Life-check
Buku kehidupan kita punya dua warna, warna bahagia atau warna menderita? Rumah kita juga sama. Kendaraan yang kita tumpangi juga sama, sehat atau sedang mogok? Kita masih diberi kemewahan untuk dapat melakukan general check-up /“life-check” kesehatan luar & dalam diri kita, atas rumah yang kita tinggali dan atas kendaraan yang kita naiki. Self engine check-up begitu mudah, ambil saat diam diri sejenak, lalu mulailah bertanya pada diri sendiri, cukup dengan self-talk. Hari-hari
ini, apakah kita cenderung terhanyut, terhilang atau terlena dalam
keseluruhan kehidupan, lost in connectedness, not knowing any where then
not going any where? Apakah kita sulit mengenali dimana kendaraan
hidup kita berada saat ini “in terms of our life journey?” Apakah suhu tubuh kita meningkat karena rasa cemas, gelisah, khawatir, tegang
dan amarah yang jauh lebih banyak dari pada rasa tenang, nyaman hidup
dan damai? Apakah rumah hidup kita atau rumah kita secara fisik, nampak
rapi tertata atau sedang kotor berantakan? Sudahkah kita melakukan segala sesuatu dengan makna atau sekedar lewat atau sekadar sampai? Yakinkah kita bahwa wisdom kita, selain agama dan psikologi, sesungguhnya ia dapat menolong kita menemukan jalan untuk kembali? Apakah kita bisa tidur enak dan makan dengan nikmat saat ini? Life-check
adalah jalan membuka diri untuk datangnya hal-hal baik dan benar untuk
kita menambahi bab-bab cantik dalam buku kehidupan kita. Life-check
benar-benar harus kita lakukan untuk diri kita, bukan untuk orang lain.
Karena memeriksa kehidupan orang lain selain dianggap iseng tak punya
kerjaan, juga tak etis masuk pagar orang. Mari kita fokus membersihkan rumah kita sendiri dengan sapu yang bersih.
Mindfulness
Jika kita masih merasa “on the right track,” bersyukurlah. Jika lost sedikit atau lost banyak, bersyukurlah, paling tidak kita masih dapat mereview kembali kebiasaan kita. Apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya? Jika sudah bersyukurlah. Jika belum, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be mindful” dalam keseharian. Tepatnya mesin hidup kita sedang menderu-deru dalam hutan ketergesaan dan keterburuan meski untuk hal-hal yang rutin dan sepele. Mandi terburu-buru. Makan dan minum buru-buru. Bicara buru-buru. Di jalan buru-buru/balapan. Kerja buru-buru. Akibatnya malam tidak bisa buru-buru tidur. Kita mungkin sedang “unconnected” dengan apa yang kita lakukan. Kita sangat mungkin tidak menikmatinya. Pedal
pikiran kita hanya tertuju kepada sang hasil [scoreboard di dinding,
target atasan, kejar tayang, rekening deposito, menambah logam mulia,
membeli mobil lagi, menambah apartemen lagi, membangun pabrik baru atau menunggu pinjaman bank dst]. Itulah mengapa barangkali ketenangan, kenyamanan dan kedamaian telah menjauh dari dash-board hidup kita? Kita sedang membutuhkan “mindfulness” di saat ini. Karena jika kita “kehilangan” saat ini, sesungguhnya kita sedang get lost. By
cultivating the new wisdom to feel what we are doing moment by moment,
minute by minute, second by second at present moment, we could be back
at present moment fully. Bersyukurlah, dengan mindfulness, tanpa
kita harus pergi ke vila tiap minggu atau minta resep dokter , kita
sangat mungkin mendapatkan kembali keindahan, kesegaran & kesembuhan
hidup saat ini juga.
Gratefulness
Kedua, apakah kita sudah melakukan 1 hal “at a time” tsb dengan penuh rasa syukur yang tulus kepada Tuhan? Apakah ungkapan syukur itu kita lontarkan sebatas ritual belaka? Jika ya, bersyukurlah, kita mungkin masih “not be grateful lively.” Bisa jadi meski sudah memiliki sangat banyak, kita sedang “kehilangan” apa artinya cukup. Kita sedang tidak mensyukuri apa yang sudah banyak. Argometer di kepala kita hanya fokus kepada tangga berikutnya. Hidung
lebih mancung, kulit lebih putih, rambut lebih lurus dan hitam,
penampilan lebih muda, badan lebih langsing, pikiran lebih fresh, kerja
lebih semangat, gaji lebih besar, pabrik lebih banyak, perusahaan lebih
banyak, rumah lebih besar & lebih mewah. mobil lebih banyak & lebih up to date, halaman lebih luas, penjaga rumah lebih banyak, anjing piaraan lebih banyak, tabungan lebih besar dan pencapaian lebih baik, anak lebih manis dst. Mengejar tangga berikutnya sama sekali tidaklah keliru/salah. Tuhan sangat menghendaki kita hidup makmur dan berkecukupan sehingga bisa membantu orang lain. Tinggal kita mampu menjaga keseimbangannya atau tidak?
Live a good life
Bersyukurlah, jika itu rapor kita hari ini, mari kita re-start computer kita. Kita terpanggil untuk secara sadar & sistematis untuk menyeimbangkan kehidupan. Ambillah 2 langkah kecil sederhana [little wisdom].
Yang pertama, “be mindful” [sadar penuh]. Ia adalah sumber ketenangan pikiran. Lakukan “1″ hal saja “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya. Wisdom, membantu kita menyadari paradoks bahwa kualitas lebih baik dari kuantitas. Seimbangkan juga dengan multi-tasking yang adalah seni menata-ulang keseluruhan. Justru melakukan 1 hal kecil dengan nikmat, sebenarnya keseluruhan gambar hidup sedang ditata-ulang tanpa kita mampu menyadarinya.
Mandi tak lagi terburu-buru. Makan dan minum menjadi santai. Bicara menjadi lebih relaks dan lebih dimengerti. Di jalan tidak lagi buru-buru/balapan. Kerja jadi lebih teliti dan nikmat. Akibatnya malam benar-benar terasa malam. Lalu ia berhasil mengantarkan tubuh & pikiran untuk tidur lebih lelap, tanpa menelan obat penenang. Latihan “be mindful” yang berulang-ulang, membuat keseluruhan hidup berjalan lebih melambat & lebih perlahan. Segala yang lambat & perlahan biasanya disertai rasa tenang, lebih kalem dan penyabar terhadap segala sesuatu. Melalui itu, kita sedang membangun jembatan ke saat ini ["reconnected"] dengan apa yang kita sedang lakukan moment by moment. Tanpa disadari lagi, “present moment” benar-benar telah menjadi milik hidup kita hari ini.
Ada lagi praktek “mindfulness” yang lain, seperti jalan melambat, nafas melambat dan teratur, latihan fokus/konsentrasi melalui meditasi mindfulness, yoga dengan pose tertentu dst, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang lebih tinggi.
Yang kedua, “be grateful” [syukur penuh]. Ia adalah sumber kedamaian hati, kelegaan dan kenyamanan batin. Soal syukur ini, kita semua bukan pemula, hanya pembelajar. Lakukan “1″ hal tadi tetap dengan “be mindful” [sadar penuh], namun kini tambahkan 1 soft-gel herbal yang bernama syukur penuh. Mandi lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Makan dan minum lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Bicarapun lebih nikmat karena hadirnya syukur. Bicara menjadi hanya seperlunya dan lebih terasa maknanya. Di jalan selain tidak lagi buru-buru/balapan, juga lebih nikmat karena disertai syukur baik macet maupun lancar. Kerja lebih terasa nikmat karena disertai syukur. Akibatnya tidur malam lebih nikmat /berkualitas. Rumah hidup kita kini berwarna lebih cerah karena hadirnya warna syukur dari mulai genteng, atap, pintu, jendela dan lantainya. Nafas jadi lebih ringan & lega. Denyut jantung lebih teratur. Tensi lebih normal. Stress yang menekan lalu pergi dan membuat pikiran plong. Langkah terasa enteng. Semua beban terasa ringan. Solusi lalu datang tanpa kita meminta dan mengejarnya. Hidup benar-benar bahagia dan damai. Jika semua hal dilakukan karena sudah bahagia dan damai, maka hasilnya akan berbeda pula, bukan? Ada teman yang bilang, inilah ajaibnya bersyukur, bersyukur bikin kaya, bersyukur bukan berarti hanya pasrah dan berhenti berusaha justru jadi lebih berusaha.
Ada pula latihan “gratitude” lainnya seperti, membuat jurnal/kartu give thanks harian, menulis surat kepada seseorang kepadanya kita bersyukur/berterima kasih, menulis buku syukur, fokus hanya kepada berkat bukan kepada masalah/kesulitan, mengucapkan syukur terima kasih 100x sehari, bersyukur di bawah matahari, latihan sentuhan/massage, dst. namun itu memerlukan komitmen extra.
Repeat practice
Berhenti mengeluh tidak lagi cukup. Kata-kata yang indah dan quotation yang manis tidaklah cukup. Berjanji akan berubah juga tidak cukup. Menandatangani pakta integritas hanya permulaan. Sumpah jabatan hanya halaman pertama dari ujian. Apa yang membuatnya cukup, adalah karena wisdom upgrade ini meski kecil, jika “dilakukan” secara konsisten setiap saat, ia akan menghasilkan better “peace of mind.”
Belajarlah untuk mensyukuri apa saja tentang hari ini. Belajarlah untuk mensyukuri semua yang terjadi minggu ini. Lalu belajarlah untuk mensyukuri apa saja yang mampu diingat pada bulan ini [recall back]. Sehingga kita akan mampu belajar untuk mensyukuri semua yang terjadi pada tahun berjalan. Akhirnya rasa syukur telah naik kelas menjadi pelajaran “tahu diri” seumur hidup.
Jika better
“peace of mind” ditingkatkan kadarnya secara terus-menerus [menanjak]
melalui latihan demi latihan itu, maka ia akan menetap/mengakar menjadi
kebiasaan baru. Karena memang kebiasaan kita selalu bisa diubah. Kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan memang untuk diasah dan ditumbuhkan. Lihatlah, rasa syukur telah menjadi diri kita.
Terlebih
lagi, jika hasil kerja perubahan itu dihargai oleh diri sendiri dan
lingkungan, maka bersyukurlah ia akan berlipat ganda dampaknya terhadap
pencapaian hidup [prestasi, passion dan kepuasan]. Hasil “repeat practice” ini adalah level
ketenangan, kenyamanan dan kedamaian menjadi jauh lebih besar dari pada
semua kesedihan, kegelisahan dan kekhawatiran kita. Lalu dimana
pressure & stress berada? Mereka tetaplah ada “di depan” rumah kita. Jagalah jangan sampai mereka “masuk” kembali. Tandanya adalah, ketika masalah datang, kita mampu bersyukur atasnya. Itu tanda rumah kita masih bersih.
Rest in a lot
Upgrade
wisdom secara sadar ini, dapatlah kita sebut sebagai “rest in a lot”
atau “peace in a lot.” Kini kita mampu duduk dalam keheningan, berdiri dalam kesederhanaan dan rebah dalam kerendahan. Kita
membuat work/life balance menjadi riil, bukan lagi wacana/keinginan
atau sekadar otak-atik membagi/mengatur waktu belaka. Work/life balance
sesungguhnya harus terjadi pertama-tama di pikiran, di perasaan dan di
jiwa, baru kemudian mengatur kegiatan demi kegiatan sesuai skala
prioritas.
Beberapa benefit yang dapat segera kita observe dari wisdom upgrade tsb. adalah:
1. Kebahagiaan meningkat [positive emotions, life satisfaction, vitality, optimism and lower levels of depression and stress].
2. Lebih sosial [more empathic, generous and helpful]. Interaksi dan engagement kita dengan orang lain lebih baik,
3. Spiritualitas membaik [a better belief in the interconnectedness of all life and commitment and responsibility to others].
4.
Materialisme termanaged [less importance on material goods, less likely
to judge own and others success in terms of possessions accumulated;
less envious of wealthy persons, and are more likely to share
possessions with others].
[Robert
A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough,
University of Miami, "Counting blessings vs burdens, an experimental
investigation of gratitude and subjective well-being in daily life,"
2003].
Tak
terasa, kita telah memberikan “hadiah besar” buat diri kita sendiri
yaitu menjadi lebih dewasa, lebih matang dan lebih bijak, karena
kita mampu menemukan siapa diri kita dalam keterhubungan dengan
keseluruhan, yaitu Tuhan sang pemilik keseluruhan.

- work/life balance di Indonesia
