"Uang termurah untuk membeli kebahagiaan adalah bersyukur."
"Segala sesuatu yang tak disyukuri akan menjadi beban."
Dr Robert Emmons, psikolog peneliti tentang gratitude dan happiness, dari University of California, Davis, menemukan bahwa bersyukur meningkatkan level kebahagiaan sebanyak 25%. Jika ditambah dengan cinta akan Tuhan dan ciptaannya, saya mengatakan, kebahagian manusia meningkat 100%. Yang desperate hidupnya, akan bangkit kembali. Yang kacau rumah tangganya, akan dikembalikan utuh. Yang runtuh karirnya, akan dipulihkan. Yang sudah bagus, naik ke next level. Jika dunia ini warnanya adalah bersyukur, maka peperangan, terorisme, korupsi, perebutan kekuasaan dan kriminalitas akan turun drastis, bukan? Lalu manusia menjadi benar-benar manusia, perilakunya benar-benar human, dan Tuhan tak lagi disamai.
Agar dunia semakin sadar, semakin indah dan semakin bahagia, mari bersama mempraktekkan salah satu dari 5 latihan kesadaran bersyukur berikut ini. Ini adalah latihan penuh kesadaran [self-awereness exercise, transforming the mind, cultivating new habit]. Ambil satu atau dua latihan sebagai kebiasaan yang paling nyaman, at least untuk 1 bulan pertama, tanpa henti. Jika terhenti di tengah, mulai lanjutkan lagi, tak perlu mengulang dari awal. Karena happiness is a journey, selain tak bisa instant dan dadakan, ia harus dirasakan secara personal, juga tak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan.
Yang terpenting dari perjalanan ini, bukan banyaknya, bukan gembar-gembornya, namun rutinitasnya, penuh maknanya dan penghayatannya. Ia harus dilatih dan dibentuk. Karena self-awareness leads to self-mastery, maka hasilnya hidup akan terasa lebih nyaman, lebih tenang dan lebih enjoy. Lalu hati yang gembira benar-benar menjadi obat, bukan teori dan janji. Enak bukan ? Apa tandanya nyaman? Ketika makan, tidur dan nge-seks [jika berhak], semuanya terasa enak, betah dan kepengen lagi. Apa tandanya tenang? Hidup tak tergesa-gesa, tak mengejar setoran, tak panik, tak gugup dan tak banyak kesalahan / error. Apa tandanya enjoy? Hidup tak merasa takut, tak khawatir, relaks dan percaya diri.
1. Jadikan bersyukur sebagai ibadah.
Don't waste your precious energy on complaining. Don't be afraid that your life will end, but worry that it will never begin. Try to be oneness with God through gratitude. Banyak hal yang harus disyukuri. Pertama, masih bisa terbangun dari tidur, berterima kasihlah. Kedua, bisa turun dari tempat tidur, say thank you, God. Ketiga, keluar dari kamar tidur, masih bisa buang air kecil, air besar, lalu masih bisa ngopi atau ngeteh, berterima kasihlah. Keempat, lihat rumah berantakan, tugas kantor menumpuk, teman menjengkelkan, bersyukurlah masih punya rumah, masih punya kerjaan dan masih punya teman. Sadari dan berterima-kasihlah atas kehidupan ini seperti bernafas. Bersyukurlah seperti berdoa. Ucapkan syukur, seperti beramal, seolah besok mau mati. Lakukan ibadah syukur sebagai bagian dari iman, keyakinan dan agama. Bersyukur, berterima kasihlah, jadikan itu prioritas nomor 1, maaf ternyata, bukan cari uang atau cari jodoh. Appreciate a force bigger than yourself. Sadari dengan kesadaran penuh, bahwa berterima kasih itu a great habit and attitude towards the Divine. Jika itu menjadi kebiasaan yang nomor 1, maka skenario hidup akan berubah. Cinta dengan pasti akan menggantikan harta dan takhta. Sehingga lebih banyak ruang untuk hadirnya keindahan dan kedamaian dalam hidup, bukan? Jika Anda merasa nyaman dengan latihan dari hal-hal yang kecil ini, lakukanlah hari ini. Orang yang menatap Anda akan mengatakan : "Orang ini selain banyak uang, penuh cinta...!"
2. Jadikan bersyukur untuk berbagi kebaikan.
Say "thank you" more often. Say "thank you" for more and for less. Acting grateful is being grateful. Smile and laugh more. Hidup Anda tak steril dari bantuan orang lain, demikian juga sebaliknya [interconnection]. Anda bisa seperti sekarang ini, adalah berkat orang tua, keluarga, sahabat, rekan kerja dan klien, bukan? [their contribution]. Sadari dan ingatlah kebaikan mereka satu-persatu. Masukkan dalam agenda, dairy atau jurnal syukur harian. Minimum catat 1 blessing setiap hari. Buatkan karya seni atas agenda, dairy atau jurnal tsb, misalnya : weekly thank-you frame, thank-you clipping, thank-you poster, thank-you photo, thank-you notes, yang tujuannya setiap waktu "terlihat" oleh mata, sebagai reminder. Best, jika Anda siap menulis "thank-you" letter kepada mentor, coach, orang tua, pasangan, kekasih, atasan, rekan kerja atau klien Anda. Mereka bahagia telah menjadi "bagian penting" dari sukses Anda hari ini. Syukur Anda dan kebaikan Anda harus terbaca oleh mereka. Orang-orang yang telah berjasa itu akan mengatakan : "Orang ini selain sukses, ia tahu berterima kasih...!"
3. Jadikan bersyukur sebagai terang.
When bad things happen to good people, it is still good. Giving, nobody is receiving [gratitude]. Giving, everybody is receiving [business]. Cahaya tak pernah kembali sia-sia. Namun, ketika ia menerangi kegelapan, ia tak mengharapkan imbalannya. Tutuplah mata Anda selama 5 menit dengan sapu tangan, lalu lakukan rutinitas pekerjaan Anda. Apa yang Anda dapati, ketika setelah itu, mata Anda dibuka kembali? Lega? Ubahlah dan lihatlah hal-hal negatif, keburukan dan kegagalan Anda, sekarang dengan new mindset, bahwa itu semua mendidik, mempertajam strategi dan menguatkan Anda, lalu syukurilah kebaikannya. Segala sesuatu terjadi untuk kebaikan Anda, bukan menjatuhkan atau membangkrutkan Anda. Jika Anda sudah terbiasa merubah hal-hal negatif, kesulitan dan kegagalan menjadi hal-hal positif dan bermanfaat, maka ketika Anda berjumpa dengan hal-hal positif yang baik, maka syukur Anda akan melimpah. Hidup Anda semakin terang, tak ada satu ruangpun yang gelap atau negatif. Sukses dan gagal menjadi sama saja, semuanya punya manfaat, kegunaan dan arti. Sadari, tak ada yang buruk atau jelek. Bahkan yang jahatpun, nampak sudah diampuni dan dimaafkan. Tak ada dendam. Bahkan yang menyakiti Andapun, nampak sudah bertobat dan berbuat sebaliknya. Berlatihlah dan jadilah kuat untuk menghadapi masalah, kesulitan dan musibah. Jadikan mereka semua teman untuk bertumbuh. Jika latihan Anda ini semakin sering dan intensif, maka Anda semakin kuat, naik tingkat dan ringan dalam menemui masalah, mengatasi masalah dan mengalahkan masalah. Hidup kini terasa damai, bukan? Kesulitan akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini kuat, tak ada matinya...!"
4. Lakukan syukur sebagai gerak fisik.
When you stretch, you know you are still alive. Hold your hand pulse as you sit. Pay attention to your breath in and out, it means that you are still alive. Bersyukur bisa dan asyik melalui gerak fisik, wujud tubuh kita.
Lakukan stretching selama 5 menit, mulai dengan kepala, leher, tangan, pinggang, dan kaki. Gerakkan perlahan-lahan, bukan sembarangan atau tergesa-gesa. Gerakan sesuai hobi, kebiasaan dan kesukaan, mengikuti dan berlawanan arah jarum jam. Bebas saja. Yang terpenting, kali ini ketika Anda melakukan stretching, rasakan dan jiwailah. Sensasi, resonansi dan vibrasi apa yang kini terasa? Sungguh nikmat, ringan, lega dan lepas semua kepenatan. Bebas ! Bersyukurlah, itu satu-satunya balas budi Anda atas nikmat ini. Pejamkan mata untuk putaran ke dua. Dan sadarilah, rasakanlah, kini semakin nikmat dan semakin nikmat, semakin lepas semua beban. Enteng dan ringan.
Sekarang peganglah nadi di tangan Anda, pejamkan mata, rasakan detaknya dan berterima kasihlah kepada si Pembuat detaknya. Kira-kira ini juga 5 menit. Bermeditasilah jika Anda mau.
Sekarang duduklah relaks, tegakkan tubuh, atau bersandar di kursi dengan santai. Pejamkan mata, tariklah dan buanglah nafas seperti biasa, tak perlu dibuat-buat, atau dihitung. Rasakan perlahan, nafas masuk dan nafas keluar, semuanya tenang dan relaks. Sadari, nikmatilah dan rasakanlah. Bersyukurlah, Anda masih hidup dan bernafas normal. Hidup kini terasa damai, bukan? Alam semesta akan mengatakan kepada Anda : "Orang ini tahu menghargai tubuh dan dirinya, ia semakin kokoh saja...!"
5. Lakukan syukur dengan keheningan.
Make time to practice meditation, yoga and prayer. They provide us with daily fuel for our busy lives. Get rid of anything that isn't useful, beautiful, and joyful. Share gratitude and say thank you when you are in holy silence. Practice mindfulness to appreciate each present moment. Have a now or never frame of mind. Duduklah dan pejamkan mata atau jika Anda sedang sakit, berbaringlah santai, berdiam dirilah sejenak, untuk 5 menit. Letakkan ke dua tangan Anda di paha Anda ketika duduk bersila atau di sebelah tubuh Anda ketika berbaring. Berkonsentrasilah dan fokuskan pikiran Anda atas segala kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang baik. God is so good. Sadarilah bahwa Anda hidup karena pertolongan demi pertolongan Tuhan. Dan kini rasakan sensasinya bahwa diri Anda mengecil, tak berarti, Tuhanlah yang membesar. Latihan keheningan sejenak ini telah menolong banyak orang untuk berhasil memperoleh kembali energi hidup dan antusiasme yang hebat dalam meneruskan kehidupan dan berempati atas penderitaan orang. Mereka-mereka ini menemukan kembali makna hidup. Mereka rela berjuang demi orang lain, bahkan rela menempuh jalan asketisme karena praktek syukurnya atas kehidupan ini. Lalu kehidupan ini akan mengatakan kepada Anda : " Orang ini benar-benar tak terpengaruh oleh hingar-bingar dan hiruk-pikuknya kehidupan, ia malah mengambil waktu untuk hening sejenak, jiwanya memang telah matang dan dewasa...!" Dan "dunia yang semakin ngawur dan edan" di sekelilingnya akan memujinya : "... Meski dunia semakin edan, semakin jahil, semakin jahat, tapi ia tetap tahu siapa dirinya yang sebenarnya... Ia tak ikut-ikutan edan, tak jahil dan tak ikut jahat untuk bisa hidup... Ia sungguh punya karakter yang jujur dan memukau... Ia layak jadi pemimpin...!"
Tak terasa kita sama-sama naik ke higher awareness dan higher purpose in life. Enjoy !
Keseimbangan adalah sumber kedamaian dan ketenangan hidup, ia diatas keberhasilan. Lima [5] bidang hidup: faith, family, finance, friends dan fit minimal harus dikelola seimbang setiap hari. Tuhan mempercayakannya penuh kepada manusia [Refleksi diri harry purnama]
Selasa, 14 Januari 2014
Sabtu, 11 Januari 2014
Bersyukur itu membebaskan
Bersyukur adalah kekayaan yang
terlupakan, meski ia mengandung kekuatan batin, kematangan jiwa,
vitalitas, enthusiasme, emosi positif, kepuasan hidup, optimisme,
empati, spiritualitas dan mengurangi ikatan kepada materi [Dr Robert A.
Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough,
University of Miami, Research project on Gratitude and Thankfulness,
2003]. Ke 2 psikolog scientist ini, telah banyak meneliti tentang
gratitude dan bukunya serta artikelnya telah banyak di-quote oleh
berbagi tulisan di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka banyak meneliti
perilaku dari perspective biologi evolusi dan insting, mulai dari isu
psikologi personal, psikologi emosi, psikologi agama, balas dendam,
bersyukur, pengampunan dan penolakan.
"Orang yang tahu bersyukur adalah orang yang bernyanyi, sambil menggenggam bunga yang sedang mekar di tangannya. Oh betapa indahnya, orang-orang yang bersyukur. Tuhan tidak menjauh ! Tak ada orang yang bersyukur, tapi batinnya menjerit dan jiwanya menderita."
Bersyukur itu mirip bernyanyi. Ia memancarkan puisi, syair dan keindahan. Siapa saja bisa bernyanyi, meski fales... Percayalah, yang terdengar tetaplah keindahan. Tetaplah bernyanyi, jauh lebih baik ketimbang omong kosong, karena ia lebih fales !
Saking bagusnya penyanyi melantunkan lagunya, sampai-sampai pendengar tak ambil pusing lagi dengan latar belakang masalah keluarganya atau pribadinya. Yang di latar belakang tertutupi oleh totalitas keindahannya. Karena tak ada yang bisa mengalahkan keindahan. Semakin lagunya dijiwai, semakin membekas di hati pendengarnya, semakin lupa akan segalanya. Semakin sering bersyukur, nyanyian jiwa kita semakin merdu, semakin banyak yang rindu ingin mendengarkannya. Begitu juga sebaliknya.
Bersyukur itu mirip kembang, bunga yang mekar. Sedangkan damai itu mirip kupu-kupu. Semakin dikejar, ia terbang menjauh. Jika tak dikejar, ia hinggap di kehidupan. Semakin rajin kita bersyukur, kembang kita semakin mekar mengharum, kupu-kupu betah tinggal bersamanya. Begitu juga sebaliknya.
3 Dimensi bersyukur yang membahagiakan
1. Bersyukur itu membebaskan.
"Saking melimpahnya rasa syukur kita, sampai Tuhan tak menemukan lagi dosa-dosa kita."
Apakah agama membebaskan? Bukan agamanya, tapi iman dan tindakannya. Semakin banyak yang kita yakini, tidak otomatis membebaskan, justru terkadang menjadi ikatan baru. Berhati-hatilah. Tindakan bersyukur itulah yang membebaskan. Semakin banyak iman dan tindakan bersyukurnya, semakin lebar pula jendela rumahnya. Jiwanya lapang, tidak sempit dan terkotak-kotak. Pandangannya melebar, tidak menyempit. Keinginannya akan dunia mengecil dengan sendirinya. Semakin banyak udara pagi yang bebas masuk dan keluar. Ia semakin terlepas dari ikatannya. Ia menjauhi yang jahat dan keburukan, yang selama ini mengikatnya. Apa saja itu? Ketidak-jujuran, kebohongan, kemunafikan, kedustaan, kesombongan dan arogansi diri. Orang yang penuh syukur, sebaliknya, akan memilih yang jujur dan yang baik. Ia pergi bebas sebagai burung lepas yang merdeka. Tapi, kemerdekaannya itu tak akan melebihi kejujuran dan kebaikan. Sehingga ia tak bisa sombong dan angkuh diri.
Bersyukur itu kesadaran tertinggi yang bisa diraih manusia, setelah itu tak ada lagi. Pasrah total dan penerimaan total akan segala sesuatu, hanya akibat yang wajar dari melimpahnya rasa syukur. Bersyukur adalah proses spiritual universal, apapun kepercayaannya. Ia menjadi tag-line yang gamblang dan netral ketika di bawa ke ranah korporasi ataupun individu. Tak ada yang mampu menolak atau melarang sesuatu yang universal. Inilah dimensi spiritual dari bersyukur.
2. Bersyukur itu mendamaikan.
"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia bisa merasakan cinta bagi semuanya."
" Satu-satunya keajaiban di dunia ini yang bisa menyatukan umat manusia adalah rasa syukur dan rasa damai. Itulah formula sukses luar biasa alaminya, yang disediakan alam semesta ini. Manusia tinggal memetiknya."
Tubuh dari bersyukur adalah tindakannya, sedangkan baju luarnya adalah kata-kata indah, seperti, "I love you so much, I am so grateful for what I have, I am so thankful for absolutely everything, God is so good to me, Praise the Lord.....dst." Bersyukur itu hidup yang nyata. Ia dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang yang mengerti hidup. Hidup yang berarti adalah hidup yang dipenuhi ungkapan rasa syukur, berterima kasih kepada Tuhan, setiap saat [be thankful at all times to God]. Orang yang bersyukur dengan mudah mengubah setan keluhan menjadi kebahagiaan dan rancangan hidup yang positif, kekurangan menjadi kelebihan, perbedaan menjadi persamaan, ketimpangan menjadi keadilan, dst.
Apakah bersyukur bisa dilakukan oleh orang yang tak beragama? Dengan paradigma ini, absolutely it can, nothing wrong, nothing impossible. Karena, bersyukur adalah tindakan iman universal yang abadi, timeless dari generasi ke generasi, dari rumah ke rumah, dan dari pribadi ke pribadi.
Apakah rasa syukur adalah sumber pikiran positif? Yes, that's 100 % right. Rasa syukur itu memerdekakan dan membebaskan pikiran negatif, kebiasaan buruk, ketakutan dan ikatan masa lalu. Jika dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh, ia mendamaikan dirinya dengan manusia lain, dengan alam semesta dan dengan Pemilik kehidupan. Karena ia tahu siapa dirinya, tahu berterima kasih dan tahu mengabdi kepada Si Pemberi diri. Tak ada alasan lagi, bagi Tuhan untuk "memenjarakan" pikiran negatif untuk dirinya.
Tuhan teramat senang, menghadiahi dirinya dengan kado Tahun Baru setiap hari. Setiap hari selalu baru dengan rasa syukur dan rasa bahagia. Ia memikirkan hal-hal yang positif, harapan dan masa depan yang tak terbatas. Keberhasilan sama saja dengan kegagalan dan kegagalan sama saja dengan keberhasilan. Semua menjadi sama, menjadi nampak baik-baik saja. Karena segala ciptaanNya indah adanya. Oleh karena itu, ia tak memenjarakan dendam dan sakit hati atau nafsu saling mengalahkan. Yang ia rasakan hanya rasa damai yang melimpah ruah, meluap dari jiwa yang indah. Ia memiliki jendela kedamaian yang lebar. Jendela lebar itu bukan penjara.
Apakah rasa syukur yang melimpah itu dapat mengalahkan ego? Yes, it is true again. Saking lebarnya, ia melampaui keterbatasan dan perbedaan-perbedaan. Saking cara pandangnya menjadi demikian luasnya, sekarang ia bisa menerima mereka yang berbeda dengan dirinya. Ia mengalahkan peperangan, keserakahan diri, ego dan perbedaan agama. Ia membuka mata selebar-lebarnya terhadap kasih sayang. Yang ia sebarkan hanya cinta dan kasih sayang. Bernyanyi dan berkembangnya bunga, semuanya ke arah keluar [inside-out direction]. Itulah mengapa orang yang bersyukur, tak lagi memikirkan dirinya sendiri, melainkan orientasinya untuk orang lain [people-centered, team-work centered, company goal centered, public-common centered]. Orang yang banyak memikirkan orang lain, adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. "You are not alone, I am here with you." Begitu pula sebaliknya. Oleh karenanya, orang yang paling menderita dan sial hidupnya adalah yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Inilah dimensi cinta dari bersyukur. Bersyukur itu benar-benar mendamaikan. So happy, isn't it ?
3. Bersyukur itu melepaskan, tapi bukan untung.
"Saking besar rasa syukurnya, sampai ia terasa ringan dan melayang."
"Bersyukur adalah proses mental yang bernama kesadaran, bukan pikiran. Karena pikiran cenderung menganalisa dan membanding-bandingkan."
Apakah bersyukur itu proses vertical atau horizontal? Ia mewakili kata kerja, sadar, menyadari, terima kasih, mengungkapkan, menyentuh dan menerima. Ia hanya mau menyentuh hatinya Tuhan secara lurus ke atas. Ia urusannya manusia dengan Tuhannya, tak ada hubungannya dengan orang lain. Urusan dengan orang lain atau berurusan dengan orang lain adalah proses horizontal. Ia tak membandingkan dirinya sendiri dengan kemalangan, kesialan dan kegagalan orang lain. Karena bersyukur yang seperti ini, tidak genuine, tidak sejati. Contoh: Selagi nyetir BMW barunya, "Waduh bersyukur, saya tak lagi seperti pengemis di lampu merah yang minta-minta dan gembel itu, padahal dulu saya bagian dari itu.... Wah bersyukur, rumah saya tak kebanjiran, lihat tuh yang di Kelapa Gading, Pluit dan Jatinegara, saban tahun langganan..! Duh, bersyukur banget, anak cewek gue gak hamil kecelakaan, kayak anak tetangga gue...amit-amit.. nyusahin orang tua, bikin malu sekampung...huhuhuhu..!! Tapi, hasil dari ungkapan syukur yang genuine, akan berdampak horizontal, yaitu manfaat, makna dan arti positif bagi sekeliling dan bagi dunia. Contoh yang demikian, banyak kita alami di sekitar kita, bukan?
Apa bahaya dari membanding-bandingkan secara horizontal? Ia akan selalu saja terus-terusan merasa kurang, tak pernah merasa cukup. Not-enough mindset, bukan abundance mindset. Ia akan sulit bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, karena selalu merasa kurang dibandingkan dengan orang lain. "Kenapa sih kok begini-begini aja terus hidup gue, gak kayak tetangga gue itu...berubah melangit ? Kenapa ia bisa punya Fortuner putih, aku hanya Avanza hitam...?" "Kenapa istrinya bisa 2, sedangkan aku hanya 1 itu-itu aja..?" "Kenapa ia bisa jadi pejabat, sedangkan aku hanya staf biasa..?" "Kenapa ia selalu beruntung, sedangkan aku selalu sial dan kalah...?" "Cucian deh loe," kata ABG Jakarta.
Ia selalu memikirkan apa yang tak ia miliki, lupa dengan apa yang telah ditangan. Karena ia mengejar kesuksesan orang lain yang lebih tinggi. Inilah bahayanya dari membanding-bandingkan, lupa mensyukuri. Selain itu ia akan menumpukkan iri-dengki, ketidak-ikhlasan dan mental kekurangan dalam batinnya. Lama-kelamaan, berkarat dan lebih sulit dibersihkan lagi.
Mengapa bersyukur juga bukan untung? Karena untung [dan bukan untung] juga proses membandingkan. "Untung hanya motor yang hilang, bukan mobil, untung hanya mobil yang terbakar, bukan nyawa, untung hanya 1 anak yang DO, bukan semuanya, untung hanya Rp 5 juta yang ketipu, bukan Rp 100 juta, untung hanya dihukum 4 tahun, bukan 10 tahun...! dst " Inilah bersyukur ritual, sesaat, tidak mendalam, tidak membekas, apalagi melepaskan.
Bersyukur yang benar ialah berterima kasih, Alhamdulillah, Puji Tuhan, Thanks God, jika motor hilang, mobil terbakar, 1 anak DO, tertipu Rp 5 juta, dihukum 4 tahun, dst. Ia mampu melepaskan yang dialami saat ini, tanpa perlu membandingkan dengan kerugian yang lebih besar. Penghiburan seperti ini kamuflase sesaat.
Bersyukur yang sejati seperti apa? Bersyukur adalah kesadaran mengingat segala pemeliharaan Tuhan dari sejak kita lahir hingga hari ini. Stop di hari ini, bukan esok hari, karena esok hari, belum milik kita. Saking banyaknya, jiwa sampai tak mampu lagi menghitung semua nikmat dan kebaikan Ilahi, bukan? Karena kesadaran itu "melampaui" pikiran [akal, logika] matematika. Kebaikan Ilahi itu tak terbatas dan tak terselami, hanya kesadaran yang dapat menjangkaunya. Luar biasanya Tuhan, amazing grace!
Begitu hati mau menyadari, mau menerima dan mau berterima kasih saja kepada Yang Diatas, proses ajaib segera terjadi. Rasakan saja, tak usah dipaksakan! Emosi jiwa segera disegarkan, diperbaharui, distabilkan dan disapa lembut oleh ketenangan dan kedamaian batin. Beban berat, tekanan pekerjaan, stress mental, ketakutan masa depan, kekhawatiran akan gagal, akan susah, kepenatan hidup, himpitan ekonomi, semuanya itu terasa dilepaskan, plong, lega dan tenang begitu saja. Entah siapa yang bekerja?
Batin dan jiwa terasa ringan dan segar. Fantastic peaceful life. Ia benar-benar melepaskan. Ia mencerahkan, membukakan, menerangi batin. Yang tertutup rapat bertahun-tahun, tiba-tiba segera terlepas, terpental dan tak kembali lagi. Dan ajaibnya, apa yang jiwa lihat berikutnya adalah kaca-kaca bening Sorga yang indah. Bening sebening kaca yang kawin dengan embun jernih, sulit diucapkan. Batin seolah beristirahat, telah lepas dan telah menemui keteduhan yang dalam. Dalam, dalam, dalam, tenang, tenang, tenang, sejuk, sejuk, sejuk ! Biarkan ia tertidur lunglai. Inilah dimensi kesadaran dari bersyukur.
Setelah bangun, raga yang keriput dan kaku, menjadi lebih cantik, lebih cerah, lebih segar alami dan lebih percaya diri. Tubuh yang cantik keluar dari jiwa yang sehat dan bahagia.
Nantikan 5 Latihan kesadarn bersyukur yang membuka jendela bahagia yang lebih lebar. Gbu
Langganan:
Komentar (Atom)
