Bersyukur yang sejati seperti apa?  Bersyukur  adalah  kesadaran mengingat segala pemeliharaan Tuhan dari sejak kita lahir hingga hari ini. Stop di hari ini, bukan esok hari, karena esok hari, belum milik kita. Saking banyaknya,  jiwa sampai  tak  mampu  lagi  menghitung semua nikmat dan kebaikan Ilahi, bukan? Karena kesadaran  itu  "melampaui"  pikiran [akal, logika] matematika.  Kebaikan Ilahi itu tak terbatas dan tak terselami, hanya kesadaran yang dapat menjangkaunya. Luar biasanya Tuhan, amazing grace!


Begitu hati mau menyadari, mau menerima dan mau berterima kasih saja kepada Yang Diatas, proses ajaib segera terjadi.  Rasakan saja, tak usah dipaksakan!  Emosi jiwa segera disegarkan, diperbaharui, distabilkan dan disapa lembut oleh ketenangan dan kedamaian batin.  Beban berat, tekanan pekerjaan, stress mental, ketakutan masa depan, kekhawatiran akan gagal, akan susah, kepenatan hidup, himpitan ekonomi, semuanya itu terasa dilepaskan, plong, lega dan tenang begitu saja.  Entah siapa yang bekerja?
Batin dan jiwa terasa ringan dan segar.  Fantastic peaceful life.   Ia benar-benar melepaskan.  Ia mencerahkan, membukakan, menerangi batin.  Yang tertutup rapat bertahun-tahun, tiba-tiba segera terlepas, terpental dan tak kembali lagi.   Dan ajaibnya,  apa yang jiwa lihat berikutnya adalah kaca-kaca bening Sorga yang indah.  Bening sebening kaca yang kawin dengan embun jernih, sulit diucapkan.  Batin seolah beristirahat, telah lepas dan telah menemui keteduhan yang dalam.  Dalam, dalam, dalam, tenang, tenang, tenang, sejuk, sejuk, sejuk !  Biarkan ia tertidur lunglai.   Inilah dimensi  kesadaran  dari  bersyukur.   

Setelah bangun, raga yang keriput dan kaku, menjadi lebih cantik, lebih cerah, lebih segar alami dan lebih percaya diri. Tubuh yang cantik keluar dari jiwa yang sehat dan bahagia. 

Nantikan 5 Latihan kesadarn bersyukur yang membuka jendela bahagia yang lebih lebar. Gbu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berbagi bagi keseimbangan hidup kita. Terima kasih salam work & life balance