Morning meditation around water

Senin, 24 November 2014

Work/life balance : Aku sungguh bersyukur

Life-check
Buku kehidupan kita punya dua warna, warna bahagia atau warna menderita? Rumah kita juga sama. Kendaraan yang kita tumpangi juga sama, sehat atau sedang mogok? Kita masih diberi kemewahan untuk dapat melakukan general check-up /“life-check” kesehatan luar & dalam diri kita, atas rumah yang kita tinggali dan atas kendaraan yang kita naiki. Self engine check-up begitu mudah, ambil saat diam diri sejenak, lalu mulailah bertanya pada diri sendiri, cukup dengan self-talk. Hari-hari ini, apakah kita cenderung terhanyut, terhilang atau terlena dalam keseluruhan kehidupan, lost in connectedness, not knowing any where then not going any where?  Apakah kita sulit mengenali dimana kendaraan hidup kita berada saat ini “in terms of our life journey?” Apakah suhu tubuh kita meningkat karena rasa cemas, gelisah, khawatir, tegang dan amarah yang jauh lebih banyak dari pada rasa tenang, nyaman hidup dan damai?  Apakah rumah hidup kita atau rumah kita secara fisik, nampak rapi tertata atau sedang kotor berantakan? Sudahkah kita melakukan segala sesuatu dengan makna atau sekedar lewat atau sekadar sampai? Yakinkah kita bahwa wisdom kita, selain agama dan psikologi, sesungguhnya ia dapat menolong kita menemukan jalan untuk kembali? Apakah kita bisa tidur enak dan makan dengan nikmat saat ini? Life-check adalah jalan membuka diri untuk datangnya hal-hal baik dan benar untuk kita menambahi bab-bab cantik dalam buku kehidupan kita. Life-check benar-benar harus kita lakukan untuk diri kita, bukan untuk orang lain. Karena memeriksa kehidupan orang lain selain dianggap iseng tak punya kerjaan, juga tak etis masuk pagar orang. Mari kita fokus membersihkan rumah kita sendiri dengan sapu yang bersih.


Mindfulness
Jika kita masih merasa “on the right track,” bersyukurlah. Jika lost sedikit atau lost banyak, bersyukurlah, paling tidak kita masih dapat mereview kembali kebiasaan kita. Apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya? Jika sudah bersyukurlah. Jika belum, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be mindful” dalam keseharian. Tepatnya mesin hidup kita sedang menderu-deru dalam hutan ketergesaan dan keterburuan meski untuk hal-hal yang rutin dan sepele. Mandi terburu-buru. Makan dan minum buru-buru. Bicara buru-buru. Di jalan buru-buru/balapan. Kerja buru-buru. Akibatnya malam tidak bisa buru-buru tidur. Kita mungkin sedang “unconnected” dengan apa yang kita lakukan. Kita sangat mungkin tidak menikmatinya. Pedal pikiran kita hanya tertuju kepada sang hasil [scoreboard di dinding, target atasan, kejar tayang, rekening deposito, menambah logam mulia, membeli mobil lagi, menambah apartemen lagi, membangun pabrik baru atau menunggu pinjaman bank dst]. Itulah mengapa barangkali ketenangan, kenyamanan dan kedamaian telah menjauh dari dash-board hidup kita? Kita sedang membutuhkan “mindfulness” di saat ini. Karena jika kita “kehilangan” saat ini, sesungguhnya kita sedang get lost. By cultivating the new wisdom to feel what we are doing moment by moment, minute by minute, second by second at present moment, we could be back at present moment fully. Bersyukurlah, dengan mindfulness, tanpa kita harus pergi ke vila tiap minggu atau minta resep dokter , kita sangat mungkin mendapatkan kembali keindahan, kesegaran & kesembuhan hidup saat ini juga.


Gratefulness
Kedua, apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” tsb dengan penuh rasa syukur yang tulus kepada Tuhan? Apakah ungkapan syukur itu kita lontarkan sebatas ritual belaka? Jika ya, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be grateful lively.” Bisa jadi meski sudah memiliki sangat banyak, kita sedang “kehilangan” apa artinya cukup. Kita sedang tidak mensyukuri apa yang sudah banyak. Argometer di kepala kita hanya fokus kepada tangga berikutnya. Hidung lebih mancung, kulit lebih putih, rambut lebih lurus dan hitam,  penampilan lebih muda, badan lebih langsing, pikiran lebih fresh, kerja lebih semangat, gaji lebih besar,  pabrik lebih banyak, perusahaan lebih banyak, rumah lebih besar & lebih mewah. mobil lebih banyak & lebih up to date, halaman lebih luas, penjaga rumah lebih banyak, anjing piaraan lebih banyak, tabungan lebih besar dan pencapaian lebih baik, anak lebih manis dst. Mengejar tangga berikutnya sama sekali tidaklah keliru/salah. Tuhan sangat menghendaki kita hidup makmur dan berkecukupan sehingga bisa membantu orang lain. Tinggal kita mampu menjaga keseimbangannya atau tidak?


Live a good life
Bersyukurlah, jika itu rapor kita hari ini, mari kita re-start computer kita. Kita terpanggil untuk secara sadar & sistematis untuk menyeimbangkan kehidupan. Ambillah 2 langkah kecil sederhana [little wisdom].

Yang pertama,  “be mindful” [sadar penuh]. Ia adalah sumber ketenangan pikiran. Lakukan “1″ hal saja “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya. Wisdom, membantu kita menyadari paradoks bahwa kualitas lebih baik dari kuantitas. Seimbangkan juga dengan multi-tasking yang adalah seni menata-ulang keseluruhan.  Justru melakukan 1 hal kecil dengan nikmat, sebenarnya keseluruhan gambar hidup sedang ditata-ulang tanpa kita mampu menyadarinya.
Mandi tak lagi terburu-buru. Makan dan minum menjadi santai. Bicara menjadi lebih relaks dan lebih dimengerti. Di jalan tidak lagi buru-buru/balapan. Kerja jadi lebih teliti dan nikmat. Akibatnya malam benar-benar terasa malam. Lalu ia berhasil mengantarkan tubuh & pikiran untuk tidur lebih lelap, tanpa menelan obat penenang. Latihan “be mindful” yang berulang-ulang, membuat keseluruhan hidup berjalan lebih melambat & lebih perlahan. Segala yang lambat & perlahan biasanya disertai rasa tenang, lebih kalem dan penyabar terhadap segala sesuatu. Melalui itu, kita  sedang membangun jembatan ke saat ini ["reconnected"] dengan apa yang kita sedang lakukan moment by moment. Tanpa disadari lagi, “present moment” benar-benar telah menjadi milik hidup kita hari ini.
Ada lagi praktek “mindfulness” yang lain, seperti jalan melambat, nafas melambat dan teratur, latihan fokus/konsentrasi melalui meditasi mindfulness, yoga dengan pose tertentu dst, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang lebih tinggi.


Yang kedua, “be grateful” [syukur penuh]. Ia adalah sumber kedamaian hati, kelegaan dan kenyamanan batin.   Soal syukur ini, kita semua bukan pemula, hanya pembelajar. Lakukan “1″ hal tadi tetap dengan “be mindful” [sadar penuh], namun kini tambahkan 1 soft-gel herbal yang bernama syukur penuh. Mandi lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Makan dan minum lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Bicarapun lebih nikmat karena hadirnya syukur. Bicara menjadi hanya seperlunya dan lebih terasa maknanya. Di jalan selain tidak lagi buru-buru/balapan, juga lebih nikmat karena disertai syukur baik macet maupun lancar. Kerja lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Akibatnya tidur malam lebih nikmat /berkualitas. Rumah hidup kita kini berwarna lebih cerah karena hadirnya warna syukur dari mulai genteng, atap, pintu, jendela dan lantainya. Nafas jadi lebih ringan & lega. Denyut jantung lebih teratur. Tensi lebih normal. Stress yang menekan lalu pergi dan membuat pikiran plong. Langkah terasa enteng. Semua beban terasa ringan. Solusi lalu datang tanpa kita meminta dan mengejarnya. Hidup benar-benar bahagia dan damai. Jika semua hal dilakukan karena sudah bahagia dan damai, maka hasilnya akan berbeda pula, bukan? Ada teman yang bilang, inilah ajaibnya bersyukur, bersyukur bikin kaya, bersyukur bukan berarti hanya pasrah dan berhenti berusaha justru jadi lebih berusaha.
Ada pula latihan “gratitude” lainnya seperti, membuat jurnal/kartu give thanks harian, menulis surat kepada seseorang kepadanya kita bersyukur/berterima kasih, menulis buku syukur, fokus hanya kepada berkat bukan kepada masalah/kesulitan, mengucapkan syukur terima kasih 100x sehari, bersyukur di bawah matahari, latihan sentuhan/massage, dst. namun itu memerlukan komitmen extra.


Repeat practice
Berhenti mengeluh tidak lagi cukup. Kata-kata yang indah dan quotation yang manis tidaklah cukup. Berjanji akan berubah juga tidak cukup. Menandatangani pakta integritas hanya permulaan. Sumpah jabatan hanya halaman pertama dari ujian. Apa yang membuatnya cukup, adalah karena wisdom upgrade ini meski kecil, jika “dilakukan” secara konsisten setiap saat, ia akan menghasilkan better “peace of mind.”
Belajarlah untuk mensyukuri apa saja tentang hari ini. Belajarlah untuk mensyukuri semua yang terjadi minggu ini. Lalu belajarlah untuk mensyukuri apa saja yang mampu diingat pada bulan ini [recall back]. Sehingga kita akan mampu belajar untuk mensyukuri semua yang terjadi pada tahun berjalan. Akhirnya rasa syukur telah naik kelas menjadi pelajaran “tahu diri” seumur hidup.
Jika better “peace of mind” ditingkatkan kadarnya secara terus-menerus [menanjak] melalui latihan demi latihan itu, maka ia akan menetap/mengakar menjadi kebiasaan baru. Karena memang kebiasaan kita selalu bisa diubah. Kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan memang untuk diasah dan ditumbuhkan. Lihatlah, rasa syukur telah menjadi diri kita.
Terlebih lagi, jika hasil kerja perubahan itu dihargai oleh diri sendiri dan lingkungan, maka bersyukurlah ia akan berlipat ganda dampaknya terhadap pencapaian hidup [prestasi, passion dan kepuasan]. Hasil “repeat practice” ini adalah level ketenangan, kenyamanan dan kedamaian menjadi jauh lebih besar dari pada semua kesedihan, kegelisahan dan kekhawatiran kita.  Lalu dimana pressure & stress berada? Mereka tetaplah ada “di depan” rumah kita. Jagalah jangan sampai mereka “masuk” kembali. Tandanya adalah, ketika masalah datang, kita mampu bersyukur atasnya. Itu tanda rumah kita masih bersih.


Rest in a lot
Upgrade wisdom secara sadar ini, dapatlah kita sebut sebagai “rest in a lot”  atau “peace in a lot.”  Kini kita mampu duduk dalam keheningan, berdiri dalam kesederhanaan dan rebah dalam kerendahan. Kita membuat work/life balance menjadi riil, bukan lagi wacana/keinginan atau sekadar otak-atik membagi/mengatur waktu belaka. Work/life balance sesungguhnya harus terjadi pertama-tama di pikiran, di perasaan dan di jiwa, baru kemudian mengatur kegiatan demi kegiatan sesuai skala prioritas.

Beberapa benefit yang dapat segera kita observe dari wisdom upgrade tsb. adalah:
1. Kebahagiaan meningkat [positive emotions, life satisfaction, vitality, optimism and lower levels of depression and stress].
2. Lebih sosial  [more empathic, generous and helpful]. Interaksi dan engagement kita dengan orang lain lebih baik,
3. Spiritualitas membaik [a better belief in the interconnectedness of all life and commitment and responsibility to others].
4. Materialisme termanaged [less importance on material goods, less likely to judge own and others success in terms of possessions accumulated; less envious of wealthy persons, and are more likely to share possessions with others].
[Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, "Counting blessings vs burdens, an experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life," 2003].

Tak terasa,  kita telah memberikan  “hadiah besar”  buat diri kita sendiri  yaitu   menjadi  lebih dewasa, lebih matang  dan  lebih bijak, karena kita  mampu  menemukan  siapa  diri  kita dalam   keterhubungan dengan keseluruhan, yaitu Tuhan sang pemilik keseluruhan.
1416897090823194670
work/life balance di Indonesia

Selasa, 14 Januari 2014

5 Latihan kesadaran bersyukur

"Uang termurah untuk membeli kebahagiaan adalah bersyukur."

"Segala sesuatu yang tak disyukuri akan menjadi beban."

Dr Robert Emmons, psikolog peneliti tentang gratitude dan happiness, dari University of California, Davis, menemukan bahwa bersyukur meningkatkan level kebahagiaan sebanyak 25%. Jika ditambah dengan cinta akan Tuhan dan ciptaannya, saya mengatakan, kebahagian manusia meningkat 100%.  Yang desperate hidupnya, akan bangkit kembali.  Yang kacau rumah tangganya, akan dikembalikan utuh.   Yang  runtuh  karirnya, akan dipulihkan. Yang sudah bagus, naik ke next level.  Jika dunia ini warnanya adalah bersyukur, maka peperangan, terorisme, korupsi, perebutan kekuasaan dan kriminalitas akan turun drastis, bukan?  Lalu manusia menjadi benar-benar manusia, perilakunya benar-benar human, dan Tuhan tak lagi disamai.

Agar dunia semakin sadar, semakin indah dan semakin bahagia, mari bersama mempraktekkan salah satu dari 5 latihan kesadaran bersyukur berikut ini. Ini adalah latihan penuh kesadaran [self-awereness exercise, transforming the mind, cultivating new habit].  Ambil satu atau dua latihan sebagai kebiasaan yang paling nyaman, at least untuk 1 bulan pertama, tanpa henti. Jika terhenti di tengah, mulai lanjutkan lagi, tak perlu mengulang dari awal.   Karena happiness is a journey, selain tak bisa instant dan dadakan, ia harus dirasakan secara personal, juga tak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. 

Yang terpenting dari perjalanan ini,  bukan banyaknya, bukan gembar-gembornya, namun rutinitasnya, penuh maknanya dan penghayatannya.  Ia harus dilatih dan dibentuk.   Karena self-awareness leads to self-mastery, maka hasilnya hidup akan terasa lebih nyaman, lebih tenang dan lebih enjoy.  Lalu hati yang gembira benar-benar menjadi obat, bukan teori dan janji.  Enak bukan ? Apa tandanya nyaman? Ketika makan, tidur dan nge-seks [jika berhak], semuanya terasa enak, betah dan kepengen lagi. Apa tandanya tenang? Hidup tak tergesa-gesa, tak mengejar setoran, tak panik, tak gugup dan tak banyak kesalahan / error. Apa tandanya enjoy? Hidup tak merasa takut, tak khawatir, relaks dan percaya diri.    

1.   Jadikan bersyukur sebagai ibadah.
Don't waste your precious energy on complaining. Don't be afraid that your life will end, but worry that it will never begin. Try to be oneness with God through gratitude.  Banyak hal yang harus disyukuri. Pertama, masih bisa terbangun dari tidur, berterima kasihlah. Kedua, bisa turun dari tempat tidur, say thank you, God.  Ketiga, keluar dari kamar tidur, masih bisa buang air kecil, air besar, lalu masih bisa ngopi atau ngeteh, berterima kasihlah.  Keempat, lihat rumah berantakan, tugas kantor menumpuk, teman menjengkelkan, bersyukurlah masih punya rumah, masih punya kerjaan dan masih punya teman. Sadari dan berterima-kasihlah atas kehidupan ini seperti bernafas. Bersyukurlah seperti berdoa. Ucapkan syukur, seperti beramal,  seolah besok mau mati.  Lakukan ibadah syukur sebagai bagian dari iman, keyakinan dan agama.  Bersyukur, berterima kasihlah,  jadikan itu prioritas nomor 1, maaf ternyata, bukan cari uang atau cari jodoh.  Appreciate a force bigger than yourself.  Sadari  dengan kesadaran penuh, bahwa berterima kasih  itu a great habit and attitude towards the Divine.  Jika itu menjadi kebiasaan yang nomor 1, maka skenario hidup akan berubah. Cinta dengan pasti akan menggantikan harta dan takhta. Sehingga lebih banyak ruang untuk hadirnya keindahan dan kedamaian dalam hidup, bukan?  Jika Anda merasa nyaman dengan latihan dari hal-hal yang kecil ini, lakukanlah hari ini.   Orang yang menatap Anda akan mengatakan : "Orang ini selain banyak uang, penuh cinta...!"


2.   Jadikan bersyukur untuk berbagi kebaikan.
Say "thank you" more often. Say "thank you" for more and for less. Acting grateful is being grateful.  Smile and laugh more.  Hidup Anda tak steril dari bantuan orang lain, demikian juga sebaliknya [interconnection]. Anda bisa seperti sekarang ini, adalah berkat orang tua, keluarga, sahabat, rekan kerja dan klien, bukan? [their contribution].  Sadari dan ingatlah kebaikan mereka satu-persatu. Masukkan dalam agenda, dairy atau jurnal syukur harian. Minimum catat 1 blessing setiap hari. Buatkan karya seni atas agenda, dairy atau jurnal tsb, misalnya : weekly thank-you frame, thank-you clipping, thank-you poster,  thank-you photo, thank-you notes,  yang tujuannya setiap waktu "terlihat" oleh mata, sebagai reminder. Best, jika Anda siap menulis "thank-you" letter kepada mentor, coach, orang tua, pasangan, kekasih, atasan, rekan kerja atau klien Anda.  Mereka bahagia telah menjadi "bagian penting" dari sukses Anda hari ini. Syukur Anda dan kebaikan Anda harus terbaca oleh mereka. Orang-orang yang telah berjasa itu akan mengatakan : "Orang ini selain sukses, ia tahu berterima kasih...!"


3.   Jadikan bersyukur sebagai terang.
When bad things happen to good people, it is still good. Giving, nobody is receiving [gratitude].  Giving, everybody is receiving [business]. Cahaya tak pernah kembali sia-sia. Namun, ketika ia menerangi kegelapan, ia tak mengharapkan imbalannya. Tutuplah mata Anda selama 5 menit dengan sapu tangan, lalu lakukan rutinitas pekerjaan Anda. Apa yang Anda dapati, ketika setelah itu, mata Anda dibuka kembali? Lega? Ubahlah dan lihatlah hal-hal negatif, keburukan dan kegagalan Anda, sekarang dengan new mindset, bahwa itu semua mendidik, mempertajam strategi dan menguatkan Anda, lalu syukurilah kebaikannya. Segala sesuatu terjadi untuk kebaikan Anda, bukan menjatuhkan atau membangkrutkan Anda.  Jika Anda sudah terbiasa merubah hal-hal negatif, kesulitan dan kegagalan menjadi hal-hal positif dan bermanfaat, maka ketika Anda berjumpa dengan hal-hal positif yang baik, maka syukur Anda akan melimpah. Hidup Anda semakin terang, tak ada satu ruangpun yang gelap atau negatif. Sukses dan gagal menjadi sama saja, semuanya punya manfaat, kegunaan dan arti. Sadari,  tak ada yang buruk atau jelek. Bahkan yang jahatpun, nampak sudah diampuni dan dimaafkan.  Tak ada dendam. Bahkan yang menyakiti Andapun, nampak sudah bertobat dan berbuat sebaliknya. Berlatihlah dan jadilah kuat untuk menghadapi masalah, kesulitan dan musibah. Jadikan mereka semua teman untuk bertumbuh. Jika latihan Anda ini semakin sering dan intensif, maka Anda semakin kuat, naik tingkat dan ringan dalam menemui masalah, mengatasi masalah dan mengalahkan masalah.  Hidup kini terasa damai, bukan? Kesulitan akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini kuat, tak ada matinya...!"        


4.    Lakukan syukur sebagai gerak fisik.
When you stretch, you know you are still alive. Hold your hand pulse as you sit. Pay attention to your breath in and out, it means that you are still alive. Bersyukur bisa dan asyik melalui gerak fisik, wujud tubuh kita.
Lakukan stretching selama 5 menit, mulai dengan kepala, leher, tangan, pinggang, dan kaki. Gerakkan perlahan-lahan, bukan sembarangan atau tergesa-gesa.   Gerakan sesuai hobi, kebiasaan dan kesukaan, mengikuti dan berlawanan arah jarum jam. Bebas saja. Yang terpenting, kali ini  ketika Anda melakukan stretching, rasakan dan jiwailah. Sensasi, resonansi dan vibrasi apa yang kini terasa?  Sungguh nikmat, ringan, lega dan lepas semua kepenatan. Bebas ! Bersyukurlah, itu satu-satunya balas budi Anda atas nikmat ini. Pejamkan mata untuk putaran ke dua. Dan sadarilah, rasakanlah, kini semakin nikmat dan semakin nikmat, semakin lepas semua beban. Enteng dan ringan.
Sekarang peganglah nadi di tangan Anda, pejamkan mata, rasakan detaknya dan berterima kasihlah kepada si Pembuat detaknya. Kira-kira ini juga 5 menit. Bermeditasilah jika Anda mau.
Sekarang duduklah relaks, tegakkan tubuh, atau bersandar di kursi dengan santai. Pejamkan mata, tariklah dan buanglah nafas seperti biasa, tak perlu dibuat-buat, atau dihitung. Rasakan perlahan, nafas masuk dan nafas keluar, semuanya tenang dan relaks. Sadari, nikmatilah dan rasakanlah.  Bersyukurlah, Anda masih hidup dan bernafas normal. Hidup kini terasa damai, bukan? Alam semesta akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini tahu menghargai tubuh dan dirinya,  ia semakin kokoh saja...!" 


5. Lakukan syukur dengan keheningan.
Make time to practice meditation, yoga and prayer. They provide us with daily fuel for our busy lives. Get rid of anything that isn't useful, beautiful, and joyful.  Share gratitude and say thank you when you are in holy silence. Practice mindfulness to appreciate each present moment. Have a now or never frame of mind. Duduklah dan pejamkan mata atau jika Anda sedang sakit, berbaringlah santai, berdiam dirilah sejenak, untuk 5 menit.  Letakkan ke dua tangan Anda di paha Anda ketika duduk bersila atau di sebelah tubuh Anda ketika berbaring.  Berkonsentrasilah dan fokuskan pikiran Anda atas segala kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang baik. God is so good.  Sadarilah bahwa Anda hidup karena pertolongan demi pertolongan Tuhan.  Dan kini rasakan sensasinya bahwa diri Anda mengecil, tak berarti, Tuhanlah yang membesar. Latihan keheningan sejenak ini telah menolong banyak orang untuk berhasil  memperoleh kembali energi hidup dan antusiasme yang hebat dalam meneruskan kehidupan dan berempati atas penderitaan orang. Mereka-mereka ini menemukan kembali makna hidup.  Mereka rela berjuang demi orang lain, bahkan rela menempuh jalan asketisme karena praktek syukurnya atas kehidupan ini.  Lalu kehidupan ini akan mengatakan kepada Anda :  " Orang ini benar-benar tak terpengaruh oleh hingar-bingar dan hiruk-pikuknya kehidupan, ia malah mengambil waktu untuk hening sejenak, jiwanya memang telah matang dan dewasa...!"   Dan "dunia yang semakin ngawur dan edan" di sekelilingnya akan memujinya : "... Meski dunia semakin edan, semakin jahil, semakin jahat, tapi ia tetap tahu siapa dirinya yang sebenarnya... Ia tak ikut-ikutan edan, tak jahil dan tak ikut jahat untuk bisa hidup... Ia sungguh punya karakter yang jujur dan memukau... Ia layak jadi pemimpin...!"

Tak terasa kita sama-sama naik ke higher awareness dan higher purpose in life. Enjoy !  
     
  
    




      

Sabtu, 11 Januari 2014

Bersyukur itu membebaskan


Bersyukur adalah kekayaan yang terlupakan, meski ia mengandung kekuatan batin, kematangan jiwa, vitalitas, enthusiasme, emosi positif, kepuasan hidup, optimisme, empati, spiritualitas dan mengurangi ikatan kepada materi [Dr Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, Research project on Gratitude and Thankfulness, 2003]. Ke 2 psikolog scientist ini, telah banyak meneliti tentang gratitude dan bukunya serta artikelnya telah banyak di-quote oleh berbagi tulisan di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka banyak meneliti perilaku dari perspective biologi evolusi dan insting, mulai dari isu psikologi personal, psikologi emosi, psikologi agama, balas dendam, bersyukur, pengampunan dan penolakan.  

"Orang yang tahu bersyukur adalah orang yang bernyanyi,  sambil  menggenggam bunga yang sedang mekar di tangannya. Oh betapa indahnya, orang-orang yang bersyukur.  Tuhan tidak menjauh ! Tak ada orang yang bersyukur, tapi  batinnya menjerit dan jiwanya menderita."

Bersyukur itu mirip bernyanyi.  Ia memancarkan puisi, syair dan keindahan. Siapa saja bisa bernyanyi, meski fales... Percayalah, yang terdengar tetaplah keindahan. Tetaplah bernyanyi, jauh lebih baik ketimbang omong kosong, karena ia lebih fales !

Saking bagusnya penyanyi melantunkan lagunya, sampai-sampai pendengar tak ambil pusing lagi dengan latar belakang masalah keluarganya atau pribadinya.  Yang di latar belakang tertutupi oleh totalitas keindahannya. Karena tak ada yang bisa mengalahkan keindahan. Semakin lagunya dijiwai, semakin membekas di hati pendengarnya, semakin lupa akan segalanya. Semakin sering bersyukur, nyanyian jiwa kita semakin merdu, semakin banyak yang rindu ingin mendengarkannya. Begitu juga sebaliknya.

Bersyukur itu mirip kembang, bunga yang mekar. Sedangkan damai itu mirip kupu-kupu. Semakin dikejar, ia terbang menjauh. Jika tak dikejar, ia hinggap di kehidupan. Semakin rajin kita bersyukur, kembang kita semakin mekar mengharum, kupu-kupu betah tinggal bersamanya. Begitu juga sebaliknya.


3 Dimensi bersyukur yang membahagiakan

1.  Bersyukur itu membebaskan.

"Saking melimpahnya rasa syukur kita, sampai Tuhan tak menemukan lagi dosa-dosa kita." 

Apakah ada orang-orang yang sungguh bersyukur seperti di film? Jika kita menemui orang-orang yang bahagia seperti itu di sekitar, kita akan mendapati ungkapan syukur yang melimpah dari gerak tubuhnya. Mudah menandainya !  Wajahnya bersih. Auranya teduh dan damai. Kata-katanya tenang dan menyejukkan.  Gerakannya melambat. tak pernah ia tergesa-gesa. Ia tampil sangat positif, tak bisa ditandingi.  Ia tak pernah nampak murung, apalagi sedih dan pilu.  Yang dilakukannya semuanya jadi kesenangan.  Yang berada di dekatnya, nyaman.  Yang bekerja bersamanya betah.  Yang ditinggalkannya, kebajikan. Yang dikenang dari orang-orang ini, adalah kebajikan.  Sehingga Tuhan sampai  lupa mencatat kekurangannya. Karena orang-orang ini selalu memandangi kelebihan dan kebaikan lebih dari kekurangan dan keburukan. Jika kita fokus pada kelebihan dan kebaikan setiap saat, kitapun jadi lupa ada yang namanya kekurangan  dan keburukan.   Ia menutupi dosa-dosa dan kelemahan diri. Ia nyata, bukan kebohongan ilusi nan fiktif.  Temukan mereka ada di sekitar kita.

Apakah agama membebaskan?  Bukan agamanya, tapi iman dan tindakannya.  Semakin banyak yang kita yakini, tidak otomatis membebaskan, justru terkadang menjadi ikatan baru. Berhati-hatilah.    Tindakan bersyukur itulah yang  membebaskan.  Semakin banyak iman dan tindakan bersyukurnya,  semakin lebar pula jendela rumahnya.  Jiwanya lapang, tidak sempit dan terkotak-kotak. Pandangannya melebar, tidak menyempit.  Keinginannya akan dunia mengecil dengan sendirinya.    Semakin banyak udara pagi yang bebas masuk dan keluar.  Ia semakin  terlepas dari ikatannya.  Ia menjauhi yang jahat dan keburukan, yang selama ini mengikatnya.  Apa saja itu?  Ketidak-jujuran, kebohongan, kemunafikan, kedustaan, kesombongan dan arogansi diri. Orang yang penuh syukur, sebaliknya,  akan memilih yang jujur dan yang baik.  Ia pergi bebas sebagai burung lepas yang merdeka.   Tapi, kemerdekaannya itu tak akan melebihi kejujuran dan kebaikan. Sehingga ia tak bisa sombong dan angkuh diri.   

Bersyukur itu kesadaran tertinggi yang bisa diraih manusia, setelah itu tak ada lagi. Pasrah total dan penerimaan total akan segala sesuatu, hanya  akibat yang wajar dari melimpahnya rasa syukur.   Bersyukur adalah  proses spiritual universal, apapun kepercayaannya. Ia menjadi tag-line yang gamblang dan netral ketika di bawa ke ranah korporasi ataupun individu. Tak ada yang mampu menolak atau melarang sesuatu yang universal.   Inilah dimensi  spiritual dari  bersyukur.      


 
2.  Bersyukur itu mendamaikan.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia bisa merasakan cinta bagi semuanya."

" Satu-satunya keajaiban di dunia ini yang bisa menyatukan umat manusia adalah rasa syukur dan rasa damai. Itulah formula sukses luar biasa alaminya,  yang disediakan alam semesta ini. Manusia tinggal memetiknya."

Tubuh dari bersyukur adalah tindakannya, sedangkan baju luarnya adalah kata-kata indah, seperti, "I love you so much, I am so grateful  for what I have,  I am so thankful  for absolutely  everything,  God is so good to me, Praise the Lord.....dst."   Bersyukur itu hidup yang nyata.  Ia dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang yang mengerti hidup.  Hidup yang berarti  adalah  hidup yang dipenuhi  ungkapan rasa syukur, berterima kasih kepada Tuhan, setiap saat [be thankful at all times to God]. Orang yang bersyukur dengan mudah mengubah setan keluhan  menjadi kebahagiaan dan rancangan hidup yang positif, kekurangan  menjadi kelebihan, perbedaan  menjadi persamaan, ketimpangan  menjadi keadilan, dst.


Apakah bersyukur bisa dilakukan oleh orang yang tak beragama?  Dengan paradigma ini, absolutely it can, nothing wrong, nothing impossible.  Karena,  bersyukur adalah tindakan iman universal yang abadi, timeless dari generasi ke generasi, dari rumah ke rumah, dan dari pribadi ke pribadi.  

Apakah rasa syukur adalah sumber pikiran positif? Yes, that's 100 % right.  Rasa syukur itu memerdekakan dan membebaskan pikiran negatif, kebiasaan buruk, ketakutan dan ikatan masa lalu.  Jika dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh, ia mendamaikan dirinya dengan  manusia lain, dengan alam semesta dan dengan Pemilik kehidupan.  Karena ia tahu siapa dirinya, tahu berterima kasih dan tahu mengabdi kepada Si Pemberi diri.  Tak ada alasan lagi, bagi Tuhan untuk "memenjarakan"  pikiran negatif untuk dirinya.
Tuhan teramat senang, menghadiahi dirinya dengan kado Tahun Baru setiap hari. Setiap hari selalu baru dengan rasa syukur dan rasa bahagia.  Ia memikirkan hal-hal yang positif, harapan dan masa depan yang tak terbatas.  Keberhasilan sama saja dengan kegagalan dan kegagalan sama saja dengan keberhasilan. Semua menjadi sama, menjadi nampak baik-baik saja.  Karena segala ciptaanNya indah adanya. Oleh karena itu, ia tak memenjarakan dendam dan sakit hati atau nafsu saling mengalahkan.  Yang ia rasakan hanya rasa damai yang melimpah ruah, meluap dari jiwa yang indah.  Ia memiliki jendela kedamaian yang lebar. Jendela lebar itu bukan penjara.

Apakah rasa syukur yang melimpah itu dapat mengalahkan ego? Yes, it is true again.   Saking lebarnya, ia melampaui keterbatasan dan perbedaan-perbedaan. Saking cara pandangnya menjadi demikian luasnya, sekarang  ia bisa menerima mereka yang berbeda dengan dirinya.   Ia mengalahkan peperangan, keserakahan diri, ego dan  perbedaan agama.  Ia membuka mata selebar-lebarnya terhadap kasih sayang.  Yang ia sebarkan hanya cinta dan kasih sayang.  Bernyanyi  dan berkembangnya bunga,  semuanya ke arah keluar [inside-out direction].   Itulah mengapa orang yang bersyukur,  tak lagi memikirkan dirinya sendiri, melainkan orientasinya untuk orang lain [people-centered, team-work centered, company goal centered, public-common centered].  Orang yang banyak memikirkan orang lain, adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi ini.   "You are not alone, I am here with you."   Begitu pula sebaliknya.  Oleh karenanya, orang yang paling menderita dan sial hidupnya adalah yang hanya memikirkan dirinya sendiri.     Inilah dimensi  cinta  dari  bersyukur.  Bersyukur itu benar-benar mendamaikan. So happy, isn't it ?


3.  Bersyukur itu melepaskan, tapi bukan untung.

"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia terasa ringan dan melayang."

"Bersyukur adalah proses mental yang bernama kesadaran, bukan pikiran. Karena pikiran cenderung menganalisa dan membanding-bandingkan."

Apakah bersyukur itu proses vertical atau horizontal?   Ia mewakili kata kerja, sadar, menyadari, terima kasih, mengungkapkan, menyentuh dan menerima.  Ia hanya mau  menyentuh  hatinya Tuhan secara lurus ke atas.  Ia urusannya  manusia  dengan Tuhannya, tak ada hubungannya dengan orang lain.   Urusan dengan orang lain atau berurusan dengan orang lain adalah proses horizontal.    Ia tak membandingkan dirinya sendiri dengan kemalangan, kesialan dan kegagalan orang lain.  Karena bersyukur yang seperti ini, tidak genuine, tidak sejati.  Contoh:  Selagi nyetir BMW barunya, "Waduh bersyukur, saya tak lagi seperti pengemis di lampu merah yang minta-minta dan gembel itu, padahal dulu saya bagian dari itu.... Wah bersyukur, rumah saya tak kebanjiran, lihat tuh yang di Kelapa Gading, Pluit dan Jatinegara, saban tahun langganan..! Duh, bersyukur banget, anak cewek gue gak hamil kecelakaan, kayak anak tetangga gue...amit-amit.. nyusahin orang tua, bikin malu sekampung...huhuhuhu..!!   Tapi,  hasil dari  ungkapan syukur yang genuine,  akan berdampak horizontal, yaitu manfaat, makna dan arti positif  bagi sekeliling dan bagi dunia. Contoh yang demikian, banyak kita alami di sekitar kita, bukan? 

Apa bahaya dari  membanding-bandingkan secara horizontal? Ia  akan  selalu saja terus-terusan  merasa kurang, tak pernah merasa cukup.   Not-enough mindset, bukan abundance mindset.   Ia akan sulit bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, karena selalu merasa kurang dibandingkan dengan orang lain.  "Kenapa sih kok begini-begini aja terus hidup gue, gak kayak tetangga gue itu...berubah melangit ?  Kenapa ia bisa punya Fortuner putih, aku hanya Avanza hitam...?"  "Kenapa istrinya bisa 2, sedangkan aku hanya 1 itu-itu aja..?"   "Kenapa ia bisa jadi pejabat, sedangkan aku hanya staf biasa..?"  "Kenapa ia selalu beruntung, sedangkan aku selalu sial dan kalah...?"   "Cucian deh loe," kata ABG Jakarta.
Ia selalu memikirkan apa yang tak ia miliki, lupa dengan apa yang telah ditangan.   Karena ia mengejar kesuksesan orang lain yang lebih tinggi.  Inilah bahayanya dari membanding-bandingkan, lupa mensyukuri. Selain itu ia akan menumpukkan iri-dengki, ketidak-ikhlasan dan mental kekurangan dalam batinnya. Lama-kelamaan, berkarat dan lebih sulit dibersihkan lagi.    

Mengapa bersyukur juga bukan untung?  Karena untung [dan bukan untung] juga  proses membandingkan. "Untung hanya motor yang hilang, bukan mobil, untung hanya mobil yang terbakar, bukan nyawa, untung hanya 1 anak yang DO, bukan semuanya, untung hanya Rp 5 juta yang ketipu, bukan Rp 100 juta,  untung hanya dihukum 4 tahun, bukan 10 tahun...! dst "   Inilah bersyukur ritual, sesaat, tidak mendalam, tidak membekas, apalagi melepaskan.

Bersyukur yang benar ialah berterima kasih, Alhamdulillah, Puji Tuhan, Thanks God, jika motor hilang, mobil terbakar, 1 anak DO, tertipu Rp 5 juta, dihukum 4 tahun, dst. Ia mampu melepaskan yang dialami saat ini, tanpa perlu membandingkan dengan kerugian yang lebih besar.  Penghiburan seperti ini kamuflase sesaat.    

Bersyukur yang sejati seperti apa?  Bersyukur  adalah  kesadaran mengingat segala pemeliharaan Tuhan dari sejak kita lahir hingga hari ini. Stop di hari ini, bukan esok hari, karena esok hari, belum milik kita. Saking banyaknya,  jiwa sampai  tak  mampu  lagi  menghitung semua nikmat dan kebaikan Ilahi, bukan? Karena kesadaran  itu  "melampaui"  pikiran [akal, logika] matematika.  Kebaikan Ilahi itu tak terbatas dan tak terselami, hanya kesadaran yang dapat menjangkaunya. Luar biasanya Tuhan, amazing grace!


Begitu hati mau menyadari, mau menerima dan mau berterima kasih saja kepada Yang Diatas, proses ajaib segera terjadi.  Rasakan saja, tak usah dipaksakan!  Emosi jiwa segera disegarkan, diperbaharui, distabilkan dan disapa lembut oleh ketenangan dan kedamaian batin.  Beban berat, tekanan pekerjaan, stress mental, ketakutan masa depan, kekhawatiran akan gagal, akan susah, kepenatan hidup, himpitan ekonomi, semuanya itu terasa dilepaskan, plong, lega dan tenang begitu saja.  Entah siapa yang bekerja?
Batin dan jiwa terasa ringan dan segar.  Fantastic peaceful life.   Ia benar-benar melepaskan.  Ia mencerahkan, membukakan, menerangi batin.  Yang tertutup rapat bertahun-tahun, tiba-tiba segera terlepas, terpental dan tak kembali lagi.   Dan ajaibnya,  apa yang jiwa lihat berikutnya adalah kaca-kaca bening Sorga yang indah.  Bening sebening kaca yang kawin dengan embun jernih, sulit diucapkan.  Batin seolah beristirahat, telah lepas dan telah menemui keteduhan yang dalam.  Dalam, dalam, dalam, tenang, tenang, tenang, sejuk, sejuk, sejuk !  Biarkan ia tertidur lunglai.   Inilah dimensi  kesadaran  dari  bersyukur.   

Setelah bangun, raga yang keriput dan kaku, menjadi lebih cantik, lebih cerah, lebih segar alami dan lebih percaya diri. Tubuh yang cantik keluar dari jiwa yang sehat dan bahagia. 

Nantikan 5 Latihan kesadarn bersyukur yang membuka jendela bahagia yang lebih lebar. Gbu